x

Perubahan Adalah Pengharapan

Sabbe Saṅkhāra Aniccā, Esa Maggo Visuddhiya
Segala yang tercipta adalah berubah, inilah jalan menuju pencerahan

    DOWNLOAD AUDIO

Setelah satu bulan para umat Buddha merayakan kaṭhina kala, masa kaṭhina, umat Buddha bersuka cita, bergembira, melakukan berbagai kegiatan untuk merayakan kaṭhina kala, musim kaṭhina dengan berdana kepada saṅgha.
Berdana, memiliki sῑla, dan pengendalian diri merupakan cara berlatih menjadi orang kaya, menjadi pemimpin; berlatih bahagia, berlatih memiliki kemampuan batin dan menjadi suci. Kehidupan kita ini harus melalui penempakan, latihan, praktik, lelaku yang akhirnya menjadi karakter, bakat, dan kemampuan yang tertanam dalam diri orang masing-masing.
Ada kisah nyata dalam kehidupan ini, pada tahun 1980 saat Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) masih berjalan, ada orang yang iseng-iseng pasang 4 angka ternyata menang, saat siang hari seorang bapak sedang bekerja di ladang, ada seseorang teman datang memberitahukan bahwa bapak menang pasang 4 angka, bapak itu menjawab oohh…terus pingsan tidak bangun-bangun. 
Dua bulan yang lalu ada kejadian di daerah pelosok desa, beberapa keluarga desa yang hidup dengan sederhana mendapat milyaran rupiah dari pengembangan bandara, karena lahan yang dimiliki terkena daerah pengembangan. Orang yang mendapat puluhan milyar itu dengan senangnya riang gembira sambil bersujud syukur eh tidak bangun keterusan; ada yang melihat tumpukan uang di mejanya maklum di kampung tidak ada rekening bank sehingga ia yang diberi uang cash dengan jumlah ratusan juta rupiah, dan saat menerima diletakan di mejanya, dengan pandangan kaget dan bersenyum-senyum tetapi palah keterusan.
Tidak hanya di dunia fisik sesorang akan terkaget dan tidak siap menerima bahkan tidak kuat, banyak orang yang karena dengan tiba-tiba bermeditasi dan masuk pada tahapan perkembangan atau pencapaian keadaan batin yang diliputi kebahagiaan tak terhingga, dan ia menjadi tidak waras, kondisi batin dan mental tidak mampu menampung karena belum berlatih untuk bahagia.
Seperti bolam lampu yang hanya 20 voltase, tiba-tiba dialiri listrik dengan ribuan volt apa jadinya, bolam lampu tersebut pecah. Atau seperti seorang petinju yang telah berlatih dengan baik, menerima pukulan demi pukulan makan tubuh dan muka mampu menahan pukulan petinju lawan, lah kita yang tidak pernah latihan tinju ditinju sekali langsung tersungkur di kanvas ring tinju, alias ka`o, semoga tidak kebablasan.
Kehidupan ini berkesinambungan, berkelanjutan, berentetan dari waktu ini ke waktu yang selanjutnya prosesnya tidak melompat atau tiba-tiba. Sabbe Saṅkhara Aniccā; segala yang terbentuk akan berubah. Perubahan terjadi meliputi semua aspek kehidupan baik materi maupun batin.
Materi, kebendaan terus berubah sesuai kondisi yang memfaktori, singkong dikupas di jemur menjadi gaplek ditumbuk dikukus menjadi tiwul, makanan sehat penuh serat yang dibutuhkan badan menjadi sehat. Pisang dikupas digoreng menjadi kripik pisang dengan minyak jlantah menjadi renyah tapi membuat badan rucah.
Perubahan materi menjadi luar biasa dalam dekade saat ini abat 21, pesawat super canggih, satelit radar pendeteksi semesta, kamera peneropong astronologi, dengan ditopang kemajuan teknologi canggih. Banyak perubahan materi yang mendukung kemajuan dan kesejahteraan kehidupan umat manusia di planet bumi ini, dari hal yang sepele hingga yang spektakuler.  Kita pasti sering mendengar kata handphone dari yang mulanya hanya untuk mengirim suara sambungan telephon dari satu ke satu orang. Kini telah berubah menjadi sarana yang luar biasa, buku sutta, abhidhamma dan vinaya; buku paritta dan Dhammapada yang merupakan favorit buku bawaan dan bacaan kini sudah ada di HP masing-masing orang. Buku Tipitaka yang bisa 1 lemari bila dijejer, kini hanya dengan satu genggaman HP sudah termuat semua.
Kemudahan bisa menjadi faktor penunjang kemajuan hidup, namun tanpa kehati-hatian dalam menggunakan smartphone bisa memicu kemunduran, kesehatan terganggu, pemborosan, penyalahgunaan narkoba, perselisihan, kemarahan, kebencian, pandangan salah, dan sakit jiwa. Itu semua adalah per-ubahan yang ada di kehidupan semesta ini.
Namun, justru karena ada anicca inilah kita sebagai manusia yang belum sempurna ini memiliki pengharapan, dengan adanya hukum perubahan di semesta ini segala yang diupayakan, diusahakan dan diperjuangkan akan ada hasilnya. Kalau di semesta ini tidak ada hukum perubahan kita sebagai makhluk yang tidak sempurna ini menjadi pesimistik. 
Memang tidak sedikit orang yang takut dan khawatir dengan perubahan, kekhawatiran itulah yang berlawanan dengan arus siklus kehidupan bekerjanya hukum kamma dan pancaniyama-Dhamma, 5 hukum yang berjalan di semesta ini.
Orang yang takut dan khawatir pada perubahan, seperti orang yang naik perahu arum jeram, perahu karet arum jeram mengikuti arus sungai yang mengalir deras, dari hulu melewati lembah, lereng perbukitan dengan hijaunya tanaman, hutan, bebungaan, hingga ke tepian sungai bakhan pantai lautan indah yang menjadi muara dari sungai.
Ia yang takut dan khawatir bahkan hingga keluar dari rakit itu sehingga ia terdampar di tepian sungai lereng hutan yang seram, itulah karena kekhawatiran itu yang menciptakan ia berada di tempat yang sungguh-sungguh menakutkan. Namun mereka yang dengan ketegaran mau mengikuti derasnya arus sungai saat itulah ia mendapati pemandangan yang indah lembah hutan yang mempesona dan segala merdunya kicauan burung-burung, gemerciknya air sungai bertubukan dengan dinding tebing yang menjadikan segarnya badan karena percikan air rintik-rintik bagai di percik air keberkahan.
Untuk dapat menyelami Perubahan sebagai Pengharapan kita harus memiliki pengetahuan yang disertai dengan penyelaman terhadap:
1.Hukum Tilakkhaṇa (Tiga Corak Umum) bahwa semua yang ada di semesta ini diliputi oleh proses perubahan, semua muncul dengan sebuah proses,; bahwa semua yang ada di semesta ini dicengkram oleh sifat ketidakbertahan, dan bahkan semua yang di semesta ini terkondisi muncul, berkembang dan berlalu. 
Ada pohon alpukat yang memiliki buahnya kualitas super, buah alpukat itu bisa sebesar jeruk bali berat 1 kg lebih.  Pohon apokat super itu Sudah tentu tidak tumbuh begitu saja, itu hasil dari sentuhan ilmu tumbuhan (bijaniyama) yakni okulasi, dari bibit apokat biasa disambung dengan apokat berkualitas dan hasilnya menjadi apokat super. Itulah perubahan (anicca), apakah bertahan selamaya, tidak, akan menjadi tua, lapuk dan mati (dukkha), itulah muncul, berkembang dan berlalu (anattā).
2.Hukum Paticca-Samuppāda duabelas mata rantai kehidupan, yang bermakna adanya suatu sebab akan akan muncul akibat, akibat akan menjadi sebab baru dan terus berlangsung; hingga terhentinya sebab maka tidak ada akibat yang mejadi sebab baru dan itulah berhentinya lingkaran kehidupan dan mencapai kehakikian.
3.Lima Hukum Alam (Panca Niyāma Dhamma) Semua fenomena di alam semesta ini bekerja menurut Hukum alam semesta yang mengatur segala gejala, proses, aktivitas, sebab-akibat batin dan jasmani yang ada di alam semesta ini.
a.UTU NIYĀMA (Hukum tertib “Physical inorganik) Misalnya: gejala timbulnya angin dan hujan yang mencakup tertib silih bergantinya musim dan perubahan iklim yang disebabkan oleh angin, hujan, sifat panas, benda seperti gas, cair dan padat, kecepatan cahaya, terbentuk dan hancurnya tata surya dan sebagainya. Semua  aspek  fisika  alam  diatur  oleh hukum ini.
b.BIJA NIYĀMA (Hukum Tumbuhan) Adalah hukum tertib yang mengatur tumbuh-tumbuhan dari benih/biji-bijian dan pertumbuhan tanam-tanaman, misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, manisnya gula berasal dari batang tebu atau madu, adanya keistimewaan daripada berbagai jenis buah-buahan, hukum genetika/penurunan sifat dan sebagainya.
c.KAMMA NIYĀMA (Hukum Perbuatan) adalah hukum tertib yang mengatur sebab akibat dari perbuatan, misalnya: perbuatan baik membuahkan pahala kebahagiaan dan per-buatan buruk berakibat pen-deritaan.
d.DHAMMA NIYĀMA (Fenomena Alam) adalah hukum tertib yang mengatur sebab-sebab terjadinya keselarasan/persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya: terjadinya keajaiban alam seperti bumi bergetar pada waktu seseorang Bodhisatta hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, atau pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi) , daya listrik, gerakan gelombang dan sebagainya, termasuk dalam hukum ini.
e.CITTA NIYĀMA (Hukum Psikologis ) adalah hukum tertib mengenai proses jalannya alam pikiran atau hukum alam batiniah, misalnya: proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat-sifat kesadaran, kekuatan pikiran/ batin (Abhinna), serta fenomena ekstrasensorik seperti Telepati, kemampuan untuk mengingat hal-hal yang telah lampau, kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi dalam jangka pendek atau jauh, kemampuan membaca pikiran orang lain, dan semua gejala batiniah yang kini masih belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan modern termasuk dalam hukum ini.


Dibaca : 217 kali