x

HARAPAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

Mātāpitu upaṭṭhānaṁ, puttadārassa saṅgaho,
anākulā ca kammantā, etammaṅgalamuttamaṁ`ti.
Membantu ayah dan ibu, menunjang anak dan istri,
dan bekerja dengan sungguh-sungguh, itulah berkah utama.

    DOWNLOAD AUDIO

      Dalam agama Buddha, masyarakat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah sebagai Gharāvāsa atau umat Buddha perumah tangga yang menjalankan lima latihan moralitas (pañcasīla Buddhis) atau delapan latihan moralitas (aṭṭhaṅgasīla). Kelompok kedua adalah sebagai Pabbajita yaitu umat Buddha yang menjalani kehidupan sebagai petapa atau samaṇa, hidup selibat. Bagi para sāmaṇera mempraktikkan sepuluh pokok latihan moralitas disertai dengan peraturan tambahan, sebagai bhikkhu menjalankan dua ratus dua puluh tujuh sīla atau sering disebut juga pāṭimokkha sīla.

    Menjadi perumah tangga atau menjadi seorang petapa adalah pilihan hidup berdasarkan kecocokan masing-masing. Karena dalam agama Buddha tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk menjadi perumah tangga memiliki pasangan hidup (menikah) atau menjadi Pabbajita. Bahkan ada pula yang tidak menikah dan tidak menjadi Pabbajita, menjalani hidup menyendiri sebagai perumah tangga. Karena sebagai umat Buddha memiliki hak masing-masing dalam memilih cara hidup. Apa pun cara hidup yang dipilih pada intinya sebagai perumah tangga atau sebagai Pabbajita tujuannya adalah hidup bahagia. Menjadi Pabbajita (bhikkhu atau sāmaṇera) juga tidak ada kontrak ataupun sumpah yang diambil untuk menjalani seumur hidup. Tetapi dalam hal ini para bhikkhu atau sāmaṇera hanyalah sedang latihan dengan memiliki tekad (adhiṭṭhāna) untuk tujuan pencapaian kesucian.

     Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang kehidupan sebagai perumah tangga.

     Ketika seseorang memilih menjadi perumah tangga dan membangun kehidupan berkeluarga yang bahagia. Sebagian besar dari mereka merasa belum bahagia hanya dengan hidup sebagai sepasang suami istri. Ada hal yang belum lengkap bila satu hal ini belum dimiliki yaitu jika belum memiliki buah hati atau anak.

     Meskipun dalam ikrar perkawinan secara agama Buddha tidak ada keterangan menyebutkan bahwa pasangan hidup harus bisa memiliki anak. Karena tujuan dalam pernikahan umumnya hanyalah untuk mencari kebahagiaan dengan saling memberikan cinta dan kasih sayang satu sama lain. Jadi memiliki buah hati atau anak bukanlah kewajiban maupun keharusan. Namun dalam hal ini hanya sebagai konsekuensi dari pernikahan adalah memiliki anak, sehingga kalau pasangan hidup tidak bisa memiliki anak tidak ada perpisahan atau perceraian.

     Sebagai sepasang suami istri saat sudah memilki buah hati, menjadi hal yang wajar bahwa mereka mendambakan, mengharapkan memiliki buah hati yang baik, berbakti kepada orangtua, sehat jasmani dan batin.

     Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok lima, Sutta ke-39, Putta Sutta, bagian dari Sumana Vagga, Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu tentang lima harapan yang diinginkan oleh seorang ibu dan ayah bahwa seorang putra lahir dalam keluarga mereka. Pernyataan Sang Buddha dalam hal ini sesungguhnya hanya mengacu pada makna anak saja secara luas, bukan perbedaan jenis kelamin.

     Para bhikkhu, dengan mempertimbangkan lima prospek, ibu dan ayah menginginkan seorang putra terlahir dalam keluarga mereka. Apakah lima ini? 
1.Setelah disokong oleh kita, ia akan menyokong kita
      Inilah harapan orangtua yang pertama kepada anaknya yang telah dilahirkan, dirawat dibesarkan dan diberi pendidikan. Maka saat anaknya dewasa, orangtua memiliki harapan akan disokong kehidupannya terlebih saat sudah menginjak manula, tua renta, dan tidak bisa mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian sebagai seorang anak yang berbakti hendaknya mempraktikkan kataññu-katavedī yaitu menyadari pertolongan yang diberikan pada dirinya, merasa berterima kasih kepada orangtua yang merawat dan membesarkan dirinya. Maka dari itu, seyogyanya sebagai anak mau menyokong kehidupan orangtua, mencukupi kebutuhan orangtua, jika sakit mengajaknya berobat ke dokter serta membantunya untuk minum obat kalau tidak bisa meminumnya sendiri. Selain disokong dan dirawat, orangtua juga butuh ditemani oleh anaknya maupun cucunya, hal ini yang menjadi salah satu hiburan bagi orangtua adalah dekat dengan anak atau cucunya. Hal penting lainnnya yaitu seorang anak seyogyanya memberikan tempat tinggal yang layak dan tidak menempatkannya di panti jompo. Siapa pun yang tidak menyokong ayah atau ibu yang sudah tua dan lemah padahal dia hidup dalam kecukupan, dialah yang disebut manusia sampah (Vasala Sutta, Sutta Nipāta).

2.Ia akan melakukan pekerjaan untuk kita
     Harapan orangtua yang kedua kepada anaknya adalah ketika orangtua sedang membutuhkan bantuan untuk melakukan suatu pekerjaan. Seorang anak diharapkan bisa membantu orangtua semampunya. Karena orangtua yang sudah memiliki usia tidak lagi muda akan memiliki batasan kekuatan sehingga tidak mampu melakukan pekerjaannya sendiri. Meski orangtua masih paruh baya terkadang juga butuh bantuan anaknya untuk membantu pekerjaannya yang mungkin tidak sedikit, sehingga bisa meringankan pekerjaan orangtua. Minimal bagi seorang anak bisa membantu bersih-bersih rumah atau kamar sendiri, cuci baju sendiri jika tidak memiliki pembantu rumah tangga supaya dapat meringankan pekerjaan seorang ibu.

3.Silsilah keluarga kita akan berlanjut
      Harapan orangtua yang ketiga adalah silsilah dari garis keturunan mereka akan berlanjut. Hal ini yang masih dilakukan turun-temurun di keluarga kerajaan (katya) atau kaum brahmana seperti di zaman Sang Buddha. Seperti halnya tradisi di dalam orang-orang Tionghoa, di mana mereka tetap mempertahankan marga mereka. Selain itu, makna lain dari menjaga silsilah adalah menjaga nama baik dan kehormatan keluarga yang sudah tertanam di keluarga tersebut. Maka sebagai anak seyogyanya menjaga cara berpikir, sehingga tidak sampai berucap dan bertindak yang dapat mencoreng nama baik dan kehormatan keluarga akibat ucapan dan perbuatan anaknya yang salah. Karena umumnya ketika seorang anak melakukan hal yang dapat mencoreng nama baik keluarga, di situ akan membawa dampak bagi nama baik dan kehormatan orangtua.

4.Ia akan mengurus warisan kita
       Harapan orangtua yang keempat kepada anaknya adalah ketika warisan telah diberikan maka anak bisa menjaganya supaya tidak cepat habis. Harta warisan dari orangtua seharusnya bukan untuk dihambur-hamburkan atau untuk berfoya-foya. Syukur-syukur se-bagai seorang anak bisa mengembangkan harta warisan yang telah diberikan dengan cara menggunakan harta warisan sebagai modal, ini yang juga diharapkan orangtua. Namun demikian harus menggunakan pertimbangan yang matang sehingga tidak malah menjadikan kemerosotan harta warisan yang telah diberikan.  Selain itu, hal yang sangat penting lainnya adalah ketika harta warisan telah diberikan tidak dijadikan rebutan dengan saudara sendiri yang dapat menimbulkan cek-cok, penganiayaan bahkan pembunuhan. Karena tidak sedikit keributan dan pembunuhan terjadi karena rebutan warisan. Ada baiknya dari awal orangtua sudah membaginya secara merata tanpa membedakan jenis kelamin atau keistimewaan dari salah seorang anaknya. Karena semua anak pada dasarnya memiliki kedudukan yang sama yang dilahirkan dari ibu yang sama. Jika dengan ibu yang berbeda maka keluarga bisa membicarakan pembagian warisan secara baik-baik tanpa ada yang merasa dirugikan.

5.Ketika kita meninggal dunia, ia akan memberikan persembahan mewakili kita
      Harapan orangtua yang terakhir adalah ketika orangtua telah meninggal, maka seorang anak akan melakukan penghormatan, mengenang orangtua saat hari kematiannya dan mendoakannya, jika dalam agama Buddha yaitu dengan cara melakukan pelimpahan jasa. Selain melakukan jasa kebajikan untuk orangtua dengan melakukan pelimpahan jasa, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua yang telah meninggal yaitu dengan cara mengikuti kebiasaan perilaku-perilaku baik orangtua yang biasa dilakukan semasa hidup dan mengikuti nasihat orangtua semasa hidup.

      Jika dilihat dalam Sigālaka Sutta, Dīgha Nikāya lima prospek atau harapan yang telah disebutkan tersebut adalah bentuk kewajiban anak terhadap orangtua yang dilambangkan sebagai arah timur.

     Dengan mempertimbangkan kelima prospek itu, ibu dan ayah menginginkan seorang putra terlahir dalam keluarga mereka. Dengan mempertimbangkan lima prospek, orang-orang bijaksana menginginkan seorang putra.

     Oleh karena itu orang-orang baik, yang bersyukur dan menghargai, menyokong ibu dan ayah mereka, mengingat bagaimana mereka membantunya di masa lalu, orang-orang itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mereka seperti yang mereka lakukan kepadanya di masa lalu. Dengan mengikuti nasihat mereka, memelihara mereka yang mengasuhnya, melanjutkan silsilah keluarga, memiliki keyakinan, bermoral; putra ini layak dipuji.

     Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Referensi;
-Aṅguttara Nikāya, DhammaCitta Press 2015.
-Petikan Sutta Nipāta, Vihāra Bodhivaṁsa 2003, 
-Petikan Dhamma Vibhāga, Vidyāsenā Vihara Vidyāloka, 2013.
-Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, 2005.

  

Oleh: Bhikkhu Uggasilo
Minggu, 22 September 2019

Dibaca : 3247 kali