x

HIDUP BUTUH KEKUATAN

Puññañce puriso kayirā, kayirāthenaṁ punappunaṁ,
tamhi chandaṁ kayirātha, sukho puññassa uccayo.
"Apabila seseorang berbuat bajik, hendaknya ia mengulangi perbuatan itu 
dan bersuka cita atas perbuatan itu, sungguh bahagia dari menumpuk perbuatan bajik."
(Dhammapada 118)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam menjalani perjalanan hidup ini, kita membutuhkan kekuatan yang dapat menopang di kala kita lemah ketika menghadapi problem serta penderitaan yang dialami. Problem atau masalah yang dialami adalah salah satu bentuk penderitaan yang tak menyenangkan. Jika seseorang menghadapi masalah kehidupan dengan tidak benar, maka daftar penderitaan akan semakin panjang. Agar dapat mencegah munculnya sebuah masalah dan penderitaan yang disebabkan oleh kekeliruan diri sendiri, kita membutuhkan kekuatan dan keberanian yang benar sesuai Dhamma.

Dalam Aṅguttara Nikāya V.6 (Gradual Sayings III,1-2), Sang Buddha mengatakan ada lima kekuatan seorang suciwan dalam latihan (sekha) yaitu; kekuatan keyakinan, kekuatan rasa malu, kekuatan rasa takut moral, kekuatan semangat, dan kekuatan kebijaksanaan. 

1.Apakah kekuatan keyakinan (Saddhābala) itu? 
Di sini, seseorang hendaknya memiliki keyakinan; dia menempatkan keyakinan pada pencerahan Sang Tathagata: Beliau adalah yang Maha Suci, yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna pengetahuan serta Tindak-Tanduk-Nya, Sempurna menempuh jalan ke Nibbāna, pengetahu segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan. 

Keyakinan terhadap guru Agung kita amatlah penting untuk menumbuhkan kekuatan dalam hidup kita. Jika kita ragu terhadap guru Agung Buddha, berarti kita ragu terhadap tindak-tanduk yang Buddha tunjukkan dan ajarkan (Dhamma). Dengan demikian, kita akan lemah dan beresiko untuk masuk ke jalan yang tercela dalam menjalankan kehidupan ini. Inilah kekuatan keyakinan, yakin dengan Sang Buddha, berarti kita yakin terhadap Dhamma serta praktik Dhamma.

2.Apakah kekuatan rasa malu (Hiribala) itu? 
Di sini, seseorang  memiliki rasa malu; dia malu akan perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran; dia malu akan apa pun yang jahat dan tak bermanfaat. Ini disebut kekuatan rasa malu.
Dengan gigih selalu mengarahkan diri kita untuk selalu malu setiap perbuatan yang tidak membawa manfaat. Jika semua orang tidak punya rasa malu atas perbuatan salahnya secara terus-menerus, maka orang tersebut akan melakukan kesalahan yang sama dan berakhir pada penderitaan. Dengan memiliki rasa malu terhadap perbuatan buruk, muncullah bahagia.

3.Apakah kekuatan takut moral (Ottappabala) itu? 
Di sini, seseorang hendaknya memiliki takut moral; dia takut akan perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran; dia takut akan apa pun yang jahat dan tidak bermanfaat. Dalam Dhammapada 173, Buddha mengatakan “Yassa pāpaṁ kataṁ kammaṁ, kusalena pidhīyati, somaṁ lokaṁ pabhāseti, abbhā muttova candimā, artinya: seseorang yang meninggalkan perbuatan jahat dan menggantikannya dengan perbuatan baik, maka ia akan menerangi seluruh dunia seperti bulan yang tidak tertutup oleh awan.” Pentingnya agar kita cepat menggantikan perbuatan jahat dengan perbuatan baik, agar kita mendapatkan kekuatan yang dapat menopang di dalam kehidupan kita.

4.Apakah kekuatan semangat (Viriyabala) itu? 
Di sini, seseorang hendaknya hidup dengan semangat yang ditujukan untuk menghilangkan segala sesuatu yang tak bajik dan memperoleh segala sesuatu yang bajik; dia mantap dan kuat di dalam usahanya, tidak menghindari tugasnya sehubungan dengan sifat-sifat yang bajik.
Selama ada semangat yang gigih yang diarahkan pada sifat-sifat yang bajik, maka apa yang tak bajik tidak akan mendapat jalan masuk ke dalam hidup kita. Tetapi ketika semangat seperti itu lenyap dan kemalasan mencengkeram dan bertahan, maka apa yang tak bajik akan mendapat jalan masuk.

5.Apakah kekuatan kebijaksanaan (Panññābala) itu? 
Di sini, seseorang hendaknya bersifat bijaksana; ia mengetahui timbul lenyapnya fenomena dan mengetahui jalan untuk mengakhiri penderitaan; selama ada kebijaksanaan dan sifat-sifat yang bajik, maka apa yang tak bajik tidak akan mendapat jalan masuk ke dalam diri kita. Tetapi ketika kebijaksanaan seperti itu tidak ada maka kebodohan mencengkeram dan bertahan, maka apa yang tak bajik akan mendapat jalan masuk dan akhirnya kita menderita. Karena itu, kekuatan kebijaksanaan dalam segala hal sangat dibutuhkan.

Inilah lima kekuatan yang telah Sang Buddha tunjukkan kepada kita,  agar kita kuat dalam menjalani hidup ini. Di dalam Dhammapada, Attavagga 165, Sang Buddha bersabda, “Attanā hi kataṁ pāpaṁ, attanā saṁkilissati, attanā akataṁ pāpaṁ, attanāva visujjhati suddhī asuddhi paccattaṁ, nāñño aññaṁ visodhaye", yang artinya "oleh diri sendiri kejahatan diperbuat, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan dihindari, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau ternoda tergantung pada diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.”

Dibaca : 1343 kali