x

Meningkatkan Standar Hidup

Tahu malu adalah relnya, perhatian murni adalah penyambungnya; Dhamma adalah pengemudinya, dan pandangan benar berlari di depannya.
(Saṁyutta Nikāya 1.33)

    DOWNLOAD AUDIO

Siapakah manusia? Banyak ragam jawaban yang akan mengemuka. Ada yang menjawab bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, ada juga yang menjawab bahwa manusia berasal dari benda-benda gaib, dan banyak lagi jawaban yang ada di masyarakat sesuai cara berpikir mereka. Sebenarnya, yang dipertanyakan di sini bukan asal-usul manusia, tetapi lebih kepada arti manusia secara harfiah.

Manusia berasal dari dua suku kata yaitu Mano dan Usa. Mano artinya batin, dan usa artinya luhur. Jadi, manusia adalah makhluk yang luhur. Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang mempunyai perilaku yang luhur dan berbeda dengan binatang. Sudah seluhur itukah manusia?

Sungguh beruntung terlahir sebagai manusia. Kenapa beruntung? Karena di alam manusia ini kita bisa mengenali potensi dan juga meningkatkan potensi. Ada dua potensi yang dikembangkan, yaitu potensi duniawi yang akan menghantarkan pada kebahagiaan duniawi dan potensi spiritual yang akan menghantarkan kita kepada kebahagiaan batiniah.

Untuk mencapai semua itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Manusia harus bekerja keras untuk meraihnya. Manusia tidak bisa hanya berpangku tangan mengharapkan kebahagiaan itu datang. Kesungguhan, keuletan, semangat, dan kesabaran adalah faktor penting untuk sebuah perjuangan.

Sungguh ironis, jika manusia kemudian jatuh dan berada pada keterpurukan moral dan mental. Manusia lupa akan tujuan utama dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi. Kenapa manusia melakukan tindakan-tindakan seperti itu? Hal itu terjadi karena manusia gagal dalam menegakkan moral dan mengembangkan mental positif. Kegagalan dalam mengembangkan moral dan mental membuat manusia menyimpang dalam berperilaku. Manusia seharusnya berperilaku luhur, tetapi akhirnya jatuh pada perilaku yang tidak luhur.

Pengendalian diri yang rendah membuat manusia kian tidak terkendali. Manusia menjadi anarkis dan semakin buas. Dorongan kebencian membutakan mereka. Apapun dilakukan hanya karena nafsu keinginan. Perilaku seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kehidupan akan menjadi tidak aman dan jauh dari kebahagiaan.

Untuk itu, harus ada usaha untuk menanggulangi perilaku yang tidak sesuai dengan Dhamma. Manusia harus mendekatkan diri pada kebenaran. Ketahanan mental perlu ditingkatkan agar manusia menjadi sabar, ulet, dan disiplin. Jika kesungguhan, keuletan, kedisiplinan, dan kesabaran berkembang, maka ketahanan mental akan menjadi semakin kuat dan mantap, serta setiap gejolak dalam kehidupan ini setidak-tidaknya bisa dihadapi dengan bijak dan tidak berlarut-larut dalam permasalahan kehidupan.

Manusia harus menumbuhkan budaya malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat. Oleh karena itu, sila perlu ditegakkan. Sila harus dilatih dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sila adalah alat untuk mengembangkan pengendalian diri. Dengan melatih sila, perilaku manusia akan menjadi lebih baik. Sila adalah pagar, dengan sila yang kuat, maka manusia tidak mudah jatuh pada keterpurukan moral.

Pengembangan moral dan mental sangat bermanfaat untuk kehidupan ini. Moralitas yang ditegakkan akan membuat kehidupan ini menjadi lebih aman dan semakin dekat dengan kebahagiaan. Manusia akan menjadi manusia yang beradab dan bermartabat. Bukan hanya orang yang menjalankan sila yang mendapatkan hasil, tetapi orang lain dan lingkungan juga akan mendapatkan hasilnya.

Demikian juga dengan pengembangan mental. Mental yang kuat dan mantap akan menghasilkan manusia bijak, manusia yang tidak emosional dalam menghadapi permasalahan kehidupan ini. Dengan mental positif yang telah berkembang, secara tidak langsung manusia sudah mengubah cara berpikirnya dalam melihat kehidupan ini. Manusia akan lebih obyektif memandang kehidupan ini.

Moral dan mental adalah standar kehidupan ini, walaupun untuk masa sekarang sudah menjadi barang yang langka dan mahal. Banyak orang yang mengukur standar kehidupan dengan materi. Orang seperti itu berada dalam keadaan bahaya, dan suatu ketika akan mengalami ketegangan jika berhadapan dengan perubahan. Kita harus ingat bahwa segala sesuatu yang berkondisi akan berubah. Marilah kita tingkatkan standar kehidupan ini dengan mengembangkan moral dan mental. Dhamma adalah alat untuk mengembangkan moral dan mental. Dengan praktik Dhamma kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan.

Dibaca : 2993 kali