x

MIMPI & CAHAYA

Divā tapati ādicco, rattimābhāti candimā, sannaddho khattiyo tapati, jhāyῑ tapati brāhmaṇo, atha sabbamahorattiṁ, buddho tapati tejasā.  
Matahari bersinar di waktu siang. Bulan bercahaya di waktu malam. Ksatria gemerlap dengan seragam perangnya. Brahmana bersinar terang dalam Samadhi. Tetapi Sang Buddha bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.
(Dhammapada 387)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam tidur seseorang pasti pernah mengalami mimpi. Dalam Milinda Pañha, Bhante Nagasena menjelaskan bahwa mimpi adalah tanda yang datang melintasi jalur pikiran. 

Lima Mimpi Bodhisatta 
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya Kelompok Lima dijelaskan bahwa, saat Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, lima mimpi agung muncul pada Sang Tathāgata, Apakah lima mimpi itu?

(1) “Sebelum pencerahanNya, sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna [bermimpi] bahwa bumi besar ini menjadi ranjangnya; Himālaya, raja pegunungan, menjadi bantalNya; tangan kiriNya berada di atas lautan timur, tangan kananNya di lautan barat, dan kedua kakiNya, di lautan selatan. Ini adalah mimpi pertama yang muncul pada Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sebelum pencerahanNya, sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna. 

(2) “Kemudian, sebelum pencerahan-Nya … Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna [bermimpi] bahwa sejenis rumput yang disebut tiriyā muncul dari pusarNya dan menjulang menyentuh langit. Ini adalah mimpi ke dua yang muncul pada Sang Tathāgata … sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna. 

(3) “Kemudian, sebelum pencerahan-Nya … Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna [bermimpi] bahwa cacing-cacing putih berkepala hitam merayap dari kaki hingga ke lututNya dan menutupinya. Ini adalah mimpi ke tiga yang muncul pada Sang Tathāgata … sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna.  

(4) “Kemudian, sebelum pencerahan-Nya … Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna [bermimpi] bahwa empat ekor burung berbeda warna datang dari empat penjuru, jatuh di kakiNya, dan semuanya berubah menjadi putih. Ini adalah mimpi ke empat yang muncul pada Sang Tathāgata … sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna. 

(5) “Kemudian, sebelum pencerahan-Nya … Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna [bermimpi] bahwa Beliau mendaki gunung kotoran yang besar tanpa terkotori oleh kotoran itu. Ini adalah mimpi ke lima yang muncul pada Sang Tathāgata … sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna. (1) “Sekarang, para bhikkhu, ketika Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna -sebelum pencerahan-Nya, sewaktu Beliau masih menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna -[bermimpi] bahwa bumi besar ini menjadi ranjangnya dan Himālaya, raja pegunungan, menjadi bantalNya; tangan kiriNya berada di atas lautan timur, tangan kananNya di lautan barat, dan kedua kakiNya di lautan selatan, [ini adalah sebuah pertanda] bahwa Beliau akan tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tertinggi. Mimpi agung pertama ini muncul padaNya [sebagai suatu pertanda] bahwa pencerahanNya [segera terjadi]. (2) “Ketika Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna … [bermimpi] bahwa sejenis rumput yang disebut tiriyà muncul dari pusarNya dan menjulang menyentuh langit, [ini adalah sebuah pertanda] bahwa Beliau akan tercerahkan pada Jalan Mulia Berunsur Delapan dan akan menyatakannya dengan baik kepada para deva dan manusia. Mimpi agung ke dua ini muncul padaNya [sebagai suatu pertanda] bahwa pencerahanNya [segera terjadi]. (3) “Ketika Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna … [bermimpi] bahwa ulat-ulat putih berkepala hitam merayap dari kaki hingga ke lututNya dan menutupinya, [ini adalah sebuah pertanda] bahwa banyak perumah tangga berjubah putih yang akan berlindung seumur hidup pada Sang Tathāgata. Mimpi agung ke tiga ini muncul padaNya [sebagai suatu pertanda] bahwa pencerahanNya [segera terjadi]. (4) “Ketika Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna … [bermimpi] bahwa empat ekor burung berbeda warna datang dari empat penjuru, jatuh di kakiNya, dan semuanya berubah menjadi putih, [ini adalah sebuah pertanda] bahwa anggota-anggota dari keempat kasta – khattiya, brahmana, vessa, dan sudda – akan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata dan merealisasikan kebebasan tertinggi. Mimpi agung ke empat ini muncul padaNya [sebagai suatu pertanda] bahwa pencerahanNya [segera terjadi]. (5) “Ketika Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna … [bermimpi] bahwa Beliau mendaki gunung kotoran yang besar tanpa terkotori oleh kotoran itu, [ini adalah sebuah pertanda] bahwa Beliau akan menerima jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit, dan Beliau akan menggunakannya tanpa terikat padanya, tanpa tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta terserap di dalamnya, melihat bahayanya dan mengetahui jalan membebaskan diri. Mimpi agung ke lima ini muncul padaNya [sebagai suatu pertanda] bahwa pencerahanNya [segera terjadi]. 

“Ini, para bhikkhu, adalah kelima mimpi agung itu yang muncul pada Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, sebelum pencerahanNya, sewaktu Beliau masih
menjadi hanya seorang Bodhisatta, belum tercerahkan sempurna.” 

CAHAYA
Dalam Kitab Suci Saṁyutta Nikāya, Sagāthā Vagga (Kindred Sayings I, 22), ada sesosok dewa yang datang kepada Sang Buddha dan dewa itu bertanya kepada Beliau, “ada berapakah sumber cahaya di dunia ini yang dengannya dunia ini diterangi? Kita harus bertanya kepada Sang Bhagava bagaimana memahami hal ini?”.  Buddha memberikan jawaban: “ada empat sumber cahaya di dunia ini; tidak ada yang kelima. Matahari bersinar di siang hari, bulan bersinar di malam hari, dan api menyala di sana-sini baik di siang hari maupun di malam hari. Namun Sang Buddha adalah yang terbaik dari semua cahaya itu. Beliau adalah cahaya yang tidak terlampaui. 
Kesimpulan
Sebulan lagi kita akan merayakan Trisuci Waisak 2562 TB, mengenang kembali Tiga Peristiwa Suci yang terjadi pada Guru Agung, marilah kita sambut Trisuci Waisak dengan lebih giat mendalami dan melaksanakan Dhamma agar Cahaya Buddha menerangi batin kita.

Sumber :
-Dhammapada, yayasan Dhammadipa Arama tahun 1985
-Seri Tipitaka Saṁyutta Nikāya, Dhammacitta Press tahun 2010
-Seri Tipitaka Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta Press tahun 2012

Dibaca : 2816 kali