x

RAPUH Seperti BUNGA

Na kiñci parivajjeti. Sabbamevā-bhimaddati.
Tak seorangpun akan terhindar. Kelapukan dan kematian menerjang semuanya.
-Samyutta Nikāya, Sagāthāvagga-

    DOWNLOAD AUDIO

Rapuh

Hidup ini rapuh, kehilangan dan kematian mengintai serta menyergap kita setiap saat.  Adi dan Alex, adalah kakak adik yang baru lulus SMA dan SMP. Belum genap setahun mereka kehilangan Ibu tercinta, menyusul kematian kakek, dan selang seminggu kemudian kematian ayah mereka tercinta.
Seseorang bercerita, "Sebetulnya ayah mereka telah sakit lama, tak ada yang menduga ternyata Ibunya meninggal lebih awal. Sekarang hanya mereka berdua di rumah."
Kami bertemu siang itu saat mendaraskan paritta untuk perkabungan ayah mereka di sebuah rumah duka di Balikpapan. 
Malamnya, dalam kegiatan SPD (Sebulan Pendalaman Dhamma) di Mahāvihara Buddha-Manggala, yang kebetulan bertema, "Bahagia now, kenapa tidak?!" Saya menceritakan kisah mereka. 
Seseorang memberitahu saya keesokan harinya, ternyata Adi dan Alex hadir saat SPD itu. Saya tidak begitu detail memperhatikan mereka, dua orang remaja yang sering terlihat senyum dan sesekali tertawa itu adalah Adi dan Alex.
Saya terharu sekaligus bangga dengan sikap mereka. Jujur malam itu saya menuturkan kisah dua remaja yatim piatu itu dengan sedikit baper, saat itu tiba-tiba kerongkongan saya tercekak dan suara sejenak berhenti karena terlintas ayah saya yang meninggal tahun lalu. 
"Kadang, anak-anak memberi kita pelajaran. Mereka lebih sanggup bahagia saat ini, meski situasi bisa menyeret emosi kita ke arah sebaliknya. Sungguh beruntung kita melihat langsung, dan terinspirasi dengan pembawaan dua remaja itu. Tetap tegar, mampu tenang selama upacara, dan menang dalam pertarungan menenangkan diri."
Di kesempatan lain, beberapa tahun lalu, saya hadir dalam sebuah upacara berkabung di Jawa Tengah. Seorang Ibu muda yang baru memiliki dua anak yang masih belia, menggigil di hadapan peti jenasah suaminya yang tak lama lagi akan dikremasi. 
Kelopak matanya bengkak, tubuhnya menggigil, memang tak ada raungan, tapi isakan yang dalam, nyaris tak bersuara, tersengal seperti seorang pengidap asma akut, dan sekujur tubuhnya bergetar. 
Beberapa bhikkhu hadir di sana, demikian juga umat yang turut hadir melayat. Berkalikali saya menarik nafas panjang, memejamkan mata, membayangkan seperti apa perasaannya. Banyak yang hadir tak kuasa menahan haru.
Banyak di antara kita yang sangat beruntung, tidak pernah berada pada kondisi itu. Perasaan mendalam karena kehilangan bisa menjelma aliran energi yang sanggup mengguncang hebat seluruh tubuh.
Di suatu tengah malam, tubuh saya menggigil hebat lalu memuntahkan semua isi perut. Rekaman memori akan Ibu itu muncul. 
Tapi saya masih beruntung, menggigil hebat bukan karena sedang menatap peti mati, meski di samping ranjang tidur saya terbaring bapak yang juga sedang sakit. 
Dan seperti melihat orang lain, ada bagian dari batin ini memberi petunjuk untuk memejamkan mata, menarik nafas panjang, dan mengamati apa yang sedang terjadi...  Kemudian tangan meraih tombol bell, perawat tiba dan tak lama menyuntikkan obat demam. 
Sebetulnya, jika kita berbesar hati dan membuka mata untuk melihat ke luar, penderitaan yang kita alami masih kalah hebat. Ada teman bhikkhu kami asal Nias yang kehilangan kedua orangtua dan hampir semua keluarganya dalam bencana Tsunami Tahun 2004.

Laksana bunga

Kita mungkin tak asing, selalu ada bunga di setiap ada acara duka atau avamanggala Umat Buddha. Seolah memberi tahu kita bahwa selalu ada keindahan meski berada pada kondisi mengecewakan dan menyedihkan.
Bunga adalah simbol sempurna yang bercerita tentang kehidupan, juga tentang kematian.
Kapanpun bunga mekar, ia sesungguhnya sedang berjalan untuk beranjak layu. Saat kita lahir, kita telah memulai langkah menuju kematian. Bertambah hari, bertambah dekat kita dengan kematian. Kelahiran kita sudah terjadi, dan kematian akan terjadi.
Lalu apa manfaat bunga di rumah duka, atau bagi keluarga yang berduka jika tak sanggup menghidupkan orang yang telah meninggal? 
Bunga adalah pesan indah yang bertengger dengan tegar di antara keluarga yang masih ada dan yang telah tiada. Ia tak hanya memberikan keindahan, tetapi juga keharuman. Tak hanya wangi, tapi juga menginspirasi, meski usianya sebentar.
Simbol dari bunga jelas tidak untuk menghidupkan orang mati, tetapi membangunkan kesadaran kita, juga semangat, keceriaan, kebajikan juga ketulusan kita yang hampir mati karena kegelapan, karena kemelekatan, kekecewaan, dan kesedihan.
Hidup ini rapuh, tapi sanggup tegar dengan jiwa kokoh, tenang, berdamai dengan diri sendiri, dan tetap berbuat baik adalah pilihan hebat.

Yathāpi puppharāsimhā.  
Kayirā mālāguṇe bahu. 
Evam jātena maccena.  Kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ.
Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga. Demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
(Dhammapada 53)

Dibaca : 668 kali