x

Upaya Mengatasi KORUPSI Melalui Ariyāṭṭhaṅgika Magga

Akataṁ dukkaṭaṁ seyyo, pacchā tappati dukkaṭaṁ
Katañca sukataṁ seyyo, yaṁ katvā nānutappati.
Perbuatan buruk, tidak dilakukan adalah lebih baik
karena perbuatan buruk akan menyiksa dirinya sendiri di kemudian waktu.
Sebaliknya, perbuatan baik dilakukan adalah lebih baik
yang setelah dilakukan tidak mendatangkan penyesalan.
(Dhammapada, Niraya Vagga XXII;314)

    DOWNLOAD AUDIO

Era Globalisasi merupakan masa perkembangan atau masa perubahan dari generasi ke generasi. Namun seiring perkembangan global jumlah kemiskinan semakin banyak bahkan di masyarakat terdapat kata-kata yang sudah tidak asing lagi didengar yaitu “Yang kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah  miskin.” Janji yang dikobarkan laksana proklamator yang memproklamasikan kemerdekaan, tetapi janji tersebut tidak sesuai dengan kenyataan bahkan berbanding terbalik. Banyak kasus yang terjadi di tiap tahunnya, dimana masyarakat dirisihkan dengan berita para penegak hukum dan wakil-wakil rakyat yang seharusnya patut dijadikan tauladan justru bertindak tidak sesuai dengan hukum.
Dahulu korupsi yang bermotif ganda jarang dilakukan. Yang ada ialah korupsi material yang sederhana sifatnya. Sebabnya, di samping memang obyek yang akan dikorup terbatas adanya, juga moral masih belum banyak terkena erosi. Dahulu rasa harga diri dan menjaga martabat pribadi masih sangat kuat, sebab umumnya orang merasa sangat malu jika dijadikan buah bibir orang sebagai penyeleweng atau koruptor. Dan yang terjadi di zaman sekarang ini hal tersebut telah luntur dan dilupakan oleh manusia. Jika dahulu ada perbuatan korupsi yang bermotif ganda, itu umumnya secara kebetulan saja. Artinya, si koruptor tidak sadar kalau perbuatannya itu di samping menggerogoti uang, juga bermotif dan dapat berakibat lain seperti pada umumnya yang sering terjadi dewasa ini.
Kini korupsi sangat kejam dan munafik karena seringnya penyuapan yang diiringi dengan maksud menjatuhkan si pejabat yang menerima suap. Di lain pihak, si penerima suap sudah sangat berani meminta sesuatu dengan berbagai macam cara (cara halus dan kasar) dengan alasan balas jasa, seolah-olah ia sendiri tidak mendapat nafkah dari negara. Bahkan, dibandingkan dengan korupsi yang terjadi di masa lampau oleh beberapa sarjana karena pengaruh pendatang feodal (kebiasaan penduduk memberikan upeti-upeti kepada raja), koruptor dewasa ini lebih kejam lagi sifatnya. Banyak di antaranya yang hanya hidup berfoya-foya, sementara rakyat di sekelilingnya masih hidup melarat.
Terjadinya korupsi yang melanda dunia terutama Indonesia merupakan suatu kesalahan oleh oknum yang melakukan penyelewengan dan tidak mempunyai rasa malu (hiri) dalam melakukan tindakan jahat dan takut akan akibatnya (ottappa).
•    Ahirika
Tidak malu melakukan perbuatan jahat atau buruk dari semua perbuatan amoral. Korupsi merupakan salah satu dari perbuatan amoral. Ahirika diperumpamakan seperti sekumpulan babi. Jika kita melumuri kotoran, kita merasa malu di hadapan banyak orang, namun bagi babi kotoran merupakan santapan yang nikmat dan tidak menjijikkan. Demikian pula bagi para koruptor seharusnya memiliki rasa malu akan perbuatan buruk yang dilakukannya. Apabila tidak memiliki rasa malu berarti sama dengan halnya seekor babi yang menikmati kotoran orang maupun masyarakat.
•    Anottappa
Tidak merasa takut akan akibat perbuatan buruk disebut anottappa. Perbuatan buruk diibaratkan seperti nyala api. Sesungguhnya nyala api adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Hal ini diperumpamakan seperti seekor ngengat yang terbang menuju nyala api. Ngengat tersebut tidak berpikir bahwa api itu berbahaya dan nekat terbang menuju api. Demikian pula seorang koruptor bagaikan ngengat yang niat terbang untuk menerima uang. Mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah hal yang membawa hawa panas dan akibatnya penderitaan akan dijumpai dalam dunia ini dan dunia berikutnya.
Sesungguhnya orang tersebut mengetahui bahwa itu salah dalam tindakan dan melanggar hukum. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor:
1.    Avijjā (kegelapan batin)
Terjadinya korupsi disebabkan oleh kegelapan batin seseorang, dimana seseorang tergiur dengan hal-hal yang melupakan segalanya tanpa memperhatikan akibatnya. Uang merupakan segala-galanya, karena tanpa uang orang sulit untuk melakukan tukar menukar demi kebutuhan hidup. Tetapi bukan berarti dengan hal itu seseorang bisa dengan semaunya menggelapkan uang  demi kepentingannya sendiri dan membawa banyak korban. Sesuatu yang menggiurkan itu akan membuat orang terlena, membahagiakan karena yang dibutuhkan akan diperoleh jika memiliki uang. Akan tetapi hal itu merupakan suatu penderitaan. Mengapa demikian, karena diperoleh dengan cara yang salah akibat gelapnya batin yang tertutup oleh uang yang menggiurkan.
2.    Lobha ( Keserakahan)
Lobha sering diistilahkan dengan pema, taṇhā, rāga, atau samudaya. Jika keserakahan tidak dikendalikan dengan Dhamma bahkan dibiarkan terus menerus, maka keserakahan tidak akan pernah padam. Seperti halnya tanduk sapi yang terus memanjang seiring dengan bertambahnya umur. Keserakahan manusia yang menemaninya sejak  janin berkembang sejalan dengan bertambahnya umur. Dalam Dhammapada dikatakan  bahwa: Yaṁ esā sahate jammῑ taṇha loke visattikā, sokā tassa pavaḍḍhanti abhivaṭṭhaÿva bῑraṇaṁ.
Dalam dunia ini, siapapun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun, penderitaannya akan bertambah seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat karena disirami dengan baik. (Dhammapada Taṇhā Vagga. XXIV: 335).
Demikan jika seseorang yang memiliki keserakahan dengan melakukan korupsi, penderitaannya akan bertambah. Bukan hanya akan berada di penjara untuk menjalani hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati, tetap ia pun akan dikenakan denda yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan ketika ia meninggal akan terlahir di alam neraka empat apāya bhūmi. Akan tetapi lobha tidak akan membawa kita terlahir ke-empat alam rendah jika didukung oleh perbuatan baik.

SOLUSI Pencegahan KORUPSI
Setelah seseorang mengetahui bahaya dari tindakan korupsi, di dalam agama Buddha telah dijelaskan bagai-mana cara mencegah terjadinya tindak korupsi yang dapat merugikan orang banyak dapat dicegah, yaitu:
•    Sῑla
Lima aturan moral (Pañcasῑla) diajarkan Buddha untuk seseorang yang berkeinginan mencapai kehidupan yang damai, sehingga mendukung kebahagiaan keluarga dan masyarakat. Pañcasῑla dilakukan secara sukarela oleh umat Buddha perumah tangga. Pañcasῑla bukan dimaksudkan untuk membatasi kebebasan manusia, tetapi dapat melindungi sepanjang sῑla tersebut dijalani dengan baik. Melanggar salah satu dari sῑla bukan dosa yang tidak dapat dimaafkan, itu dilihat sebagai tindakan keliru karena kurangnya kebijaksanaan.
Pada salah satu di antara kelima sῑla, yang dijalankan dengan sungguh-sungguh akan membuat seseorang bahagia, tanpa cela, dan cemooh dari orang lain. Dalam mengatasi korupsi, seseorang harus melaksanakan sῑla kedua yaitu “Aku bertekad akan melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan.” Oleh karena itu seseorang harus bertekad dalam batinnya bahwa aku akan melatih kemurahan hati dengan berbagi dan memberikan kekayaan materi dan spiritual milikku. Menyadari penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi, ketidakadilan; pencurian; dan penindasan, aku berusaha untuk mengembangkan cinta kasih untuk kehidupan yang lebih baik bagi manusia dan semua makhluk. Aku akan berlatih bersikap sopan dan bermurah hati dengan berbagi kekayaan kepada orang-orang yang membutuhkan. Aku berusaha untuk tidak mencuri sesuatu pada saat bekerja dan bertanggung jawab saat bekerja. Aku akan menghargai milik orang lain dan milik umum dengan tidak mencuri, dan mencegah orang lain mendapatkan keuntungan di atas penderitaan makhluk lain.
•    Ariyāṭṭhaïgika Magga (Jalan Mulia Berunsur Delapan)
Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan terdapat  cara yang sistematik dan lengkap untuk melepaskan diri dari ketidakpuasan dan mencapai kebahagiaan sejati. Terutama untuk mencegah terjadinya tindak korupsi, yaitu:
1.    Pebuatan benar (sammā-kammanta). Latihan dari perbuatan benar termasuk menghargai kehidupan, harta benda, dan hubungan dengan orang lain, kepentingan lain.
2.    Mata Pencaharian Benar (sammā-ājiva) Mata pencaharian benar berarti bekerja dengan tidak merugikan orang lain. Dan dalam memilih pekerjaan, seseorang seharusnya menghargai kesejahteraan masyarakat bukan menghancurkan kesejahteraan orang lain maupun negara.

Simpulan
Seseorang seharusnya memiliki pengendalian dan berpegang teguh pada penjaga dunia yaitu hiri dan ottappa. Hiri memiliki arti yaitu rasa malu jika melakukan perbuatan salah dan tidak akan mengulanginya kembali. Sedangkan ottappa yaitu takut akan akibat dari perbuatan salah. Dengan seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat dan takut akan akibatnya, maka ia akan berusaha untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan banyak orang dan dapat memberikan penderitaan bagi pembuatnya. Hendaknya para pengusaha yang budiman dan memiliki intelektual moral serta memiliki spritual yang baik dapat bekerja dengan benar sesuai dengan Dhamma. Dan hal ini bukan hanya berlaku bagi para pengusaha maupun pejabat negara, tetapi ini juga berlaku kepada masyarakat luas. Dengan kita memiliki mata pencaharian yang benar, niscaya kita dapat hidup damai, bahagia, dan tentram.

Referensi: 
-    Jankābhivaṁsa, Ashin. 2005.  Abhidhamma Sehari-hari. Tanpa kota: Yayasan Karaniya.
-    Tim Penyusun. 2005. Dhammapada. Tanpa Kota: Dewi Kayana Abadi
-    Thic Nhat Hanh Ven. 2003. Be A Lam Upon Yourslef (Menjadi pelita hati). Tanpa kota: Pemuda Vihara Vimala Dharma.
-    Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Umum

Dibaca : 4647 kali