x

PENJAJAH BATIN

Dua hari yang lalu kita merayakan hari kemerdekaan Negara tercinta Republik Indonesia, kita merayakan proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, merdeka dari bangsa penjajah. Bangsa kita telah dijajah oleh bangsa-bangsa penjajah ratusan tahun lamanya, ketika dijajah hidup sebagian rakyat Indonesia sangat menderita, kebebasannya terkekang, tidak dapat menikmati ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian, serta kebebasan hidup dan berkarya. 

    DOWNLOAD AUDIO

Karena sudah tidak tahan untuk menderita lebih lama lagi, Bangsa Indonesia menginginkan kemerdekaan yang terbebas dari tekanan, siksaan, perbudakan, serta pelecehan terhadap hak-hak asasi manusia. Oleh karena itu dengan tekad yang bulat untuk meraih kemerdekaan, rakyat Indonesia mengerahkan segenap daya upayanya, berjuang untuk meraih kemerdekaan, tidak terkatakan seberapa besarnya pengorbanan yang harus direlakan demi meraih kemerdekaan itu.
Kini bangsa kita telah merdeka, merdeka dari penjajahan secara fisik, tetapi apakah sekarang kita telah menikmati kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kehidupan yang bebas seperti yang kita dambakan? Sepertinya hal itu belum dapat kita raih. Kalau dulu kita dijajah secara fisik oleh bangsa-bangsa penjajah, ternyata sekarang pun kita masih dijajah, namun penjajahnya tidak nampak secara fisik, penjajah itu bersembunyi dalam batin kita sendiri, dan ketika penjajah itu muncul kita tidak mampu melawannya, kita pasrah menuruti kemauannya, dan tanpa disadari kita semakin terikat pada penjajah itu, kita tidak mampu melepaskan diri darinya.
Siapakah penjajah yang berkuasa di dalam batin kita itu? Penjajah batin itu adalah Lobha, Dosa, dan Moha.
Lobha adalah keserakahan, termasuk dalam kelompok lobha adalah: ketamakan, kekikiran, kemabukan. Menginginkan barang milik orang lain, bisa juga dikatakan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki, ingin terus-menerus mencari kesenangan-kesenangan, apa pun caranya akan ditempuh demi keinginannya terpenuhi, keinginan pada nafsu-nafsu indera. Kemelekatan dan kerinduan atau kesenangan terhadap kenangan yang indah, kerinduan terhadap seseorang, keinginan untuk tetap cantik atau gagah, keinginan untuk menjadi terkenal, dan lain-lain yang tergolong keinginan untuk me-miliki sesuatu dan tidak mau melepaskan segala yang telah dimiliki.
Dosa adalah kebencian, termasuk dalam kelompok dosa adalah kemarahan, dendam, keirihatian. Tidak suka terhadap seseorang, tidak suka kepada diri sendiri, cemburu pada seseorang, iri hati atas keberhasilan yang dicapai oleh orang lain, serta hal-hal lainnya yang tergolong keinginan untuk menolak sesuatu.
Moha adalah kebodohan batin, pengertian bodoh di sini bukan bodoh karena tidak bisa menulis, bukan bodoh karena tidak bisa membaca, tetapi bodoh yang dimaksud adalah bodoh batinnya. Ia tidak memiliki pengertian benar bahwa ada perbuatan baik yang harus dilakukan dan ada perbuatan jahat yang semestinya ditinggalkan. Parbuatannya cenderung pada hal-hal yang buruk, karena bodoh batinnya ia menganggap kejahatan wajar dilakukan, termasuk juga dalam kebodohan batin ini adalah meremehkan/merendahkan jasa/kualitas orang lain, kepalsuan, keras kepala, tidak mau kalah/mau menang sendiri, kesombongan dan kelengahan.
Penjajah batin tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, tidak hanya dalam kehidupan ini akan mendatangkan penderitaan, tetapi juga dalam kehidupan yang akan datang akan mengkondisikan terlahir ke alam-alam rendah/derita. Di dalam Itivuttaka dijelaskan bahwa: ”Sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan lahir di alam Peta/setan karena kekuatan dari Lobha. Sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan lahir di alam Neraka karena kekuatan dari Dosa. Dan sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan lahir di alam Binatang karena kekuatan dari Moha.
Dalam kehidupan ini, seseorang yang dikuasai oleh Lobha, Dosa, dan Moha, kehidupannya tidak tentram, tidak damai, tidak bahagia, dan selalu membuat masalah baik di dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, di tempat kerja, dan di mana pun dia berada.
Ada satu cerita perumpamaan yang berhubungan dengan penjajah batin ini:
Ada Seekor anjing yang mencari tempat untuk tidur, dilihatnya kesejukan di bawah pohon mangga, ia pergi ke sana untuk tidur. Setelah beberapa saat ia di sana, ia menggaruk-garuk badannya dan merasakan tempat itu tidak nyaman. Lalu ia pergi mencari tempat lain, ia melihat pohon rambutan yang rindang, dan merasa begitu sejuknya bila tidur di bawah pohon rambutan tersebut. Beberapa saat setelah berbaring, kembali ia menggaruk-garuk badannya, ternyata di bawah pohon rambutan pun terasa tidak nyaman. Akhirnya ia bangkit menuju kolong meja yang terlihat begitu menyenangkan, dan di sana pun ia tidak bertahan lama. Begitulah si anjing yang selalu berpindah-pindah tempat, mencari-cari tempat yang nyaman baginya. Apa yang menyebabkan ia selalu menggaruk-garuk badannya? Dipikirnya adalah tempat di mana ia berteduh adalah pe-nyebabnya. Padahal penyebab utama adalah kutu-kutu yang bersarang di badannya, yang membuat ia tidak nyaman. Selama kutu-kutu itu belum dibersihkan dari badannya, maka di mana pun ia berada, ia tidak akan merasakan kenyamanan. Begitu pula bila penjajah batin ini belum kita musnahkan dalam batin kita, di mana pun kita berada, tidak akan kita capai kedamaian, ketenangan, dan ke-bahagiaan.
Bagaimanakah agar kita terbebas dari penjajah batin ini?  Lobha/nafsu serakah dicegah dengan Alobha/tidak nafsu serakah yaitu dengan cara mengembangkan San- 
tuṭṭhῑ/merasa puas dengan apa yang telah dimiliki dan merenungkan serta memahami tentang ketidakkekalan dan kelapukan dari tubuh ini. 
Dosa/kebencian dicegah dengan Adosa/tidak membenci yaitu dengan cara mengembangkan Mettā Bhāvanā/ cinta kasih. 
Moha/kebodohan batin dicegah dengan Amoha/batin yang tidak bodoh, yaitu dengan mengembangkan Paññā/kebijaksanaan, mengerti bahwa perbuatan baik akan mengakibatkan kebahagiaan, dan perbuatan jahat akan mengakibatkan penderitaan. Bila bisa meninggalkan dan melenyapkan penjajah batin ini maka tercapai kesucian. Dan untuk mengikis atau melenyapkan penjajah batin ini, maka hendaknya kita melakukan praktik Vipassanā Bhāvanā. 
Dengan mengerti bahwa betapa berbahaya penjajah batin ini, maka mari kita berusaha untuk mengikisnya. Kalaupun kita belum mampu mengikisnya, setidaknya kita berusaha untuk menekan agar jangan sampai batin kita terus-menerus dikuasai oleh si penjajah batin (Lobha, Dosa, Moha).






Oleh: Bhikkhu Hemadhammo
Minggu, 19 Agustus 2018

Dibaca : 816 kali