x

Kebahagiaan Yang Lebih Tinggi

Mattāsukhapariccāgā, passe ce vipulaṁ sukhaṁ
Caje mattāsukhaṁ dhῑro, sampasaṁvipulaṁ sukhaṁ

Apabila dengan melepaskan kebahagiaan yang lebih kecil
seseorang dapat memperoleh kebahagiaan yang lebih besar,
maka hendaknya orang bijaksana melepaskan kebahagiaan yang kecil itu
guna memperoleh kebahagiaan yang lebih besar.
(Dhammapada 290)

    DOWNLOAD AUDIO

Semua makhluk yang hidup dalam dunia ini memiliki satu keinginan yang sama yaitu ingin bahagia hidupnya. Hanya saja tingkatan kebahagiaan setiap makhluk tidaklah sama. Ada yang bahagia apabila dia mempunyai banyak harta benda karena dengan kekayaan yang dimiliki seseorang dapat mewujudkan keinginan-keinginannya. Sebaliknya ada yang bahagia apabila dalam satu hari ini dia bisa cukup makan. Dalam Aṅguttara Nikāya II. 69 Sang Buddha memberikan penjelasan kepada Hartawan Anathapindika mengenai macam-macam kebahagiaan yang dimiliki perumah tangga.

Ada empat macam kebahagiaan bagi perumah tangga. Kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan karena memiliki kekayaan. Kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan karena bisa menggunakan kekayaan tersebut. Kebahagiaan yang ketiga adalah kebahagiaan karena tidak memiliki hutang. Kebahagiaan yang terakhir adalah kebahagiaan karena tidak melakukan kejahatan. Empat hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi bahagia.

Kebahagiaan pertama adalah kebahagiaan yang disebabkan karena kita memiliki kekayaan. Kekayaan dapat menimbulkan kebahagiaan apabila kekayaan tersebut diperoleh dari usaha sendiri dan dengan cara yang benar. Benar apabila sesuatu yang dilakukan tidak merugikan makhluk lain. Apabila kedua hal itu terpenuhi barulah ada kepuasan. Rasa puas inilah yang menyebabkan munculnya kebahagiaan.

Walaupun kita memiliki banyak kekayaan tetapi jika tidak memiliki kepuasan maka tidak akan ada kebahagiaan memiliki. Inilah kebahagiaan yang pertama, bahagia karena memiliki.

Kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan yang disebabkan karena bisa menggunakan kekayaan. Harta benda yang dimiliki bisa menimbulkan kebahagiaan tetapi juga dapat menimbulkan penderitaan, apabila kita hanya mengumpulkan tanpa pernah menggunakannya atau dalam penggunaan kekayaan tersebut tidak ada kebijaksanaan. Jadi, kebahagiaan yang kedua ini muncul apabila kita bisa menggunakan kekayaan dengan bijaksana, digunakan sesuai kebutuhan dan digunakan untuk kebajikan. Misalnya, dalam satu bulan penghasilan diperoleh sebesar satu juta rupiah. Kemudian untuk bayar tagihan listrik, air, dan telepon sebesar dua ratus ribu, masih ada sisa delapan ratus ribu. empat ratus ribu untuk makan dan keperluan lain-lain. dua ratus ribu disimpan untuk modal atau untuk berjaga-jaga apabila ada keperluan mendadak. Sisanya digunakan untuk berbuat baik. Inilah kebahagiaan yang kedua, bahagia karena menggunakan.

Kebahagiaan ketiga adalah kebahagiaan karena tidak memiliki hutang. Ada orang yang memiliki banyak kekayaan tetapi hasil dari pinjaman, maka mereka yang masih memiliki hutang kepada orang lain tidak akan bisa tidur dengan tenang. Baru mau tidur sudah ada telepon masuk menanyakan pembayaran hutangnya atau ketika ada seseorang datang bertamu dia menjadi takut apabila ditagih hutangnya. Orang seperti ini tidak pernah bahagia hidupnya. Hidupnya hanya diisi dengan kegelisahan, hidupnya tidak pernah tenang. Sebaliknya, ada orang yang hanya memiliki sedikit kekayaan tetapi hidupnya bahagia. Mereka bisa bahagia karena tidak memiliki hutang kepada siapapun. Mereka tidak cemas atau takut apabila ada orang berkunjung ke rumahnya, karena tidak akan ada orang yang datang untuk menagih hutang. Orang seperti inilah yang bahagia hidupnya. Apalagi bila dia memiliki banyak kekayaan dan tidak ada hutang maka hidupnya menjadi lebih bahagia. Inilah kebahagiaan yang ketiga, bahagia karena bebas dari hutang.

Kebahagiaan keempat adalah kebahagiaan karena tidak melakukan kejahatan. Kejahatan yang dilakukan dapat membuat seseorang tidak tenang hidupnya. Dimanapun dia berada tidak ada rasa aman yang menyertainya. Dalam Dhammapada 127 disebutkan bahwa ‘Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.’ Perbuatan jahat apapun yang telah dilakukan pasti akan berbuah penderitaan. Sebaliknya apabila tidak ada kejahatan yang dilakukan maka tidak ada penderitaan. Dia akan merasa aman berada di manapun. Itulah kebahagiaan yang keempat, bahagia karena tidak melakukan kejahatan.

Namun, keempat kebahagiaan tersebut masih dapat menimbulkan penderitaan karena kebahagiaan ini muncul bukan dengan cara melenyapkan kekotoran batin. Apabila kekotoran batin sudah lenyap maka lenyaplah penderitaan dan akan muncul kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan sejati dapat dirasakan ketika  nafsu keinginan, keserakahan, kebencian, kekhawatiran, kegelisahan, kegelapan batin tidak muncul. Menjadi tugas kita untuk melenyapkan atau mengikis kekotoran batin apabila kebahagiaan sejati ingin diperoleh. Sangatlah tidak mungkin apabila kita ingin mewujudkan kebahagiaan yang sejati ketika nafsu keinginan masih sangat besar berkembang dalam batin, dan terlebih lagi bila kita tidak mau mengikisnya sedikit demi sedikit.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu perjuangan keras untuk melawan nafsu keinginan dan mengikis kekotoran batin. Cara untuk mengikis kekotoran batin adalah dengan mengembangkan dana, sῑla, dan bhāvanā. Dana atau berdana mempunyai pengertian memberi. Apabila berdana dengan bertujuan untuk dapat mengikis kekotoran batin, maka berdana bukan untuk mendapat tetapi berdana untuk melepas. 
Kebiasaan orang pada umumnya ketika memberi masih mengharapkan mendapat sesuatu sebagai imbalannya, baik yang disadari maupun yang tak disadarinya. Ketika seseorang mau berlatih memberi untuk melepas, maka dia sudah berusaha sedikit demi sedikit mengikis nafsu keinginan dan kekotoran batinnya walaupun demikian tetap saja masih ada nafsu keinginan yang halus karena kekotoran batinnya masih belum habis secara sempurna. Ini adalah latihan dasar, yaitu berlatih melepas.

Latihan berikutnya adalah latihan pengendalian diri. Latihan pengendalian diri ini dilakukan dengan berpegang pada suatu pedoman dasar yaitu Pañcasῑla Buddhis. Untuk dapat mengembangkan sῑla dengan baik dibutuhkan adanya kesadaran. Dengan adanya kesadaran maka akan muncul hiri dan ottapa. Hiri-ottapa adalah malu melakukan suatu perbuatan buruk dan takut akan akibat dari perbuatan buruk. Setelah hiri-ottapa dimiliki akan ada Pengendalian diri. Jadi tanpa adanya kesadaran maka Sila akan dilanggar, karena dia tidak malu untuk melakukan kejahatan dan dia tidak takut akan akibat dari kejahatan yang telah diperbuatnya. Apabila sudah demikian akan sulit muncul pengendalian dirinya.

Oleh karena itu, untuk mengembangkan sῑla atau latihan  pengendalian diri dibutuhkan kesadaran sebagai landasan dasarnya. Dengan mengembangkan sῑla berarti juga menguatkan kesadaran kita, yang nantinya akan sangat berpengaruh pada pengembangan batin atau bhāvanā. Bhāvanā merupakan latihan lanjutan, melanjutkan latihan-latihan yang sebelumnya. Dalam praktik bhāvanā inilah kita dapat mengikis kekotoran batin yang lebih halus lagi.

bhāvanā dipraktikkan dengan cara menyadari setiap gerak-gerik jasmani, mengamat-amati keadaan batin, mengamati berprosesnya perasaan, mengamati muncul lenyapnya kekotoran-kekotoran batin. Jadi dalam praktiknya kita cukup hanya mengamati segala sesuatu yang muncul, tanpa memberikan penilaian apapun terhadap apa yang dilakukan. Yang diamat-amati itupun hanyalah rangkaian prosesnya saja, yaitu muncul, berkembang, dan lenyap. Dengan cara ini maka kekotoran batin yang muncul tidak akan berkembang karena kemunculannya tidak kita ikuti, sebaliknya kita lepaskan, kita biarkan kemunculannya berproses sebagaimana adanya sampai akhirnya lenyap dengan sendirinya.

Ketiga bentuk latihan itulah yang bisa membawa kita pada Kebahagiaan Sejati. Jadi kebahagiaan sejati dapat diwujudkan bila kita mau berusaha, dengan diawali latihan melepas, latihan pengendalian diri, kemudian dilanjutkan dengan latihan pengamatan.
Berlatih, berlatih, dan teruslah berlatih sampai akhirnya kebahagiaan yang sejati dapat diperoleh.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā

Sumber:
-    Dhammapada 127, Dhammapada 290
-    Aṅguttara Nikāya  II. 69, Aṅguttara Nikāya  IV.241

Dibaca : 907 kali