x

Pentingnya Dekat Dengan Dhamma

Phuṭṭhassa lokadhammehi cittaṁ yassa na kampati, asokaṁ virajaṁ khemaṁ etammaṅgalamuttamaṁ

Meski digoda oleh hal-hal duniawi namun batin tak tergoyahkan. Tiada susah, penuh damai, tak tergoyahkan, itulah berkah utama
(Maṅgala sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Pengantar

1. Ada seorang anak kecil sedang menangis dalam gendongan ibunya. Rupanya ia menangis karena tidak dibelikan mainan yang diinginkan. Merasa bosan menggendong anaknya yang menangis sedari tadi, akhirnya sang Ibu memenuhi keinginan anaknya. Segera anak kecil itu berhenti menangis dan berjingkrak-jingkrak kegirangan sebagai ekspresi kegembiraannya. Namun, tidak lama kemudian tiba-tiba sekelompok anak-anak melewati tempat ia bermain dan mainan kesayangan yang baru diperoleh terinjak oleh rombongan anak-anak tersebut. Melihat mainan kesayangannya hancur terinjak ia menangis secara amat histeris dan mengadu kepada ibunya. Kegembiraannya lenyap terusir oleh kesedihan yang bercampur kekesalan, frustasi dan sejenisnya.

2. Dalam kasus lain ada seorang pemudi yang punya kebiasaan berbeda. Ia selalu mengawali dan mengakhiri hari-harinya dengan do’a yang isinya adalah segudang keluhan. Rupanya ia susah mendapatkan jodoh. Dalam keadaan hampir frustasi akhirnya ia mendapatkan jodoh juga. Keluhan berganti menjadi kebahagiaan. Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan berumah-tangga, pra-hara melanda mereka. Rupanya sang suami adalah seorang laki-laki playboy yang suka berganti-ganti pasangan, dan celakanya ia diceraikan oleh sang suami. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, ratap tangis dan keputusasaan yang berlarut-larut. Mengeluh lagi dan mengeluh lagi.

3. Suatu ketika ada seorang bapak setengah baya datang kepada saya. Dengan wajah yang kusut, ia ingin berkonsultasi untuk segera bisa keluar dari masalah besar yang sedang dihadapinya. Rupanya si bapak itu stres ditipu oleh mitra bisnisnya yang lari ke luar negeri. Bapak itu ingin mengejar sang penipu ke luar negeri namun tidak tahu tempat tinggalnya. Lalu dia bertanya kepada saya ”Bhante, dimanakah orang itu berada saat ini?”

Ironisnya, ketika mengalami ”Penyakit mental” di atas, hampir semua orang memandang bahwa segala persoalan kehidupan telah ditentukan dan dijatuhkan dari atas langit, atau dikirim oleh tetangga, atau ada makhluk jahat yang mencoba dan sebagainya. Sebagai akibatnya manusia terbawa oleh pola pikir keliru yang tidak mampu memandang sifat hidup dan kehidupan sebagaimana adanya dengan pikiran yang jernih. Mengapa? Karena matanya terjangkit penyakit ”katarak” yang sangat parah.

Pokok Bahasan

Perubahan-perubahan Kehidupan (Aṭṭha Lokadhamma)

”Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, membuat dunia terus berputar, dan dunia memutar delapan kondisi dunia ini. Apakah yang delapan itu?”

Labha – alabha = perolehan (untung) dan kehilangan (rugi),

Yasa – ayasa = ketenaran dan nama buruk,

Pasaṁsa – ninda = pujian dan celaan,

Sukha – dukkha = kesenangan dan kesusahan.

”Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, dialami oleh manusia yang tidak belajar, dan dialami juga oleh siswa mulia yang belajar. Sekarang, apakah kelainan, perbedaan, ketidaksamaan antara siswa mulia yang belajar dan manusia yang tidak belajar?”

”... Ketika manusia yang tidak belajar, O para bhikkhu, memperoleh sesuatu, dia tidak berpikir seperti ini: “perolehan yang datang padaku ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah.” Dia tidak mengetahui itu seperti apa adanya, dan ketika dia kehilangan sesuatu, memperoleh ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, dia tidak berpikir seperti ini: “Semuanya ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah.” Dia tidak mengetahui hal-hal itu seperti apa adanya. Pada orang seperti itu, perolehan dan kehilangan, ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, kesenangan dan penderitaan membuat pikirannya goncang. Ketika perolehan datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami kehilangan dia amat sangat sedih. Ketika ketenaran datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat nama buruk dia amat sangat sedih. Ketika pujian datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat celaan dia amat sedih. Ketika mengalami kesenangan dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami penderitaan dia amat sangat sedih. Karena sangat terlibat di dalam Suka dan tak-Suka, dia tidak akan terbebas dari kelahiran, usia tua dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, kesengsaraan, duka dan keputusasaan; dia tidak akan terbebas dari penderitaan (ketidakbahagiaan), demikian kunyatakan.

(Sumber : Aṅguttara Nikāya, kelompok delapan; hal. 488 – 489)

Penutup

Oleh karena kita butuh kesejukan hati di tengah hamparan padang pasir kehidupan, maka, tidak ada jalan lain selain mendekatkan diri dan berteduh di bawah pohon Dhamma yang begitu rindang nan menyejukkan. Untuk itu kita harus segera melangkahkan kaki setapak demi setapak sekarang juga di jalan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Bagaimana caranya? Ketika delapan kondisi dunia datang kita harus selalu sadar akan sifat yang sesungguhnya yang tidak kekal. Mereka datang singgah sebentar dan kemudian berlalu.

Semoga berkah TIRATANA senantiasa bersama kita semua. Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Dibaca : 44 kali