x

TIGA AKAR KEJAHATAN YANG SANGAT BERBAHAYA

Natthi ragasamo aggi, Natthi dosasamo gaho
Natthi mohasamaṁ jālaṁ, Natthi tanhā samā nadῑ
Tiada api menyamai nafsu ragawi, tiada penerkam menyamai kebencian
Tiada jala menyamai kebodohan, tiada sungai menyamai Tanha

 (Dhammapada 251).

    DOWNLOAD AUDIO

Ketiga akar kejahatan ini sangat berbahaya apabila dikembangkan di dalam diri. Tiga akar kejahatan itu adalah lobha, dosa, dan moha. Semua akar kejahatan ini ada pada setiap manusia, tiga akar kejahatan ini sangat berbahaya sekali pada kehidupan semua makhluk. Jika makhluk-makhluk dikuasai oleh ketiga kejahatan ini, maka akan menderita dalam kehidupan ini dan juga kehidupan yang akan datang, dan akan terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian tanpa henti.

Keserakahan (lobha) sering juga disebut sebagai ketamakan, atau secara mudah diartikan sebagai sifat yang ingin selalu menguasai. Dalam literatur Buddhis, keserakahan (lobha) merupakan salah satu bentuk kekotoran batin yang bersifat laten (anusaya kilesa). Sifat laten yang dimaksud adalah eksistensi atau keberadaan dari kekotoran batin tersebut sulit untuk dideteksi, diamati, atau bahkan dihilangkan. Keserakahan (lobha) jika diamati dan diperhatikan, maka tidak akan dapat ditemui di bagian manapun dari jasmani ataupun batin dalam keadaan terkonsentrasi. Namun, keserakahan ini hanya akan muncul jika bertemu dengan kondisi yang sesuai.

Sebagai contoh, ketika tidak terdapat makanan apapun di meja makan, seseorang pasti tidak akan merasakan adanya keserakahan yang muncul. Namun, berbeda jika di meja makan tersebut terdapat makanan-makanan yang lezat yang merupakan makanan kesukaannya. Ia pasti ingin mengambil lebih banyak, atau bahkan mengambil makanan yang merupakan bagian untuk orang lain. Demikian halnya dengan terjadinya tindak kejahatan yang bisa muncul karena adanya kesempatan. Misalnya, ketika berjalan seseorang tidak memiliki niat untuk mencuri. Namun karena melihat ada sepeda motor yang diparkir di depan rumah tanpa ada yang mengawasi, akhirnya muncul niat untuk mencuri sepeda motor tersebut. Hingga tindakan pencurian tersebut terjadi. Tidak jauh berbeda dengan beberapa orang yang terpilih menjadi pejabat dalam pemerintahan ataupun di suatu perusahaan tertentu. Ketika masih menjadi calon biasanya memberikan janji-janji yang manis, atau bahkan ada yang berjanji untuk menjadi pejabat yang jujur. Namun setelah terpilih, kebanyakan mereka lupa dengan janji mereka untuk melakukan tugasnya dengan jujur. Malah banyak diantaranya yang tertangkap basah melakukan korupsi. Yang sering menjadi pertanyaan adalah “mengapa bisa terjadi seperti itu?”, jawabannya adalah karena keserakahan (lobha) hanya muncul ketika ada kondisi yang sesuai. Ketika masih menjadi calon mereka belum menemukan kondisi untuk munculnya keserakahan, namun setelah menjabat maka akan banyak sekali kondisi yang dapat memicu untuk munculnya keserakahan. Dan jika batinnya mudah goyah, maka seseorang akan terseret oleh arus keserakahan lebih jauh lagi.

Dosa adalah kebencian, tidak suka terhadap seseorang. Di dalam Itivuttaka I. Sang Buddha menjelaskan, “kebencian satu hal itu, wahai para bhikkhu. Tinggalkan kebencian, dan aku jamin engkau akan mencapai tingkat kesucian Anagami.” Makhluk yang dikotori kebencian, akan terlahir kembali dalam alam yang buruk. Tetapi setelah memahami kebencian dengan benar, mereka yang bijaksana meninggalkannya. Dengan meninggalkan kebencian, mereka tak lagi kembali ke dunia ini. Kebencian memang halus tidak nampak, ketika belum mewujudkan diri menjadi sebuah perilaku. Namun kalau tidak disadari kebencian akan menjadi bom waktu yang kalau tiba waktunya akan menjadi ledakan yang sangat besar. Ibarat seperti api yang disiram oleh bensin yang membuat api itu bertambah membesar. Oleh karena itu, kita harus bisa melepaskan kebencian yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Di dalam Aṅguttara Nikāya V, 161. Sang Buddha menjelaskan ada lima cara untuk melepaskan kebencian apabila muncul dalam diri seseorang, yaitu: Mettā: Cinta kasih harus dikembangkan. Ada banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan sering mengembangkan Mettā. Hal ini dijelaskan oleh Sang Buddha Dalam Aṅguttara Nikāya V, 161 dinyatakan: Jika O Para Bhikkhu, pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan, dan dijalankan dengan tetap, maka ada sebelas berkah yang bisa diharapkan. Apakah yang sebelas itu: dia tidur dengan tenang, dia tidak bermimpi buruk, bangun tidur menjadi segar, dia dicintai oleh manusia, dia dicintai oleh bukan manusia, dia akan dilindungi oleh para dewa, api, racun, dan senjata tidak dapat melukainya, pikiran penuh kosentrasi, kulit wajahnya jernih, dia akan meninggal dengan tidak bingung, dan jika tidak menembus yang lebih tinggi, dia akan lahir di alam Brahma. Di dalam Mettā Sutta Sang Buddha menjelaskan bahwa “tak selayaknya karena marah dan benci mengharap yang lain celaka.” Ketika timbul kebencian terkadang kita tidak mengingat bahwa sesungguhnya kita memiliki cinta kasih. Akibatnya ketika cinta kasih tidak muncul maka yang akan muncul adalah kebencian. Karuṇā: Welas asih /belas kasihan harus dikembangkan, Upekkhā: Keseimbangan batin harus dikembangkan, Asati-amanasikara: Berusaha melupakan kebencian itu, Kammasakata: Merenungkan tentang kepemilikan kamma masing-masing (tanggung jawab kamma).

Moha adalah kebodohan batin. Pengertian bodoh disini bukan bodoh karena tidak bisa menulis, bukan bodoh karena tidak bisa membaca, tetapi bodoh yang dimaksud adalah bodoh batinnya. Ia tidak bisa membedakan perbuatan baik yang harus dilakukan dan perbuatan jahat yang semestinya ditinggalkan. Perbuatannya cenderung pada hal-hal yang jahat. Karena bodoh batinnya, ia menganggap kejahatan wajar dilakukan, termasuk juga dalam kebodohan batin ini adalah malas melakukan kebajikan, sifat egois, gengsi, sombong, keangkuhan, dan kemunafikan.

Tiga akar kejahatan ini sangat berbahaya bagi kehidupan makhluk-makhluk, tidak hanya dalam kehidupan ini akan membuat penderitaan, tetapi juga dalam kehidupan yang akan datang akan mengondisikan terlahir ke alam-alam rendah atau menderita. Di dalam Itivuttaka dijelaskan bahwa sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan lahir di alam-alam rendah atau sengsara yaitu alam peta atau setan, neraka dan binatang karena kekuatan dari lobha, dosa, dan moha.

Dengan mengerti bahwa betapa bahayanya tiga akar kejahatan ini, maka mari kita berusaha untuk mengikisnya. Kalaupun kita belum mampu mengikisnya, setidaknya kita berusaha untuk menekan agar jangan sampai tiga akar kejahatan ini terus berkembang. Semoga kita semua hidup bahagia, terbebas dari tiga akar kejahatan serta hidup dalam kedamaian.

Sumber:
Buku Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.
Kitab Suci Dhammapada, Yayasan Bahusutta Society.
Buku kitab Suci Aṅguttara Nikāya.

Dibaca : 2036 kali