x

DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA (Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dhamma)

DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA

(Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma)

    DOWNLOAD AUDIO

Pada hari Āsādha ini lebih dari 2500 tahun yang lalu, Buddha mengajarkan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, kepada lima orang petapa yang bernama Koṇḍañña, Vappa, Bhaddiya, Mahānāma, dan Assaji. Pengajaran yang diberi nama Dhammacakkappavattana Sutta, Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma, yang menyebabkan lima petapa mencapai tingkat kesucian Sotapanna; Koṇḍañña yang pertama kali mencapai kesucian disusul dengan yang lainnya. Mereka semuanya mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah mendengar khotbah kedua, yaitu Anattalakkhana Sutta atau Khotbah tentang Tanpa Inti, lima bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian Arahat.  

Peristiwa penting pada hari Āsādha yaitu terbentuknya Ariya Saṅgha yang terdiri dari enam orang suci, yaitu Buddha dan lima bhikkhu. Sejak saat itu Tiratana atau Tiga Permata yang terdiri dari Buddharatana, Dhammaratana, dan Saṅgharatana. Demikian pula Tisaraṇa atau Tiga Perlindungan sudah lengkap, yaitu Perlindungan untuk Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.

Khotbah dimulai dengan penjelasan tentang dua cara ekstrim yang harus dihindari oleh petapa, yaitu:
1) Mengumbar nafsu indriya (kāmasukhallikānuyoga), dan
2) Menyiksa diri (attakilamathānuyoga)

Jalan Tengah yang terhindar dari kedua jalan ekstrim itu, yang telah sempurna diselami oleh Sang Tathāgata, membuka mata batin, menghasilkan pengetahuan, membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna. Jalan Tengah yang dimaksud adalah Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga), yang terdiri dari:
1. Pandangan Benar (sammā diṭṭhi)
2. Pikiran Benar (sammā saṅkappa)
3. Ucapan Benar (sammā vācā)
4. Perbuatan Benar (sammā kammanta)
5. Penghidupan Benar (sammā ājῑva)
6. Usaha Benar (sammā vāyāma)
7. Perhatian Benar (sammā sati)
8. Konsentrasi Benar (sammā samādhi) 

Kemudian Buddha menjelaskan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, yaitu:
I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha. 
Kelahiran, masa tua, kematian, ratap tangis, penderitaan jasmani, kepedihan hati, kekecewaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang disenangi, tidak mendapat apa yang diinginkan adalah dukkha.
II. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha.
Kesenangan (taṇhā), inilah yang membuat kelahiran kembali, yang terpisah dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek di sana sini, yaitu: kāmataṇhā (Pelajaran nafsu inderawi), bhavataṇhā (pujian terhadap kemenjadian), dan vibhavataṇhā (Suara atas ketidakmenjadian) .
III. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha.
Musnahnya kenikmatan itu tanpa sisa karena nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya menyenangkan, terbebas dari menyenangkan, tak kilat oleh menyenangkan.
IV. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.
Jalan menuju musnahnya dukkha adalah Jalan Mulia berunsur Delapan, Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar. 

Empat Kebenaran Mulia oleh Sang Tathāgata dalam Tiga Tahap dan Dua Belas Ciri Pandangan. Tiga tahap itu adalah: 
1) Pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia (sacca ñāṇa), 
2) Pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan tentang Empat Kebenaran Mulia (kicca ñāṇa), dan 
3) Pengetahuan tentang apa yang telah dilakukan dengan Empat Kebenaran Mulia itu (kata ñāṇa).

Dari Tiga Tahap Pengetahuan, maka Empat Kebenaran Mulia dijelaskan dalam Dua Belas Ciri, yaitu:
I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha.
1. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Dukkha. 
2. Kebenaran Mulia tentang Dukkha patut dipahami (pariññeyya).
3. Kebenaran Mulia tentang Dukkha telah dipahami (pariññāta).
II. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha.
4. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha. 
5. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha patut dihindari (pahātabba).
6. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha telah dihindari (pahῑna).
III. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha.
7. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha. 
8. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha patut dicapai (sacchikātabba).
9. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha telah dicapai (sacchikāta).
IV. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.
10. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.
11. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha patut dikembangkan (bhāvetabba).
12. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha telah dikembangkan (bhāvita).

Ketika pemahaman tentang pengetahuan yang sebenarnya tentang Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari tiga makna dan dua belas ciri yang ada pada Sang Tathāgata telah sempurna, maka pada saat itu Sang Tathāgata mengatakan bahwa orang yang mencapai Penerangan Sempurna, nan tiada bandingnya dunia, di alam dewa , alam mara, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, dan manusianya. Timbullah dalam diri Sang Tathāgata pengetahuan dan pengertian, ”Tak tergoncangkan kebebasan batin-Ku. Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi. "

Setelah mendengar sabda Sang Bhagavā, lima petapa yang merasa puas dan bersuka cita atas sabda Sang Bhagavā. 

Ketika Roda Dhamma (Dhammacakka) Diputar oleh Sang Bhagava, di Taman Rusa Isipatana, dekat kota Bārāṇasῑ, yang tidak dapat dideteksi oleh para samana, brahmana, dewa, mara, brahma, atau memuaskan juga di dunia, seketika itu juga. alam Dewa Cātummahārājika, Tāvatiṁsa, Yāma, Tusita, Nimmānarati, Paranimittavasavatti, hingga para dewa yang bersemayam di alam brahma. 

Pada saat itu juga, terdengar berkumandang hingga menembus ke alam brahma. Serentak sepuluh ribu tingkat alam berguncang, bergetar, bergoyah, dan sinar gilang-gemilang yang tiada taranya muncul di dunia melebihi kemampuan cahaya kedewaan. 

Sumber: Book of the Kindred Sayings (Saṁyutta Nikāya) jilid 5 halaman 356

Dibaca : 2838 kali