x

SEBAB-SEBAB KERUNTUHAN

Suvijāno bhavaṁ hoti, suvijāno parābhavo.
Dhammakāmo bhavaṁ hoti, dhammadessῑ parābhavo.
Dengan mudah dapat diketahui siapa yang maju,
dengan mudah pula dapat diketahui siapa yang runtuh.
Dia yang menyenangi Dhamma akan maju,
dia yang membenci Dhamma akan runtuh.
(Parābhava Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Kembali kita bertemu untuk membahas Dhamma. Belajar teori Dhamma itu penting, agar kita punya pedoman untuk menjalani kehidupan ini, sehingga kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus kita tempuh dan mana yang harus kita hindari. Dengan belajar teori Dhamma kita tidak salah jalan, karena Dhamma ini yang membimbing kita ke jalan yang benar. Setelah kita belajar teori Dhamma, tentunya harus dilanjutkan dengan menjalankan atau mempraktikkan Dhamma yang sudah kita pelajari tersebut.
Dalam kesempatan yang baik ini, kita akan membahas Dhamma tentang hal-hal yang menyebabkan seseorang hancur, runtuh atau merosot kehidupannya, baik kehidupan spiritualnya maupun kekayaannya, baik di kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan berikutnya. Sebab-sebab keruntuhan/kehancuran/kemerosotan ini dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Parābhava Sutta. Khotbah ini dibabarkan di Sāvatthi, di hutan Jeta, di Vihara yang dibangun oleh hartawan Anāthapiṇḍika. Dibabarkan pada saat hari menjelang pagi kepada para Dewa yang datang menjumpai dan bertanya kepada Beliau. Uraian berikut ini adalah beberapa petikan yang diambil dari  Parābhava Sutta.

“Dia yang menyenangi Dhamma akan maju dan dia yang membenci Dhamma akan runtuh”.

Siapa yang menyenangi Dhamma itu? Orang yang menyenangi Dhamma adalah orang yang dalam perbuatan jasmaninya selalu baik, dalam ucapannya selalu  baik dan dalam pikirannya juga selalu baik. Dalam perbuatan jasmani, dia tidak membunuh tetapi penuh cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk hidup, dia tidak mencuri tetapi dia senang memberi, dia tidak melakukan asusila tetapi dia setia pada pasangan yang sah. Dalam berucap, dia tidak berbohong, tidak berkata kasar, tidak memfitnah dan tidak omong kosong, senantiasa dalam berucap dengan kejujuran, kata-kata yang lembut, penuh kebenaran, bermanfaat bagi kebahagiaan orang lain, sehingga bila dia akan berucap selalu dengan kehati-hatian agar tidak membuat orang lain menderita karena ucapannya. Dalam pikirannya tidak ada dendam, tidak ada kebencian, tidak ada cemburu, tidak ada iri hati, berpikir dengan cinta kasih, senantiasa berpikir untuk kebahagiaan makhluk lain, dia memiliki pikiran yang benar dan lurus.
Siapa yang membenci Dhamma itu? Orang yang membenci Dhamma adalah orang yang dalam perbuatan jasmaninya selalu buruk, dalam ucapannya selalu buruk, dalam pikirannya juga selalu buruk. Dalam perbuatan jasmani dia melakukan pembunuhan, pencurian, dan asusila. Dalam berucap, dia berbohong, berkata kasar, memfitnah dan senang omong kosong, senantiasa jika berucap membuat orang yang mendengarnya sakit hati. Dalam pikirannya selalu menyimpan dendam, kebencian, cemburu, iri hati, dan memiliki pandangan-pandangan salah.

“Seseorang yang berteman dengan orang jahat, tidak suka bergaul dengan orang-orang luhur, dia yang menyenangi ajaran dari orang jahat inilah yang menyebabkan keruntuhan”.

Berteman, bersahabat dengan orang-orang yang jahat, kita akan terpengaruh melakukan hal-hal yang buruk. Orang yang jahat segala perbuatannya cenderung ke arah yang tidak baik/buruk. Ia menganggap perbuatan yang buruk sebagai perbuatan yang berguna, maka hal ini yang ia lakukan, tetapi ia menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan yang tidak bermanfaat, maka ia tidak pernah melakukan. Pelanggaran sῑla/kemoralan seperti membunuh, mencuri, asusila, berbohong, mabuk-mabukan, ia anggap sebagai sesuatu yang baik dan berguna yang tidak akan mengakibatkan penderitaan, maka ia melakukan hal-hal ini. Sementara pergi ke vihara, mendengarkan ceramah, berdana, menjalankan sῑla, bermeditasi adalah sesuatu yang menjenuhkan, sesuatu perbuatan yang membosankan, sesuatu perbuatan yang tidak bermanfaat, sehingga ia tidak pernah melakukan hal-hal ini. Inilah yang dilakukan oleh orang yang jahat.
Jika kita menyenangi ajaran atau ajakan dari orang jahat ini adalah sumber kehancuran, kita akan diajak melakukan hal-hal yang buruk, yang merupakan hal-hal yang biasa mereka lakukan, sebagai contoh, kita akan diajak melakukan pelanggaran sῑla ke lima yaitu mabuk-mabukan atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang (narkoba), maka kita pun akan ikut menjadi seorang pemabuk, ikut mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Inilah bahayanya, kita akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.
“Orang yang gemar tidur, suka berfoya-foya dan tak bersemangat, pemalas dan pemarah, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Orang yang hidup makmur, namun tak menyokong kehidupan ibu dan ayahnya yang sudah tua dan lemah, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Orang yang menipu para Petapa/Samana/Bhikkhu, dan guru-guru Agama lainnya, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Orang yang memiliki kekayaan yang berlimpah, tetapi hanya menikmati sendiri, tidak berbagi kepada orang yang membutuhkan pertolongan,  inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Orang yang menjadi sombong karena keturunan, kekayaan dan lingkungannya, memandang rendah orang lain, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Tidak puas dengan istrinya sendiri dan selingkuh dengan istri orang lain, senang bermain perempuan, gemar berjudi, suka mabuk-mabukan, sehingga harta kekayaannya menjadi habis, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.
“Mempercayai dan memberi kekuasaan kepada orang yang suka mabuk, suka berfoya-foya, orang yang tidak bermoral, inilah yang menyebabkan keruntuhan”.

Inilah beberapa hal yang menyebabkan kehancuran/kemerosotan/keruntuhan seseorang. Khotbah Parābhava Sutta ini adalah untuk mengingatkan kita agar hati-hati dalam menjalani kehidupan ini, jangan sampai kita mengalami kehancuran/keruntuhan, baik dalam kehidupan saat ini maupun dalam kehidupan berikutnya, karena kita akan jatuh dalam penderitaan yang berkepanjangan.  Hendaknya  kita menghindari hal-hal ini. 

Dibaca : 2093 kali