x

Bencana Dalam Pandangan Agama Buddha

Sīlabyasanahetu vā, bhikkhave, sattā diṭṭhibyasanahetu vā 
kāyassa bhedā paraṃ maraṇā apāyaṃ duggatiṃ vinipātaṃ nirayaṃ upapajjanti. 
Para bhikkhu, karena bencana berkaitan dengan kehilangan perilaku bermoral dan bencana terkait dengan kehilangan benar, kemudian seseorang setelah kematian dunia, 
mereka terlahir kembali di alam sengsara, di alam rendah, di neraka.
(Byasana Sutta, AN 5.130)

    DOWNLOAD AUDIO

Beberapa hari yang lalu masyarakat Indonesia dikagetkan dengan peristiwa jatuhnya satu pesawat di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Berita tentang jatuhnya pesawat tersebut viral di media cetak, elektronik, dan media sosial. Masyarakat beramai-ramai mengucapkan ungkapan belasungkawa. 

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di akhir bulan Juli dan awal bulan Agustus terjadi gempa bumi yang berpusat di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kemudian di akhir bulan September, terjadi gempa bumi dan tsunami yang menerjang Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kedua bencana tadi merenggut banyak nyawa, Indonesia pun berduka.

Banyak orang mempertanyakan penyebab bencana tersebut, apakah bencana itu sebagai tanda ‘ketidaksenangan Tuhan’ untuk menghukum manusia atas semua perbuatan salahnya di bumi. Bagaimana menurut pandangan dalam agama Buddha? 

Sang Buddha mengajarkan bahwa keberadaan semua makhluk hidup dan alam semesta karena gabungan dari elemen dan energi. Elemen tanah, angin, air dan api diatur oleh hukum alam (panca niyama). Objek-objek alam yang hidup dan tidak hidup ini terjadi berdasarkan kondisi mental serta fisik yang diatur oleh hukum-hukum alam. Hukum alam ini tidak hanya bekerja bagi mereka yang memiliki keyakinan pada Buddha Dhamma saja, tetapi juga berlaku di seluruh alam semesta. 

Munculnya bencana disebabkan oleh elemen yang selalu berubah dan mencari suatu keseimbangan. Inilah sebabnya mengapa Sang Buddha berkata bahwa hidup adalah dukkha, karena manusia juga senantiasa mengalami perubahan. Tanpa memandang status: muda-tua, kaya-miskin, berpendidikan-tidak berpendidikan. Disebabkan oleh perubahan alam yang terus menerus inilah, setiap makhluk hidup dikatakan mengalami dukkha.

Dalam Aṅguttara Nikāya 5.130 (Byasana Sutta) Sang Buddha menjelaskan tentang lima macam bencana yang bisa kapan saja menimpa seseorang:

“Para bhikkhu, ada lima bencana. Apakah lima bencana itu? (1) bencana yang disebabkan oleh kehilangan sanak saudara, (2) bencana yang disebabkan oleh kehilangan kekayaan, (3) bencana yang disebabkan oleh penyakit, (4) bencana sehubungan dengan kehilangan perilaku bermoral, dan (5) bencana sehubungan dengan kehilangan pandangan benar. 

Bukan karena bencana yang disebabkan oleh kehilangan sanak saudara, atau kehilangan kekayaan, atau disebabkan oleh penyakit ketika seseorang meninggal dunia, setelah kematiannya, menyebabkan mereka terlahir kembali di alam sengsara, di alam rendah, di neraka. 

Tetapi karena bencana sehubungan dengan kehilangan perilaku bermoral dan bencana sehubungan dengan kehilangan pandangan benar, maka seseorang setelah meninggal dunia, mereka terlahir kembali di alam sengsara, di alam rendah, di neraka. Ini adalah kelima bencana itu.”

Selain menjelaskan tentang lima macam bencana, dalam khotbah yang sama, Sang Buddha juga menjelaskan tentang lima macam keberhasilan:

“Para bhikkhu, ada lima keberhasilan. Apakah lima keberhasilan itu? (1) keberhasilan dalam hal sanak saudara, (2) keberhasilan dalam hal kekayaan, (3) keberhasilan dalam hal kesehatan, (4) keberhasilan dalam hal perilaku bermoral, dan (5) keberhasilan dalam hal pandangan benar. 

Bukan karena keberhasilan dalam hal sanak saudara, kekayaan, dan kesehatan ketika seseorang meninggal dunia, setelah kematiannya, menyebabkan mereka terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga. 

Tetapi karena keberhasilan dalam hal perilaku bermoral dan keberhasilan dalam hal pandangan benar, maka seseorang setelah meninggal dunia, mereka terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga. Ini adalah kelima keberhasilan itu.”

Bencana yang telah terjadi di masa lalu dan yang akan terjadi di masa yang akan datang bisa dijadikan sebuah peringatan bagi kita untuk merenungkan bagaimana kita hidup selama ini, apakah sudah banyak melakukan perbuatan baik atau belum, serta untuk menilik kembali hubungan seseorang dengan alam semesta. 

Mari kita pancarkan pikiran cinta kasih dan belas kasih serta melimpahkan jasa kebajikan kepada mereka yang meninggal. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


- Rājavarācāriya. 2011. Kitab Suci Dhammapada. Terjemahan oleh Rājavarācāriya. 2013. Singkawang Selatan: Bahussuta Society.
- Bodhi. 2015. Aṅguttara Nikāya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha Jilid 1. Jakarta: DhammaCitta Press.
- The anatomy of disaster: by Ven. Dr K Sri Dhammananda Maha Nayaka Thera, The Buddhist Channel, February 24, 2005
(http://www.buddhistchannel.tv/index.php?id=6,816,0,0,1,0#.W9woCJMzbIU )

Dibaca : 556 kali