x

MAKNA PERLINDUNGAN MENURUT ĀṬĀNĀṬIYA SUTTA

‘Uggaṇhātha, bhikkhave, āṭānāṭiyaṃ rakkhaṁ. Pariyāpuṇātha, bhikkhave, āṭānāṭiyaṁ rakkhaṁ. Dhāretha, bhikkhave, āṭānāṭiyaṁ rakkhaṁ. Atthasaṁhitāyaṁ bhikkhave, āṭānāṭiyā rakkhā bhikkhūnaṁ bhikkhunīnaṁ upāsakānaṁ upāsikānaṁ 
guttiyā rakkhāya avihiṁsāya phāsuvihārāyā’’ti
(DN 32: Āṭānāṭiya Suttaṁ)

    DOWNLOAD AUDIO

Apa yang dicari manusia dalam hidup ini? Hampir semua orang mengharapkan keselamatan, kebahagiaan, tidak dicelakai, dilindungi, dan merasa nyaman dalam kehidupannya. Keselamatan maupun kebahagiaan banyak dicari orang dan tentunya dengan cara dan tindakan yang berbeda. Ada yang dengan cara instan, dan ada yang apa adanya. Perlu diwaspadai di mana banyak penawaran yang dilakukan oleh para pelaku promosi keselamatan dan kebahagiaan. Jika kita salah masuk pada jaringan yang salah, maka kehidupan akan hancur dan merosot. Kebenaran bukanlah permainan yang bisa dipermainkan semau kita. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran merupakan jalan untuk mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, serta rasa nyaman karena tidak dicelakai. Untuk itu, dalam usaha mencari kebenaran harus dilandasi dengan motivasi positif dan pandangan benar yang terarah pada kebenaran yang sejati. Banyak orang mencari perlindungan maupun keselamatan, tetapi tidak dilandasi dengan motivasi positif dan pandangan benar sehingga orang tersebut terjebak pada komunitas aliran yang salah. 

Selektif dalam kebenaran adalah baik agar tidak terjebak pada pandangan salah. Ada satu kisah yang sangat menarik pada zaman Sang Buddha. Suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha, di puncak Nasar. Datang empat Raja dewa bersama serombongan besar Yakkha, Gandhabba, Kumbhaṇḍa, dan Nāga. Mereka membuat pengawalan barisan pertahanan, penjagaan di empat penjuru ketika malam hampir berlalu datang untuk menjumpai Sang Buddha, menerangi seluruh puncak Nasar dengan cahaya tubuh mereka, memberi hormat kepada Beliau dan duduk di satu sisi. Beberapa Yakkha memberi hormat kepada Beliau dan duduk di satu sisi. Kemudian dengan mereka merangkapkan tangan di depan dada, mereka menyebutkan nama dan suku mereka. Raja Dewa bernama Vessavaṇa berkata kepada Sang Buddhā: ada beberapa Yakkha yang menonjol, tetapi tidak memiliki keyakinan kepada Sang Bhagavā. Demikian pula ada Yakkha peringkat menengah dan rendah yang tidak berkeyakinan terhadap Sang Bhagavā. Tetapi Bhagavā, sebagian besar Yakkha tidak berkeyakinan terhadap Sang Bhagavā, mengapakah?

Kemudian, Sang Bhagavā berkata: “Saya mengajarkan menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari pelanggaran seksual, menghindari berbohong, dan menghindari minuman keras, maupun obat-obatan yang menyebabkan kelambanan. Tetapi, sebagian besar Yakkha tidak menghindari hal-hal ini, dan melakukan hal-hal ini yang tidak enak dan tidak menyenangkan bagi mereka. Sekarang, Bhagavā ada pula para siswa Sang Bhagavā yang menetap di tengah hutan belantara yang jauh dari keramaian, di mana hanya ada sedikit suara teriakan, cocok untuk melatih diri. Ada Yakkha yang menonjol, menetap di sana yang tidak berkeyakinan terhadap Sang Bhagavā. Untuk memberikan kepercayaan diri kepada orang-orang ini, kemudian Sang Bhagavā mengajarkan, dan mengulang kembali syair-syair perlindungan Āṭānāṭā. Dengan para bhikkhu maupun bhikkhunī, para umat awam laki-laki dan perempuan ketika mengulang syair-syair perlindungan ini akan terselamatkan, tidak dicelakai, dilindungi, dan merasa nyaman. Kemudian Sang Bhagavā menyetujui dengan berdiam diri mendengarkan Syair-syair Perlindungan Āṭānāṭā yang dibacakan oleh Raja Vessavaṇa sebagai berikut:
“Terpujilah Vipassī, yang megah berpengelihatan tajam. Terpujilah Sikhī yang penuh belas kasihan terhadap semua makhluk. Terpujilah Vessabhū yang bermandikan pertapaan murni. Terpujilah Kakusandha penakluk bala tentara Māra. Terpujilah Konagamana, sang Brahmana yang sempurna. Terpujilah Kassapa yang telah terbebas dalam segala hal. Terpujilah Angīrasa, Putra Sakya yang bersinar. Sang Guru Dhamma yang mengatasi penderitaan. Mereka yang terbebaskan dari dunia ini, melihat jantung dari segala hal, mereka yang lembut bahasanya, kuat dan juga bijaksana. Kepada-Nya yang membantu Para Dewa dan manusia, Kepada Gotama mereka memuja: terlatih dalam kebijaksanaan, juga dalam perilaku yang kuat dan juga cepat bertindak. ‘Dari titik di mana matahari muncul, Anak Aditya dalam pancaran Agung, kemunculannya menyebabkan malam yang menyelimuti disingkirkan dan lenyap. Sehingga dengan terbitnya matahari, muncullah apa yang mereka sebut siang. Juga air yang banyak dan bergerak ini, dalam dan lautan yang perkasa bergelombang. Orang-orang ini mengetahui dan ini yang mereka sebut Samudera atau lautan bergelombang. Arah ini adalah timur yang merupakan pertama, arah inilah dijaga oleh seorang Raja yang memiliki kemasyhuran dan kekuasaan besar.”

Setelah usai membacakan syair-syair perlindungan Āṭānāṭā, sebagai manfaat perlindungan yang dengan para bhikkhu maupun bhikkhunī, serta para umat awam laki-laki ataupun perempuan akan dikawal, dilindungi, tidak dicelakai dan merasa nyaman. Jika bhikkhu maupun bhikkhunī, umat awam laki-laki ataupun perempuan manapun juga, mempelajari syair-syair ini dengan baik, memahaminya, menghafalkannya dalam hati, jika makhluk-makhluk bukan manusia mana pun juga, yakkha laki-laki ataupun perempuan atau anak-anak yakkha atau pemimpin pelayan atau pelayan yakkha, gandhabba laki-laki atau perempuan, kumbhaṇḍa, nāga, mendatangi orang itu dengan niat jahat ketika ia sedang berjalan, atau hendak berjalan. Berdiri atau hendak berdiri, duduk atau hendak duduk, berbaring atau hendak berbaring, maka makhluk bukan manusia itu tidak akan dihormati dan disembah di desa dan kota. Makhluk itu tidak akan mendapatkan tempat tinggal di ibu kotaku Āḷakamandā, ia tidak akan diizinkan menghadiri pertemuan para yakkha, juga tidak diterima dalam suatu pernikahan. Semua makhluk bukan manusia, dengan kemarahan, akan mengecamnya, kemudian mereka akan merenggut kepalanya seperti makhluk kosong, dan mereka akan memecahkan kepalanya menjadi tujuh keping.

Syair-syair perlindungan Āṭānāṭā setelah selesai dibacakan oleh Raja Dewa Vessavaṇa, keempat Raja Dewa berdiri, memberi hormat kepada Sang Bhagavā dan kemudian lenyap. Para Yakkha berdiri, dan beberapa memberi hormat kepada Sang Bhagavā dan kemudian lenyap. Beberapa saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā dan memberi hormat kepada Beliau dengan merangkapkan tangan, dan mereka semua lenyap. Ketika malam berlalu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, kalian harus mempelajari syair-syair perlindungan Āṭānāṭā, menguasainya, maupun menghafalnya. Itu merupakan keuntungan kalian, dan dengannya para bhikkhu maupun bhikkhunī, para awam laki-laki dan perempuan akan dikawal, dilindungi, tidak dicelakai, dan merasa nyaman. Demikianlah Sang Bhagavā berbicara kepada para bhikkhu, Para bhikkhu senang dan bergembira mendengar kata-kata Beliau.


Dibaca : 1763 kali