x

KEBERKAHAN KEHIDUPAN

Bāhusaccañca sippañca, vinayo casusikkhito, 
subhāsita ca yā vācā, etammaṅgalamuttamaṁ. 
Berpengetahuan luas, berketrampilan, terlatih baik dalam tata susila,
bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama. 

    DOWNLOAD AUDIO

Semua insan dunia mengharapkan berkah dalam kehidupannya, tanpa kecuali baik yang berstatus tinggi, rendah, dengan postur besar, kecil, sedang, dan tua maupun muda. Tidak sedikit di antara kita yang berpikir tentang apa yang dimaksud keberkahan, bagaimana mendapatkan, dan berkah itu datang dari mana.
Ada kisah klasik pada jaman kerajaan dulu kala, suatu keluarga mempunyai anak laki yang tampan, cerdas, dan pandai. Keluarga sangat bahagia, bahkan dengan berulang-ulang menyampaikan anak ini berkah bagi keluarga. Menurut adat beberapa keluarga anak laki sebagai penerus keluarga.
Saat anak telah tumbuh menjadi pemuda, ia meminta kepada orangtuanya untuk membelikan seekor kuda sebagai hadiah ulang tahunnya, maka dibelikanlah kuda yang kuat, cerdik dan terlatih. Dengan adanya kuda tersebut menjadikan banyak kemudahan bagi keluarga dan terutama pemuda. Kegembiraan, kebahagiaan menyelimuti keluarga, hingga keluarga menjadi sangat sayang dan perhatian kepada kuda tersebut, dengan selalu berucap kuda ini membawa berkah bagi keluarga.
Pada suatu hari entah kenapa kuda yang baik itu saat ditunggangi oleh pemuda berubah beringas dan menjadikan pemuda tersebut jatuh dan patah kaki yang mengharuskan kaki pemuda diamputasi. Dalam waktu yang singkat itu, keluarga memutuskan melepas kuda itu karena telah dianggap membawa celaka dan musibah.
Lima hari kemudian kuda yang dilepas itu balik ke rumah kembali, dengan diikuti lima kuda hutan lainnya, sehingga keluarga itu tidak hanya punya 1 kuda tetapi menjadi 6 kuda. Satu minggu kemudian kerajaan memberikan maklumat bahwa semua anak laki-laki dikumpulkan untuk menjadi prajurit perang.
Satu bulan kemudian setelah selesai peperangan para pemuda pulang ke keluarganya, di antara banyak keluarga putra-putranya gugur dalam peperangan, maka sebagian keluarga-keluarga mengatakan kamu anak kamu berkah karena patah kaki jadi tidak direkrut maju perang, jadi kaki patah itu berkah?
Dari kesimpulan kisah cerita di atas pengertian berkah itu sangat variatif, banyak sekali pemahaman, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Sang Guru Buddha, menguraikan tentang berkah di dalam Maṅgala Sutta, khotbah ini sangat terkenal karena dibabarkan bukan hanya kepada umat manusia, bahkan sutta tersebut dibabarkan atas permohonan dewa.
Uraian tentang berkah ini menjadi dasar bagi kita umat manusia bahkan para dewa, untuk berpraktik, bertindak, berkehidupan yang mendatangkan keberkahan.
Bila kita cermati khotbah tentang berkah ini meliputi tiga tahapan yakni:
1.Mencakup praktik kehidupan pribadi/intern/pelaksanaan untuk diri sendiri yang dimulai; “Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksana, menghormat yang patut dihormat, bertempat tinggal di tempat yang sesuai, memiliki timbunan kebajikan di masa lampau, membimbing diri dengan benar, berpengetahuan luas, berketerampilan, terlatih baik dalam tata susila, bertutur kata dengan baik, membantu ayah dan ibu, menunjang  anak dan istri, bekerja dengan sungguh-sungguh.”
2.Mencakup kehidupan bersama/sosial kemasyarakatan dimulai dari; “Berdana, melakukan kebajikan, menyokong sanak saudara, tidak melakukan pekerjaan tercela, menjauhi kejahatan, menghindari perbuatan buruk, menahan diri dari minuman keras,  tekun melaksanakan Dhamma, memiliki rasa hormat, berendah hati, merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang, mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai.”
3.Mencakup kehidupan spiritual atau praktik pengembangan batiniah; “Sabar, mudah dinasihati, mengunjungi para petapa, membahas Dhamma pada waktu yang sesuai, bersemangat dalam mengikis kilesa, menjalankan hidup suci, menembus Empat Kebenaran Mulia, mencapai Nibbāna, meski digoda oleh hal-hal duniawi batin tak tergoyahkan, tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai.”
Setelah melaksanakan hal-hal seperti itu, para dewa dan manusia tak akan terkalahkan di mana pun, mencapai kebahagiaan di mana pun berada. Inilah berkah utama bagi para dewa dan manusia.
Sangat jelas bahwa keberkahan dalam kehidupan ini dapat diperoleh dengan cara berpraktik Dhamma dimulai dari yang bersifat pengembangan, pelatihan dan penempaan serta pelaksanaan. Tidak bergaul dengan yang dungu mengartikan pada keberadaan yang tidak bermanfaat, semua orang pasti ingin memperoleh dan mendapatkan manfaat dari yang dipelajari, dilatih dan dipraktikkan dengan terus berupaya mengarahkan kepada tujuan yang menjadi cita-cita dan harapannya.
Dengan penekanan berpengetahuan luas menunjukkan bahwa siapa saja yang mengharapkan kehidupan yang berkeberkahan haruslah memiliki segala pengetahuan tentang kehidupan ini. Seperti Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum) bahwa semua yang ada di semesta ini diliputi oleh proses perubahan (anicca), semua muncul dengan sebuah proses; bahwa semua yang ada di semesta ini dicengkram oleh sifat ketidakbertahan (dukkha), dan bahkan semua yang di semesta ini terkondisi muncul, berkembang dan berlalu (anatta). 
Berketrampilan adalah bentuk ekspresi dan visualisasi ia berpengetahuan luas sehingga trampil dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Dengan ketrampilan dalam bidang yang sesuai seseorang akan lebih pada kecenderungan untuk sukses dan berhasil dengan baik.
Terlatih dalam tata susila menunjukkan pada seseorang yang memiliki pendalaman dalam ilmu kehidupan semakin berisi semakin teguh, kokoh, tegar dan damai serta tentram. Orang yang dalam keberadaan batin dan tentram menjadikan ia santun, ramah dan berempati, dan tanggung jawab kepada keluarga dengan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Bermurah hati kepada semua orang bahkan semua makhluk merupakan sifat luhur yang dapat memberikan kegembiraan, kebersamaan, kesaling asah, asuh, dan asih antar sesama dalam kemasyarakatan. Melakukan kebajikan dengan menyokong sanak saudara, sahabat, teman kerabat, tidak melakukan yang dapat dicela oleh orang lain, menghindari minuman keras yang dapat me-lemahkan kesadaran, tekun berpraktik Dhamma dan rasa hormat kepada yang tua, serta menyenangi pengetahuan baru yang memberikan manfaat dalam kehidupan.
Penuh kesabaran dalam berpikir, berucap dan bertindak, menyenangi perjumpaan pada orang-orang petapa, di tempat yang sunyi, serta senang membahas Dhamma merupakan praktik kehidupan yang membawa pada meningkatnya kualitas batin seseorang. Bersemangat menjalankan kehidupan suci, berusaha menyelami 4 kesunyataan mulia (dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan melenyapkan dukkha) hingga mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbāna).
Dengan uraian di atas kita muncul pengertian bahwa keberkahan kehidupan dapat diperoleh karena berpengetahuan, berketrampilan, dan memiliki sila serta berdaya upaya dan praktik hidup yang baik.

Oleh: Bhikkhu Dhammakaro
Minggu, 14 Oktober 2018 

Dibaca : 1287 kali