x

SUDAHKAH KITA BERKUALITAS?

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
“Anupubbena medhāvῑ  Thokaṁ thokaṁ khaṇe khaṇe
Kammāro rajatasseva Nῑddhame malamattano”  
Dengan latihan bertahap Sedikit demi sedikit, dari waktu demi waktu
Hendaknya orang Bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya
Bagaikan pandai perak membersihkan perak yang berkarat
(Dhammapada, Mala Vagga 239)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan sebagai umat Buddha tidak lepas dari yang disebut ajaran-ajaran guru Agung kita Buddha Gotama. Beliau mengajarkan ajaran yang disebut sebagai Dhamma. Di dalam Dhamma inilah yang merupakan pedoman sentral dalam kehidupan siswa-siswa yang berlindung kepada Tiratana. Ajaran yang diajarkan pada mulanya adalah secara lisan, dari mulut ke mulut. Namun belakangan seiring dengan berlalunya zaman ke zaman, dan Sang Buddha juga sudah Parinibbāna (wafat), potensial manusia dalam mengingat semakin menurun. Sejak terlihatnya potensi penurunan untuk bisa mengingat dengan baik ajaran Sang Buddha ini, maka para siswa Beliau yang masih mengharapkan adanya keberlangsungan manfaat dari praktik Dhamma bagi semua makhluk, maka ditulislah pokok-pokok Dhamma di media yang dapat dijadikan media untuk menulis. Tentu media yang pertama kali digunakan bukanlah kertas seperti saat ini, tetapi media yang dapat diperoleh di alam, seperti dedaunan, kulit pohon, dan lain-lain. Kemudian terus berkembang dan terjaga dengan baik oleh para siswa yang memiliki keyakinan terhadap ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha hingga berkembang juga dalam media yang semakin modern. Oleh karena jasa para siswa yang terdahulu maka sampai saat ini kita umat Buddha dapat mempelajari dan mengerti Dhamma ajaran Buddha itu.

Mengenal Dhamma adalah sesuatu yang langka dan merupakan sebuah keberuntungan bagi semua makhluk, mengapa? Karena belum tentu semua makhluk itu dapat bertemu Dhamma, apalagi dapat menembus Dhamma (mencapai Nibbāna). Jangankan menembus, mengenal saja belum tentu semua berkesempatan. Coba kita sejenak melongok ke belakang pada peristiwa di zaman Sang Buddha, banyak sekali makhluk-makhluk yang hidup di sekitar Beliau, mereka bahkan tidak memperoleh manfaat dari Dhamma mulia ini. Mengapa? Karena memang tidak memiliki potensi untuk mengenal Dhamma, meski mereka Hidup di sekitar Guru Agung. Maka, kalau saat ini kita dapat mengenal bahkan mempelajari, syukur-syukur bisa mengerti, apakah itu bukanlah sebuah keberuntungan? Keberuntungan para bapak ibu. Maka keberuntungan yang kita peroleh saat ini janganlah kita sia-siakan. Bagaimana tidak menyia-nyiakannya? Dengan bersemangat dalam belajar dan mempraktikannya. Ibaratkan sese-orang mengetahui peta (petunjuk jalan) yang benar untuk pergi ke suatu tempat yang di sana terdapat hal-hal yang menyenangkan dan memuaskan bagi diri kita, maka sudah  tentu kalau kita yakin pada tujuan yang menggiurkan tersebut dapat dicapai tentu kita akan menelusuri perjalanan tahap demi tahap. Demikian pula dengan Dhamma Sang Buddha ini adalah jalan yang telah ditemukan serta ditelusuri oleh Beliau sendiri serta berhasil membawa pada pembebasan dari penderitaan (senantiasa bahagia). Apabila kita mengharapkan hal yang sedemikian seperti yang dirasakan dan diperoleh oleh Sang Buddha maka ikutilah jalan yang Beliau bagikan secara cuma-cuma ini dengan baik, benar serta sesuai. Oleh karena itu, satu-satunya pedoman bagi kita untuk sesuai adalah dari kitab Suci Tipitaka. Mengapa? Karena dalam Tipitaka inilah semua ajaran Sang Buddha ditulis dan disimpan. Maka, sebagai siswa Sang Buddha sepatutnya mengacu pada Tipitaka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, agar dapat memperoleh manfaat yang sesuai pula dengan yang di tunjukkan oleh Guru Agung. Di dalam Dhamma memuat pedoman-pedoman bagi siswa-siswa yang ingin memperoleh hal yang masing-masing inginkan. Dalam lingkup agama Buddha terdapat 2 macam siswa yaitu siswa yang meninggalkan keduniawian/ Pabbajita (Bhikkhu/Bhikkhuni, Sāmaṇera/Sāmaṇeri) dan Umat awam/perumah tangga (Upāsaka/ Upāsika). Dengan demikian pula dalam mengajar, Sang Buddha akan menyesuaikan dengan siapa yang Beliau beri ajaran. Salah satunya seperti di dalam Aṅguttara Nikāya kelompok lima yang berjudul Candala  Sutta, yang mana ini berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan siswa umat awam/perumah tangga. Dalam sutta tersebut dinyatakan bahwa ada lima kualitas yang mana apabila seorang perumah tangga/ umat awam memilikinya, maka ia disebut orang yang rendah, noda, dan terakhir diantara perumah tangga yang lainnya. Apakah lima kualitas itu, antara lain;
1.Assaddho hoti (Tidak punya keyakinan terhadap Sang Buddha)
2.Dussῑlo hoti (Tidak mempunyai Moral yang baik)
3.Kotuhalamaṅgaliko hoti (Percaya tahayul, bukan hukum kamma)
4.Ito ca bahiddhā dakkhineyya gavesati (Ia mencari orang yang layak menerima persembahan di luar dari sini (Saṅgha) 
5.Tattha ca pubbakāraṁ karoti (Ia melakukan perbuatan berjasa di luar terlebih dahulu, bukan di sini (Saṅgha)

Tetapi apabila memiliki lima kualitas ini, maka seorang umat awam disebut permata, teratai merah, teratai putih di antara umat awam yang lainnya, yaitu;
-Saddho hoti (Punya keyakinan terhadap Sang Buddha)
-Sῑlava hoti (Punya moral baik)
-Akotuhalamaṅgaliko hoti (Tidak percaya tahayul)
-Na Ito ca bahiddhā dakkhineyya gavesati ( Ia tidak mencari orang yang layak menerima jasa di luar dari sini (Saṅgha) 
-Idha ca pubbakāraṁ karoti (Ia melakukan perbua

Dibaca : 404 kali