x

BUDDHIST ZAMAN NOW

Yo ca vassasataṁ jῑve, apassaṁ udayabbayaṁ;
Ekāhaṁ jῑvitaṁ seyyo, passato udayabbayaṁ.
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya 
segala sesuatu yang berkondisi.

(Dhammapada, 113) 

    DOWNLOAD AUDIO

Istilah zaman now sudah menjadi trend masa kini, penggunaan istilah zaman now bukanlah sesuatu yang asing. Istilah ini sering dimunculkan di dalam berbagai komentar dan aktivitas media online ataupun percakapan sehari-hari. Pada awalnya istilah zaman now hanya merupakan candaan sekaligus sindiran merujuk pada kelakuan aneh atau kelakuan yang tidak wajar dari anak-anak zaman sekarang, istilah lengkapnya adalah kids zaman now. Bahkan ada penelitian oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation. Yang meneliti kelakuan generasi millennial baik gaya hidup, cara berpikir, dan lain-lain yang di mana banyak orang menganggap itu adalah kelakuan kids zaman now.

Agama Buddha juga tidak luput dari istilah zaman now, bahkan di beberapa tempat dikenal dengan sebutan Buddhist zaman now yang di mana istilah ini digunakan untuk menyindir kelakuan umat Buddha yang “nyeleneh”. Dengan demikian istilah zaman now merupakan istilah negatif yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya.

Tetapi sebenarnya istilah zaman now di dalam Buddhist adalah tepat. Jika diartikan secara hurufiah ataupun harafiah, istilah zaman now berarti zaman sekarang atau saat ini. Yang di mana Dhamma yang diajarkan oleh sang Buddha mengajak kita untuk hidup pada saat ini, bukan pada masa lalu ataupun pada masa depan.

Ajaran Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup pada saat ini. Di dalam Daṭṭhabbasutta (AN.V) Sang Buddha menjelaskan ada 5 macam kekuatan yang dapat dipakai setiap saat. Yang dapat diterapkan pada saat ini pula. Yang pertama adalah keyakinan (saddhàbala), keyakinan yang dimaksud di sini bukan keyakinan sebatas pemikiran, tetapi berdasarkan pengalaman batin, tentu keyakinan di sini adalah keyakinan pada pencerahan sempurna Sang Buddha. Yang kedua adalah semangat, semangat di sini bukan sebatas semangat berkobar-kobar, tetapi semangat yang disertai disiplin, tekun, serta kesabaran untuk menghindari hal-hal yang buruk, bersemangat dalam mengembangkan hal yang baik (Sammāvāyāma) . Yang ketiga adalah perhatian, perhatian di sini, bukan hanya sekedar memperhatikan saja, tetapi juga dilandasi mengetahui. Singkatnya mengembangkan perhatian dengan kebijaksanaan yang luhur. Yang keempat adalah konsentrasi terhadap segala hal yang dilakukan, yang kelima adalah kebijaksanaan, yaitu memahami kenyataan dan mampu menerima segala perubahan yang ada, memahami secara batin bahwa yang tidak indah sebagai tidak indah, yang tidak kekal sebagai tidak kekal, penderitaan sebagai penderitaan, tidak adanya aku sebagai tidak adanya aku. Intinya adalah penembusan empat kebenaran mulia (Cattāri Ariyasaccāni) . Ketika seseorang mampu melaksanakan lima macam Dhamma ini, maka lima Dhamma ini akan menjadi indrianya (Saddhindriyaṁ, Viriyindriyaṁ, Satindriyaṁ, Samādhindriyaṁ, Paññindriyaṁ), ketika telah menjadi indriyanya maka seseorang dapat menggunakannya dengan otomatis yang didasari pengalaman batin diri sendiri. Dengan demikian seseorang mampu merubah istilah zaman now yang negatif menjadi zaman now yang positif. sehingga mampu menerapkan Dhamma di dalam hidupnya, yang mampu hidup pada saat ini, bukan pada masa lalu ataupun pada masa mendatang. Dengan demikian kehidupannya saat ini, walaupun hanya 1 hari, menjadi hidup yang mulia dan bermanfaat.

Referensi:
-Aṅguttara Nikāya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.

Dibaca : 546 kali