x

Hubungan Orangtua Dengan Anak Berdasarkan Kamma Niyāma

Yādisaṁ vapate bῑjaṁ, tādisaṁ harate phalaṁ; Kalyāṇakārῑ kalyāṇaṁ, 
pāpakārῑ ca pāpakaṁ; Pavuttaṁ tāta te bῑjaṁ, phalaṁ pacca¬nubhos¬sasῑ’ti. 
“Apa pun benih yang ditanam, Itulah buah yang akan dipetik: Pelaku kebaikan memetik kebaikan; 
Pelaku kejahatan memetik kejahatan. Olehmu, teman, benih telah ditanam; Dengan demikian engkau akan mengalami buahnya.” (Saṁyutta Nikāya Samuddaka Sutta, SN 11.10)

    DOWNLOAD AUDIO

Perilaku anak sangat beraneka ragam, bahkan dengan orangtuanya sendiri ada yang memiliki perbedaan sangat berbeda jauh. Pandangan secara umum, karakter anak merupakan warisan orangtuanya. Seorang anak memiliki karakter atau sikap yang baik atau tidak baik dilihat dari orangtuanya, sehingga orangtua yang menjadi kambing hitam. Terdapat sebuah peribahasa yang menyebutkan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, memiliki makna penggambaran perilaku anak yang berkonotasi buruk, serta mirip (meniru) orangtuanya yang juga memiliki sifat serupa. Anggapan tentang latar belakang atau bibit darimana anak berasal dijadikan tolak ukur tentang perilaku anak. Sesungguhnya, segala sesuatu yang muncul tidak secara tiba-tiba tanpa didahului oleh sebab. Seorang anak memiliki sikap yang baik ataupun tidak baik juga memiliki kondisi yang penyebabnya. 

Pengertian Tentang Kamma
Dalam agama Buddha, kamma (Sanskrit: karma) diartikan sebagai tindakan. Tindakan atau kamma ini meliputi dua jenis, yakni tindakan yang baik (kusala kamma) dan tindakan yang buruk (akusala kamma). Perlu digarisbawahi pula bahwa menurut ajaran Buddha, sebuah tindakan dapat disebut sebagai kamma hanya apabila tindakan tersebut disertai dengan kehendak atau cetanā. Dalam Nibbedhika Sutta, dalam Aṅguttara Nikāya (AN 6.63/iii 410) Buddha bersabda: “Cetanāhaṁ bhikkhave kammaṁ vadāmi,” yang artinya “O para bhikkhu, Saya katakan bahwa ‘kehendak’ itulah sebenarnya kamma”. Cetanā merupakan daya yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tertentu, karena cetanā bertanggung jawab menuntaskan setiap tindakan kamma. Memahami tentang hukum kamma berarti menyadari bahwa diri sendiri adalah individu yang bertanggung jawab atas kebahagiaan dan penderitaan pada diri sendiri. Kamma bukan suatu wujud, me-lainkan proses, aksi, energi, dan daya. Dalam hal ini, perbuatan diri sendiri ada-lah daya atau kekuatan yang tengah bereaksi pada dirinya sendiri. Penderitaan dan kebahagiaan yang dialami seseorang merupakan hasil dari pikiran, perkataan, dan perbuatan sendiri yang bereaksi pada diri orang itu sendiri. Setiap individu merupakan arsitek kamma. 

Jenis-Jenis Anak
Dalam Putta Sutta, Itivuttaka, Buddha menyatakan adanya tiga jenis anak, yakni atijāto (kelahiran tinggi), anujāto (kelahiran setara), dan avajāto (kelahiran rendah). Jenis anak pertama adalah anak memiliki perilaku yang baik sedangkan orangtuanya memiliki perilaku tidak baik. Jenis anak kedua adalah baik anak maupun orangtua memiliki perilaku yang baik. Sementara itu, jenis anak ketiga adalah anak yang memiliki perilaku yang tidak baik meski orangtua berperilaku baik. Khotbah Buddha ini menegaskan tentang pandangan yang menyatakan bahwa karakter seorang anak harus sama dengan orangtua tidak dapat dibenarkan. Dalam cerita-cerita Buddhis, terdapat cerita yang me-ngisahkan bagaimana orangtua jahat, tetapi anaknya baik. Sebagai contoh, orangtuanya sangat baik namun anaknya tidak baik, Raja Ajātāsattu sangat keji terhadap ayah kandungnya, Raja Bimbisāra, hingga meninggal dunia.

Pentingnya Memahami Hukum Kamma
Prinsip kerja kamma terdapat dalam Cūlakammavibhaṅga Sutta, Majjhima Nikāya 135, Buddha bersabda: “Semua makhluk memiliki kamma-nya sendiri, mewarisi kamma-nya sendiri, lahir dari kamma-nya sendiri, berhubungan dengan kamma-nya sendiri, dilindungi oleh kamma-nya sendiri. Kamma itulah yang membedakan keadaan rendah atau tinggi”. Kamma bukan sebagai musibah atau keberuntungan yang menunjukkan suatu hal terjadi tanpa sebab. Kamma itu sendiri me-rupakan sebagai sebab dan akan mem-buahkan hasil yang setimpal. Pembuat kebajikan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan pembuat kejahatan memperoleh penderitaan merupakan proses dari kamma niyāma. Diungkapkan dalam khotbah Buddha, Samuddaka Sutta, Saṁyutta Nikāya, “Seperti halnya benih yang ditabur, demikian buah yang dipetik; pembuat kebajikan mendapatkan kebahagiaan, pembuat kejahatan mendapatkan penderitaan”. Hal yang perlu dipahami bahwa kamma bukanlah hukum yang mutlak berdiri sendiri. Akan tetapi, proses kerja kamma dipengaruhi oleh faktor-faktor atau kondisi-kondisi lainnya. 

Upaya Mengubah Diri Sendiri
Berpatokan pada mekanisme hukum kamma, seorang anak dapat berkumpul dengan keluarga yang baik ataupun buruk karena adanya hubungan kamma lampau. Namun demikian, sesuai dengan apa yang dijelaskan di atas bahwa hukum kamma tidak bisa berdiri sendiri, sesungguhnya, tidak semua pengalaman yang dialami seseorang disebabkan semata-mata mutlak oleh perbuatan lampau. Perbuatan sekarang pun juga memiliki pengaruh yang besar. Misalnya adalah pengaruh pendidikan, pengaruh lingkungan, dan perbuahan kebiasaan diri sendiri. Dengan melakukan perbuatan baik saat ini seseorang bisa mengubah kondisi sekarang. Sesuai dengan perbuatan jahat yang dilakukan masa lampau, seseorang memang seharusnya mendapatkan penderitaan. Akan tetapi, jika orang demikian memiliki kemauan atau niat untuk berusaha berbuat baik pada kehidupan sekarang, buah-buah yang disebabkan oleh perbuatan jahat masa lampau bisa tertunda kemunculannya atau bahkan tidak berbuah (ahosi).
Kisah Raja Ajātāsattu tidak dapat mencapai tingkat kesucian Sotāpatti karena perbuatan jahat membunuh ayahnya sendiri, Raja Bimbisāra, yang merupakan salah satu jenis kamma berat (garuka kamma). Akan tetapi, karena perbuatan bajik dengan mendukung ajaran Buddha, setelah kematiannya ia terlahir kembali di Neraka Lohakumbhῑ dan mengalami penderitaan hanya selama enam puluh ribu tahun. Meskipun memiliki orangtua yang amoral seyogyanya tetap menerimanya dan memancarkan cinta kasih kepada mereka, bagaimanapun juga mereka adalah orang yang sangat berjasa. Karena tindakan yang tidak baik terhadap orangtua bisa mengakibatkan dampak yang fatal terhadap kehidupan seorang anak. Contoh-contoh dari jenis anak atijāto, anujāto, avajāto yang dapat berubah ketika bertemu dengan orang yang bijaksana dan yang tidak bijaksana. Pentingnya bertemu atau berteman dengan orang yang bijaksana merupakan berkah utama (paṇḍita sevana) sehingga  
berubah dari anak yang tidak baik menjadi baik di kehidupan ini. Dengan demikian, dari sudut pandang Buddhis, mental, intelektual dan perbedaan emosi, moral kita saat ini sebagian besar, karena tindakan kita sendiri dan sifat-sifat kecenderungan, baik dulu dan sekarang.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa sesuai dengan hukum kamma, orangtua tidak mewariskan perilakunya kepada anaknya, meski kelahiran seseorang di keluarga tertentu dipengaruhi oleh kamma yang sama di antara anggota-anggota keluarga tersebut. Di samping itu, sesuatu terjadi pada seseorang karena berbagai faktor dan kondisi. Perbuatan lampau tidak selalu menjadi penyebab utama munculnya penderitaan dan kebahagiaan seseorang pada saat ini. Perbuatan sekarang dalam bentuk upaya saat ini juga mempengaruhi kebahagiaan dan penderitaan yang dirasakan oleh seseorang. 

Daftar Pustaka:
-Cintiawati, Wena dan Lanny Anggawati (penerjemah bahasa Inggris). 2008. Majjhima Nikāya 7. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa
-Dhammadhῑro, Bhikkhu. 2014. Pustaka Dhammapada Pāli – Indonesia. Tangerang Selatan: Saṅgha Theravāda Indonesia.
-Janakābhivaṁsa, Ashin. 2005. Abhidhamma dalam Kehidupan Sehari-hari. Jakarta: Ehipassiko.
-Kusaladhamma, Ashin. 2015. Kronologi Hidup Buddha. Jakarta: ISMC
-Mehm Tin Mon. 2011. Karma Pencipta Sesungguhnya. Tanpa Kota: Yayasan Hadaya Vatthu.
-http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/tika-2/ ( diakses 21 September 2018)
-https://dhammacitta.org/forum/index.php?action=profile;area=showposts;sa=topics;u=2828 (diakses 20 September 2018)


Dibaca : 1031 kali