x

VEPACITTI SUTTA

“Seseorang yang membalas seorang pemarah dengan kemarahan;
Dengan cara demikian, ia membuat segala sesuatu lebih buruk bagi dirinya sendiri. Tanpa membalas seorang pemarah dengan kemarahan,
Ia memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.”

    DOWNLOAD AUDIO

Vepacitti Sutta adalah salah satu sutta yang terdapat dalam Saṁyutta Nikāya, kelompok khotbah tentang Sakka. Khotbah ini disampaikan langsung oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu, berkaitan tentang pertempuran antara para dewa dan asura. Dikisahkan bahwa pemimpin asura, Vepacitti, memerintahkan para prajuritnya untuk mengikat Sakka, pemimpin kawanan dewa, pada empat anggota tubuh (sepasang tangan dan kaki) beserta lehernya dan diantarkan ke hadapannya. Hal itu apabila kemenangan memihak pada mereka. Perintah yang sama juga dikumandangkan oleh pihak dewa, Sakka kepada para perajuritnya, apabila sekawanan asura berhasil mereka kalahkan.

Peperangan itu, konon, dimenangkan oleh kelompok para dewa. Sesuai dengan mandat, Vepacitti dibawa ke hadapan dewa Sakka di aula pertemuan Suddhamma dalam kondisi terikat pada empat anggota tubuh dan lehernya. Dalam kondisi kesusahan seperti itu, Vepacitti tidak menampakkan ketakutan dan malah sebaliknya; menghina dan mencecar Sakka dengan ragam umpatan dan kata kasar. Raja para dewa menyikapinya dengan tenang dan sabar. Sesosok dewa kusir bernama Mātali bertanya apakah dewa Sakka, raja para dewa begitu lemah dan takut dengan pemimpin kawanan asura tersebut sehingga diam ketika mendengarkan semua kata-kata kasarnya.

Tentu saja bukan takut yang menjadi alasan dewa Sakka memilih untuk tidak memberikan respons terhadap umpatan Vepacitti. Sakka mengatakan kepada Mātali bahwa dia memilih untuk diam dan bersabar karena bagaimana mungkin seorang bijaksana seperti dirinya melibatkan diri dan melayani orang dungu yang tengah dibakar oleh kemarahan. Namun jika tidak ada seorang pun yang melawan dan memberikan peringatan pada Vepacitti, maka dia akan melepaskan kemarahannya lebih banyak lagi. Karena itu, menurut Mātali, ia harus mendapatkan hukuman yang setimpal untuk mengendalikannya.

Sakka memiliki gagasan bahwa untuk menghadapi si dungu (Vepacitti yang diliputi kemarahan); ketika seseorang mengetahui bahwa musuhnya sedang dalam kondisi marah, maka ia harus dengan penuh perhatian memperhatikan kedamaian yang ada pada dirinya. Meskipun hal tersebut sangat mungkin dipandang sebagai ketakutan oleh pihak musuh, dengan berpikiran. “Ia menahan sabar karena takut.”

Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada kesabaran di antara tujuan yang berpuncak dalam kebaikan seseorang. Seseorang akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk lagi bagi dirinya sendiri, juga orang lain jika menggunakan kemarahan sebagai senjata untuk membalas kemarahan yang ada. Tanpa membalas seorang pemarah dengan kemarahan, seseorang telah memenangkan pertempuran yang sulit untuk dimenangkan. Kemenangan ini tidak saja memberikan kesejahteraan bagi diri sendiri tetapi juga memberi manfaat di pihak lain. Orang yang beranggapan bahwa bersabar adalah cerminan dari ketakutan adalah orang yang tidak terampil dalam Dhamma.
Sebagai penutup khotbah, Sang Buddha mengingatkan kepada para bhikkhu bahwa jika Sakka, raja para dewa, yang hidup bahagia dari buah kebajikannya sendiri, menjalankan pemerintahan tertinggi atas para dewa di alam surga Tāvatiṁsa, menjadi seorang yang begitu memuji kelembutan dan kesabaran, maka seberapa layaknya hal tersebut dijalankan oleh para bhikkhu, yang telah meninggalkan keduniawian dan hidup dalam Dhamma dan Vinaya yang diajarkan sedemikian baik untuk menjadi sabar dan lembut.

Kisah dan utamanya makna yang terkandung dalam sutta ini adalah tentang kemarahan dan kesabaran sebagai proteksinya. Meski disampaikan di hadapan dan kepada para bhikkhu, sutta ini bukan berarti tidak berlaku bagi kalangan masyarakat yang hidup dipenuhi kenikmatan akan suguhan kebahagiaan duniawi dengan menyandang status sebagai perumah tangga. Praktik sabar tidak hanya menjadi latihan bagi para bhikkhu saja, sedangkan perumah tangga dapat dengan leluasa melampiaskan kemarahan kapan pun tanpa harus merasa dihalangi oleh peraturan disiplin layaknya bhikkhu. Kesabaran sudah seharusnya dimiliki semua orang tanpa kecuali, baik para bhikkhu maupun perumah tangga. Mengingat bahwa kesabaran adalah salah satu penunjang untuk hidup bahagia dan damai di tengah-tengah hiruknya dunia.

Sikap sabar tidak bisa disamakan dengan sikap pasif apalagi diam karena takut. Kesabaran adalah kondisi batin tenang yang dilandasi sebuah pengertian yang benar. Pengertian bahwa situasi hanya akan membaik ketika kemarahan tidak diselesaikan dengan kemarahan, melainkan sebaliknya dengan tanpa kemarahan, dan dengan kesabaran sebagai proteksi awal.

Pengalaman diri adalah guru terbaik dalam hal praktik bersabar. Seseorang hanya akan mendapatkan manfaat dari kesabaran ketika orang tersebut menerapkan dalam kehidupannya sendiri, bukan berdasar pada apa yang dikatakan orang. Bisa dilihat perbedaan mencolok yang akan terjadi ketika suatu masalah dihadapi dengan kemarahan dan kesabaran. Kesabaran mungkin tidak bisa dengan seketika menyelesaikan persoalan, tapi kemarahan sudah pasti akan memperpanjang persoalan yang ada.

Referensi:
•    https://suttacentral.net/id/snII.4 - diakses pada 06 Maret 2018 pukul 08.30 WIB

Dibaca : 548 kali