x

SISTEMATIKA KEBAHAGIAAN PERUMAH TANGGA

 “Iti kho, bhikkhave, dāliddiyampi dukkhaṁ lokasmiṁ kāmabhogino, iṇādānampi dukkhaṁ lokasmiṁ kāmabhogino, vaḍḍhipi dukkhā lokasmiṁ kāmabhogino, codanāpi dukkhā lokasmiṁ kāmabhogino, anucariyāpi dukkhā lokasmiṁ kāmabhogino, bandhanampi dukkhaṁ lokasmiṁ kāmabhogino.
“Demikianlah, para bhikkhu, bagi seseorang yang menikmati kenikmatan indria, maka kemiskinan adalah penderitaan di dunia; berhutang adalah penderitaan di dunia; kewajiban membayar bunga adalah penderitaan di dunia; ditegur adalah penderitaan di dunia; gugatan adalah penderitaan di dunia; dan penjara adalah penderitaan di dunia.
Dhammika Vagga, Ina Sutta, Aṅguttara Nikāya

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan di zaman modern ini telah menjadi berat dan penuh masalah. Walaupun faktanya standar hidup secara umum telah meningkat, manusia tetap sangat menderita karena beban kehidupan masa kini. Secara mental kehidupan manusia saat ini begitu tegang hingga melupakan seni bersantai, dan bahkan tidak dapat menikmati tidur nyenyak tanpa bantuan obat penenang. Dalam kondisi ini, hubungan antar pribadi menjadi begitu rapuh dan rentannya sehingga menimbulkan masalah sosial lainnya seperti anak terlantar, kenakalan remaja, bunuh diri, dll. Demikianlah kehidupan telah menjadi sebuah beban yang sangat sulit dan solusi untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik dan menyenangkan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Oleh karenanya, Dhamma memiliki kualitas tertinggi dan penerapan yang universal, dan Buddha tidak hanya berkhotbah untuk bhikkhu dan bhikkhuni tapi juga untuk umum, maka adalah berguna bagi kita untuk mencari ajaran dari Buddha yang sesuai dengan permasalahan kita di masa kini.
Dalam Pattakammavagga, Ānaṇya Sutta dari Aṅguttara Nikāya (AN 4.62), Buddha membabarkan sebuah sutta kepada Anathapindika tentang kebahagiaan beruas empat dari seorang umat perumah tangga. Setelah memahami dengan seksama dan telah dipertimbangkan baik-baik, bahwa sutta ini menawarkan pandangan terang yang cukup untuk memenuhi tuntutan dari permasalahan masa kini, terkhususkan bagi para perumah tangga. Kebahagiaan beruas empat tersebut yaitu:
1)    Atthisukha adalah kebahagiaan dari memiliki kekayaan materi. Manusia tidak hanya harus memiliki sebuah mata pencaharian yang benar, seperti menghindari perdagangan tercela seperti berdagang daging, minuman keras, racun, senjata api, dan perbudakan, namun dia juga harus menyuguhkan sikap yang bajik terhadap pekerjaan benarnya tersebut. Contohnya, jika seorang dokter menyambut kedatangan wabah penyakit di daerahnya dengan tujuan mendapatkan banyak uang, atau seorang pedagang mengharapkan bencana alam agar harga-harga pasar naik, uang yang diperoleh individu-individu yang tidak bermoral seperti itu bukanlah uang yang benar karena niat mereka tidak murni dan busuk. Seseorang juga seharusnya tidak menipu atau memanfaatkan yang lain dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan mengerahkan diri sendiri dengan ketekunan yang besarlah, seseorang seharusnya mencari nafkahnya, dan kekayaan yang diperoleh dengan susah payah itu disebut dengan kekayaan yang benar. Apabila seseorang memiliki sebuah cara yang benar untuk mencari nafkah dan sikap yang tepat terhadap kekayaan, seseorang dapat melepaskan diri dari bahaya-bahaya yang dibawa uang pada manusia modern.
2)    Bhogasukha — Kekayaan hanya memiliki nilai instrumental dan penikmatan kekayaan secara tepat adalah suatu seni yang pantas untuk dikembangkan dengan berhati-hati. Buddhisme menyayangkan baik sikap berfoya-foya maupun kekikiran. Seseorang harus mempertahankan standar hidup yang sehat dan seimbang sesuai dengan kemampuannya. Apabila, dalam penikmatan kekayaannya, seseorang terlalu memuaskan dirinya dalam kesenangan indra, dia pasti akan mengalami bahaya kesehatan dalam waktu yang sangat singkat. Apabila,  seseorang terlalu memuaskan dirinya dalam makanan hanya karena dia mampu membelinya, dia akan segera terserang penyakit seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Seseorang yang demikian akan dihadapkan pada situasi “memotong leher dengan lidahnya sendiri”. Kesahajaan dalam makanan adalah suatu kebajikan yang terpuji dalam Buddhisme dan ini adalah kebiasaan yang sehat. Sering kali, dalam rangka menikmati kekayaan, manusia memupuk kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok dan minum minuman keras. Adalah paradoksal bahwa manusia, yang sebenarnya paling mencintai dirinya sendiri, bertindak seolah-olah dia adalah musuh terburuk bagi dirinya sendiri dengan terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya dapat mengantarkannya pada kehancuran fisik.
3)    Ananasukha — Kesenangan karena tidak memiliki hutang adalah kualitas ketiga yang dibahas dalam sutta ini. Secara ekonomi, jika seseorang dapat benar-benar bebas dari hutang, dia sungguh merupakan orang yang sangat beruntung. Untuk menjadi benar-benar tidak memiliki hutang dalam masyarakat, seseorang harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan sangat teliti. Sebagai penerima upah, seseorang harus melaksanakan tugas-tugas yang karenanya dia diupah, jika tidak, dia dapat berhutang pada upah yang diterimanya.
4)    Anavajjasukha — Kepuasaan dari menjalani hidup tanpa cela adalah bentuk tertinggi dari kepuasan yang dapat dimiliki umat perumah tangga. Setiap masyarakat memiliki sebuah kode etik yang harus diikuti oleh para anggotanya. Menurut Buddhisme, kode etik minimum yang mengatur kehidupan umatnya adalah pañcasῑla, Lima Sila. Apabila seseorang mempraktikkan kebajikan-kebajikan ini, dia dapat memiliki kepuasan yang luar biasa dari menjalani kehidupan yang benar. Menghindari melakukan sesuatu yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada diri kita adalah prinsip dasar yang melandasi kebajikan-kebajikan ini.
Apabila kita benar-benar memahami pentingnya empat jenis kebahagiaan yang dijelaskan dalam sutta kita ini, dan menerjemahkannya ke dalam tindakan, hidup akan jauh lebih menyenangkan dan bahagia bahkan di zaman modern ini.

Referensi :
-    https://dhammacitta.org/buku/rumah-tangga-bahagia.html diakses 24 Januari 2018 pukul 15.25 Wib.
-    https://suttacentral.net/id/an6.45 diakses 24 Januari 2018 pukul 15.40 Wib.
-    https://suttacentral.net/id/an4.62 diakses 24 Januari 2018 pukul 15.55 Wib.
-    Anggara Indra (penerjemah bahasa Inggris). 2015. Aṅguttara Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta Press.

Dibaca : 2086 kali