x

MEMPRAKTIKKAN DHAMMA DAN MANFAATNYA

Akataṁ dukkaṭaṁ seyyo, pacchā tappati dukkaṭaṁKatañ ca sukataṁ seyyo, yaṁ katvā nānutappati. Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukanperbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak akan menyesal. (Dhammapada: 314) 


    DOWNLOAD AUDIO

Kemunculan seorang Buddha sangatlah jarang, apabila orang suci dan bijaksana itu muncul di dunia ini akan membawa berkah bagi umat manusia dan makhluk lainnya. Keberkahan yang kita dapatkan hingga pada saat ini adalah kita dapat belajar Dhamma. Dengan mempelajari Dhamma kita memperoleh pengertian yang benar dalam menjalani kehidupan sebagai manusia. Cara hidup yang sesuai dengan Dhamma akan melahirkan kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman dan dapat terbebas dari segala bentuk penderitaan.

Tapi tidak semua orang menyadari kesempatan baik ini, sebagian besar di antara kita telah menyia-nyiakan waktu berlomba untuk mengejar kesenangan indria yang tidak pernah merasa puas. Kesenangan indria sedikit dan sebentar memberikan kepuasan, setelah itu akan lenyap. Dalam banyak kasus, tidak sedikit juga manusia mengalami kekecewaan, putus asa dan masalah besar lainnya. Mereka sangat tertekan dan menderita, meskipun secara materi tidak kekurangan.
Menurut Buddha, kebahagiaan dan penderitaan datang bukan dari pemberian hadiah ataupun hukuman dari makhluk dewa tertentu, melainkan hasil dari perbuatan kita masing-masing. Kebahagiaan datang sebagai berkah adalah akibat dari perbuatan baik dan sebaliknya penderitaan datang dari perbuatan jahat yang telah dilakukannya.

Pada kesempatan ini, beruntunglah anda yang mempunyai kesempatan baik dengan sabar belajar dan mendengarkan pembabaran Dhamma yang sering disampaikan oleh para bhikkhu dan pembabar Dhamma lainnya. Langkah selanjutnya adalah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah praktik Dhamma sebagai kebutuhan bagi batin ini. Setiap hari tubuh kita perlu makanan dan minuman agar tetap sehat dan kuat, demikian juga dengan batin kita memerlukan makanan (Dhamma). Seandainya batin kita tidak mendapatkan makanan yang cukup, lama-kelamaan batin kita juga akan menjadi lemah, kalau dibiarkan akan menjadi sakit. Batin yang lemah, hingga sakit bila tidak diobati menjadi batin yang mati. Hal ini tentu saja sangat membahayakan dan merugikan bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang lain.

Kehidupan manusia modern banyak perubahan menuju kemajuan secara pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang, manusia modern juga semakin pandai dan cerdas. Dengan pengetahuan dan teknologi yang digunakan manusia sebagai alat untuk mempermudah memperoleh kebutuhan dan tujuan hidupnya. Tetapi perlu kita sadari juga, kehidupan manusia modern tingkat penderitaannya juga meningkat. Sebab tidak sedikit kehidupan manusia jaman sekarang menderita karena stress, tertekan, ketakutan dan kekhawatiran dalam hidupnya. Persoalan lainnya juga bertambah, seperti merosotnya etika kemanusiaan di masyarakat, menipisnya tata krama dan budaya santun. Sebaliknya, kecenderungan berperilaku buruk semakin meningkat, tingkat kriminalitas seperti pembunuhan, terorisme, pencurian, perampokan, korupsi, pemerkosaan, kebohongan, penipuan, ujaran kebencian, fitnah, mabuk-mabukan dan penyalahgunaan narkoba serta maraknya kejahatan lainnya yang tidak pernah habis-habisnya.

Beberapa waktu lalu, ada sekelompok anak muda yang dengan sengaja menjatuhkan batu dari atas jembatan tol Tangerang-Merak dan mengenai beberapa mobil yang lewat. Setelah melakukan aksinya, mereka sama sekali tidak memikirkan bahaya para pengendara, justru merasa puas dan senang dengan apa yang dilakukannya. Kasus lain yang sedang marak di ibukota ini adalah aksi jambret dan begal motor yang tidak segan-segan merampas barang milik korban hingga membunuhnya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan perilaku orang-orang yang sedang sakit mental yang sekarang ini sudah menyebar ke berbagai penjuru. Lalu sebenarnya siapakah orang-orang yang sedang sakit mental itu? Sakit mental bisa saja terjadi pada diri kita, keluarga kita, sahabat kita dan orang lain. Apa yang menjadi sebab dari sakit mental?

Sang Buddha telah mengetahui dengan jelas akar dari penyebab sakit mental itu, yaitu bermula dari keserakahan dan keterikatan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Bagaimana seseorang bisa sembuh dari sakit mental? Beliau telah menunjukkan cara yang tepat atau obat yang mujarab untuk mengakhiri penderitaan dan sakit mental, yaitu dengan mempraktikkan Dhamma secara benar dengan melaksanakan Sīla, Samādhi, dan Pañña yang sering disebut sebagai Jalan Tengah Berunsur Delapan, yaitu:
1.Samm¬ādiṭṭhi: Pengertian Benar. Mempunyai pengertian yang benar akan adanya hukum kamma, empat kebenaran mulia, adanya kelahiran kembali, manfaatnya melakukan perbuatan baik, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan lain-lain.
2.Sammāsaṅkappa: Pikiran Benar. Mempunyai pikiran cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk, tidak dendam, tidak benci, tidak serakah dan sebagainya.
3.Sammākamanta: Perbuatan Benar. Menghindari semua perilaku buruk melalui perbuatan jasmani seperti membunuh, berjinah, bermabuk-mabukan dan sebagainya. 
4.Sammāvācā: Ucapan Benar. Meng-hindari ucapan bohong, memfitnah, berkata kasar, omong kosong, dan sebagainya.
5.Sammā-ājiva: Penghidupan Benar. Menghindari mengambil barang orang lain yang tidak diberikan oleh pemiliknya.
6.Sammāvayama: Berdaya Upaya benar. Berupaya mencegah sifat-sifat buruk supaya tidak muncul, berupaya melenyapkan sifat-sifat buruk yang sudah muncul. Sebaliknya, berupaya memunculkan sifat-sifat baik yang belum muncul, berupaya mempertahankan sifat-sifat baik yang sudah ada.
7.Sammāsati: Perhatian Benar. Mengembangkan kesadaran murni yang ada di dalam dirinya, me-ngembangkan sati sampajañña, mengembangkan perhatian terhadap badan dan jasmani, dan sebagainya.
8.Sammāsamādhi: Konsentrasi Benar. Mengembangkan bhāvanā hingga mencapai tahapan-tahapan ketenangan batin (jhāna).

Dalam praktik real-nya diawali dari pelaksanaan Sīla, Samādhi, dan Pañña. Jadi tiga hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya karena merupakan satu jalan. Hanya dalam hal mana yang lebih menonjol saja dapat dikatakan melaksanakan Sīla, Samādhi, dan Pañña.

Jadi di mana kita harus mencabut atau mengakhiri penderitaan dan perilaku buruk? Melenyapkan penderitaan dan perilaku buruk harus pada akarnya, yaitu keserakahan dan keterikatan, kebencian serta kebodohan batin. Jadi yang harus kita lakukan adalah melenyapkan kemelekatan atau keterikatan, kebencian serta kebodohan batin. Begitu pula kekayaan, kekuasaan dan pangkat tidak akan menimbulkan penderitaan dan penyakit yang baru, bila tidak ada kemelekatan atau keterikatan kepadanya. Bagaimana caranya penderitaan itu muncul, begitu pula dengan cara yang sama penderitaan itu harus dilenyapkan.

Untuk mengobati berbagai penyakit mental dan kejahatan di jaman modern saat ini, Sang Buddha telah memberikan obat sebagai penawar kepada kita dengan mempraktikkan Dhamma seperti yang disampaikan Beliau dalam Dhammapada 314: Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukan perbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak akan menyesal.

Demikianlah cara menggunakan obat (Dhamma) untuk menurunkan penderitaan dan penyakit mental hingga tuntas sampai ke akar-akarnya. Dengan demikian, kehidupan yang damai dan bahagia akan kita peroleh dalam kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang hingga tercapainya Nibbāna.

Dibaca : 2173 kali