x

Berpikir Sehat

Hiduplah tanpa ketamakan dan irihati. Isilah pikiranmu dengan kebajikan. 
Milikilah perhatian murni dan pikiran yang terpusat, 
batin yang teguh dan terkosentrasi.
(Aṅguttara Nikāya II.29)

    DOWNLOAD AUDIO

Suatu hari ada yang bertanya, ”Kalau berpikir baik atau buruk kepada orang lain, apa sudah dapat disebut kamma?” Pertanyaan tersebut wajar diajukan oleh orang tersebut karena memang membutuhkan jawaban yang jelas. Kamma adalah cetana (kehendak) melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani, baik itu yang sifatnya positif atau negatif.

Oleh karena pikiran merupakan salah satu saluran dalam melakukan perbuatan, maka seseorang harus hati-hati dalam berpikir. Bahkan dalam Dhammapada bagian Yamaka Vagga, dijelaskan bahwa pikiran itu adalah pelopor, pendukung, dan pemimpin. Karena pikiran adalah pemimpin, maka pikiran mendahului ucapan dan perbuatan jasmani.

Kalau seseorang berpikir baik, maka ucapan dan perbuatannya menjadi baik. Sebaliknya, jika pikiran itu buruk, maka ucapan dan perbuatan jasmaninya juga buruk. Oleh karena pikiran merupakan pendahulu maka kita harus menjaga pikiran. Jangan sampai pikiran itu tidak terkendali dan membawa kita pada keterpurukan.

Ada dua macam penyakit dalam kehidupan ini. Penyakit yang pertama adalah penyakit yang kebanyakan orang tahu yaitu penyakit jasmani. Penyakit yang lain adalah penyakit yang banyak dilalaikan banyak orang yaitu penyakit pikiran. Penyakit pikiran sesungguhnya sangat berbahaya. Tetapi manusia terkadang terlena dan menganggap tidak ada penyakit pikiran tersebut.

Mengapa pikiran itu tidak sehat dan terbelenggu oleh penyakit? Seperti halnya ketika kita mempunyai mobil. Kalau mobil itu tidak dirawat dan dibiarkan begitu saja, maka mobil itu akan rusak secara perlahan dan akhirnya tidak dapat dipakai. Demikian pula dengan pikiran. Pikiran jika tidak dirawat dengan baik, maka pikiran itu menjadi sakit dan akan membawa seseorang pada keterpurukan.

Ada tiga hal yang menyebabkan pikiran tidak sehat yaitu:
1.    Kāma-saṅkappa: pemikiran yang terbelenggu oleh nafsu indera.
2.    Byāpāda-saṅkappa: pemikiran yang terbelenggu oleh rasa dendam atau pikiran yang penuh kemauan jahat.
3.    Vihiṁsā-saṅkappa: pemikiran yang berkenaan dengan kekejaman/kekerasan.

Ketiga hal tersebut di atas akan terus membelenggu pikiran manusia dan akan membuat manusia terus terpuruk. Nafsu keinginan, kemauan jahat, dan kekerasan yang membelenggu manusia akan membuat moralitas manusia menjadi merosot. Kehidupan ini akan menjadi kacau karena manusia bertindak semena-mena dan tidak menghiraukan orang lain, bahkan makhluk lainnya.

Untuk itu pikiran harus dirawat dan dilatih agar pikiran menjadi sehat. Pikiran yang sehat adalah pikiran yang selalu mengarah kepada kebaikan. Moralitas manusia akan meningkat dan menjadi lebih baik karena pikiran sehat. Mereka akan selalu mengutamakan kebajikan dan mendorong dirinya untuk selalu berbuat baik.

Pikiran yang sehat adalah pikiran bebas dari hal-hal yang negatif. Pikiran yang sehat adalah pikiran yang terdiri dari tiga hal:
1.    Nekkhamma- saṅkappa: pikiran yang terbebas dari nafsu keinginan.
2.    Abyāpāda-saṅkappa: pikiran yang bebas dari kemauan jahat.
3.    Avihiṁsā-saṅkappa: pikiran yang bebas dari kekejaman/kekerasan.

Pikiran yang didorong oleh tiga hal di atas akan membuat pikiran menjadi sehat. Pikiran yang sehat itu adalah pikiran yang terbebas dari nafsu keinginan, kemauan jahat dan kekejaman. Dengan berpikir sehat, moralitas manusia juga menjadi baik dan kehidupan manusia juga akan tertata dengan baik. Untuk membuat pikiran itu selalu sehat memang tidak mudah karena perlu perawatan dan latihan yang terus-menerus. Dibutuhkan tekad, semangat, disiplin, sabar dalam usaha menyehatkan pikiran. Tanpa itu semua, sangat sulit mendapatkan pikiran yang sehat. Sekalipun pikiran itu lembut dan sulit dikendalikan, tetapi jika dilatih dengan baik, maka pikiran kita akan menjadi lebih baik dan akan sampai pada pikiran yang sehat dan terbebas dari kekotoran batin. Sangatlah baik untuk melatih pikiran, yang sangat sukar dikendalikan, yang berkecenderungan melekat kepada apa yang diinginkan. ”Sangatlah baik memiliki pikiran yang terlatih dengan baik, karena pikiran yang terlatih dengan baik akan membawa kebahagiaan.” (Dhammapada 35).

Dibaca : 1212 kali