x

Dhamma Penuntun Kebahagiaan

“Dhammapῑti sukhaṁ seti vippasannena cetasā 
Ariyappavedite dhamme sadā ramati paṇḍito”. 
Ia yang mengerti Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang jernih dan tenang. Orang bijaksana selalu berbahagia dalam Dhamma yang telah 
dibabarkan oleh para Ariya. (Dhammapada Paṇḍita Vagga, 79)

    DOWNLOAD AUDIO

Agar terbebas dari pandangan-pandangan salah tentang ‘aku dan dunia’ seseorang harus mengetahui sumber penyebabnya atau kekeliruan yang muncul pada pandangan-pandangan tersebut. Kesalahpahaman ini timbul karena adanya lima kelompok kehidupan (pañca khandha) sebagai ‘milikku atau punyaku’.

Lima kelompok kehidupan ini dapat ditemui dalam Vibhaṅga/Vbh. 1, dijelaskan bahwa setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini memiliki jasmani dan batin. Dibagi menjadi lima kelompok atau lima khandha, yaitu: 
1.Jasmani (rūpa): kelompok ini ada pada seluruh tubuh dari materi yang terbentuk, terdiri dari milyaran partikel yang sangat kecil. Jasmani merupakan kelompok terbesar dan memiliki sifat-sifat utama dari materi, seperti; bagian yang keras merupakan unsur tanah (organ tubuh), bagian yang cair merupakan unsur air (ingus, darah, air seni, dan sebagainya), bagian yang panas merupakan unsur api (suhu badan), bagian yang bergerak dan berhembus/udara merupakan unsur angin (keluar masuknya nafas) dan bagian ruang-ruang kosong adalah unsur ruang (rongga-rongga yang di dalam tulang). Hal-hal inilah yang menyebabkan jasmani disebut sebagai kesatuan unit yang besar. Jasmani ini memiliki sensor (indria), seperti organ pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan organ penyentuh. Terbentuk oleh kondisi yang berada di dekatnya seperti feminin (perempuan) dan maskulin (laki-laki), berupa halus dan kasar. Terdapat pula berbagai ragam dalam berperilaku melalui pikiran, ucapan, dan tindakan jasmani. Hal inilah yang  kita genggam erat-erat sebagai ‘aku dan milikku’ serta sebagai ‘diri’ sehingga menjadi materi yang disenangi atau dilekati. Bermula dari rahim seorang ibu sebagai embrio, jasmani ini tumbuh dan berkembang dengan makanan sebagai nutrisi/gizinya. Makanan ini akan berkembang menjadi empat unsur yaitu; padat, cair, panas, dan angin yang perlu untuk dipertahankan hingga jasmani ini dapat tumbuh dan berkembang. Jasmani ini sangat butuh makanan. Bila makanan tidak dibutuhkan lagi, maka jasmani ini akan hancur.
2.Perasaan (vedanā): kelompok perasaan terdiri dari tiga macam, yaitu; menyenangkan (sukha), tidak menyenangkan (dukkha) dan netral (adukkhamasukhā). Semua ini terbentuk dari kontak kita terhadap dunia luar.
3.Persepsi (saññā): pengenalan batin terhadap objek-objek indria dengan baik sekali, melalui pandangan-pandangan, suara-suara, bebauan, citarasa, sentuhan/ada yang menyentuh tubuh dan hal-hal yang dipikirkan melalui pikiran. Pengenalan ini muncul dalam batin kita saat timbulnya kontak bersamaan dengan perasaan. Lepasnya kontak di saat kita telah terpisah dari objek tersebut. 
4.Bentuk-bentuk pikiran (saṅkhāra): keadaan-keadaan yang timbul dalam pikiran berupa yang baik (kusala), yang jahat (akusala) dan yang bukan baik ataupun bukan jahat (abyākata). Munculnya bentuk-bentuk pikiran ini tergantung pada kontak bersamaan dengan persepsi. Ia tenggelam sesuai dengan proses alamiahnya atau berpisah dengan objek yang dikontak. Karena adanya pikiran yang tertujuh pada objek, timbul kontak, timbul kehendak, timbul pula keserakahan, kebencian dan kegelapan batin yang didukung oleh faktor pembentuk batin lainnya.
5.Kesadaran (viññāṇa): kesadaran mengetahui dengan melihat, mendengar, bau atau aroma, rasa dari kecapan, kesan-kesan tubuh dari sentuhan dan pikiran. Diperlukan kesadaran untuk mengetahui bentuk-bentuk pikiran dan ide-ide. Oleh karena itu, kesadaran ini yang mengawasi enam landasan indria. Kesadaran ini muncul tergantung pada jasmani dan batin serta objek-objek yang berada di sekitarnya.
Lima khandha ini, secara umum disebut ‘nāma dan rūpa’. Kelompok pertama adalah jasmani (rūpa) dan kelompok kedua yaitu; perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran adalah batin (nāma). Lima kelompok ini dapat timbul dan tenggelam setiap saat sesuai dengan kondisinya.

Cara Prosesnya 
Lima kelompok kehidupan ini timbul saat terjadi hubungan kontak indria dengan objek dari masing-masing kelompok. Seperti saat mata memandang objek, mata ini akan memandang secara keseluruhan bentuknya (rūpa). Timbul rasa suka atau tidak suka terhadap objek yang dilihatnya melalui perasaan (vedana). Objek yang dilihatnya itu dikenal dengan sangat baik melalui persepsi (saññā). Perhatian serta keingintahuan terhadap objek mewakilinya untuk berpikir/berimajinasi dalam bentuk-bentuk pikiran (saṅkhāra). Ada perhatian terhadap objek yang dilihatnya itu dengan penuh kesadaran (viññāṇa). Ketika melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh hanya lima objek ini yang muncul, jika di sana tidak ada pikiran aku yang muncul sebagai ‘kemilikan’. Tetapi pada dasarnya orang selalu ingin menguasainya menganggapnya sebagai ‘milikku dan punyaku’, sehingga lima kelompok kehidupan ini seperti ‘aku’ yang utuh, padahal semua itu terbentuk karena adanya kondisi/faktor pendukung lainnya. Sebagian besar orang yang berada di bawah pengaruh kemilikan akan bersumber pada keangkuhan, sehingga mereka terbiasa menjadikan kesadaran ini untuk menimbulkan kondisi batin mereka, seperti saat emosi, marah, putus asa, ratap tangis timbul dari penderitaan batin dan saat berhasil, tercapai impian, suka cita, gembira timbul dari kebahagiaan batin. Semua ini terbentuk karena adanya keinginan untuk menguasainya dan takut kehilangan saat terpisah darinya.
Tetapi harus dimengerti, lima kelompok kehidupan ini selalu berubah, tidak tetap keberadaannya dan tanpa pribadi yang utuh, setiap saat dapat hancur. Setelah mengetahui corak dari kehidupan ini, kita diingatkan untuk selalu berjuang di jalan Dhamma. Dengan Dhamma akan menuntun kita menuju pantai Bahagia.       
  
Sumber:
- Dhammapada Penerbit Bahussuta Society
- Dhamma Vibhaṅga Penerbit Vidyasena
- A Discourse on the Sallekha Sutta Penerbit Yayasan Satipatthana Indonesia

Dibaca : 1054 kali