x

MENGATASI KEMARAHAN DENGAN CINTA KASIH

Na hi verena verāni sammantīdha kudācanaṁ.
Averena ca sammanti esa dhammo sanantano.
“Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. 
Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. 
Inilah satu hukum abadi.”
(Dhammapada, Yamaka-Vagga syair V)

    DOWNLOAD AUDIO

       Cinta kasih (mettā) merupakan sifat mental yang menenangkan dan juga mampu membuat seseorang damai. Cinta kasih adalah salah satu dari empat brahmavihara, yaitu sifat luhur yang berkualitas serta mampu menenangkan. Sifat mental ini harus dikembangkan di setiap tindakan yaitu tindakan dalam berpikir, berucap dan berprilaku, jika dikembangkan dengan demikian maka akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian. Sesungguhnya setiap manusia mempunyai bibit sifat cinta kasih di dalam dirinya masing-masing, sehingga tugas setiap manusia tinggal mengondisikan dan mengembangkannya. Jika cinta kasih dikembangkan kurang tepat, maka tidak heran jika cinta kasih yang dikembangkan akan tumbuh subur dengan kebencian sehingga yang berkembang adalah keinginan untuk memiliki, jika tidak dapat memiliki maka yang timbul kemarahan dan ketidaksukaan satu sama lain. Berkaitan dengan cinta kasih hendaknya yang dikembangkan adalah cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk yang terlepas dari ketidaksukaan, kemarahan dan kebencian di dalam diri. Berhubungan dengan mettā Sang Buddha memberi perumpamaan “sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa melindungi putra tunggalnya” hendaknya kita mampu menerapkan cinta kasih ini dengan semua makhluk sehingga ketika kondisi buruk dan tidak menyenangkan tertuju terhadap kita, kita mampu menguasai pikiran dengan cinta kasih dan tanpa kebencian.
        Kemarahan (kodha) merupakan sifat mental yang negatif, biasanya kemarahan dibarengi dengan rasa tidak suka dan benci, untuk itu kemarahan dapat merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain, tetapi yang pasti jika kemarahan dipelihara, maka yang terjadi sebelum kemarahan itu membakar orang lain, kemarahan tersebut terlebih dahulu membakar diri sendiri. Seperti halnya seseorang yang hendak mengambil kotoran yang akan dilemparkan terhadap orang lain, sebelum kotoran itu mengenai orang lain maka kotoran itu terlebih dahulu mengenai orang yang hendak melemparnya. Jika kemarahan memuncak yang disertai dengan rasa tidak suka dan benci, maka akan memungkinkan seseorang dapat membunuh orang lain, karena puncak dari kebencian adalah membunuh. Perlu dipahami perasaan tidak senang akan menyebabkan penderitaan yang akan membakar diri sendiri, apabila diterus-kan juga merugikan orang lain. Kakacūpama Sutta (21) dalam Majjhima Nikāya menyebutkan; kemarahan muncul jika keadaan yang tidak menyenangkan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan menghampiri seseorang. Berikut ini merupakan lima macam ucapan yang mungkin ditujukan seseorang: (1) mereka berbicara pada waktu tepat atau tidak tepat; (2) mereka berbicara benar atau tidak benar; (3) mereka berbicara lembut atau kasar; (4) Mereka berbicara berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan; (5) disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci. 
     Berkaitan dengan sebab kemarahan karena kondisi yang kurang menyenangkan menghampiri seseorang dapat dilihat dari cerita berikut:
Dahulu di Savatthi hidup seorang majikan bernama Vedehikā, majikan ini mempunyai pembantu bernama Kālī. Majikan Vedehikā terkenal oleh banyak orang sebagai orang yang baik, orang yang lembut, serta orang yang cinta damai namun Kālī si pembantu mempunyai pemikiran ‘apakah benar majikan saya baik, lembut dan cinta damai, apakah benar majikanku tidak ada kemarahan di dalam dirinya ataukah selama ini dia baik dengan saya karena pekerjaan saya sangat bagus’. Dari pemikiran ini Kālī mempunyai rencana untuk mencoba membuat pekerjaannya kurang bagus. Maka Kālī bangun terlambat untuk yang pertama, majikan Vedehikā menegur Kālī, ia marah tidak senang dan merengut. Untuk yang kedua kalinya pembantu ini bangun lebih terlambat, Vedehikā menegur tidak senang dan marah serta mengucapkan kata-kata kasar atas ketidaksenangannya. Untuk yang ketiga kalinya pembantu ini bangun lebih terlambat lagi, majikan Vedehikā menegur tidak senang dan marah serta mengambil penggilingan dipukulkan ke Kālī sehingga kepala si pembantu ini luka berdarah akibat kejadian ini. Vedehikā dikenal sebagai orang yang kasar, pemarah dan tidak cinta damai. Sang Buddha mengatakan tak selayaknya karena marah dan benci mengharap orang lain celaka, untuk itu ketika kita marah dan benci jangan mengharap orang yang kita benci celaka apalagi sampai melukainya melalui kata-kata maupun melalui prilaku, hal demikian hendaknya dihindari karena tidak sesuai dengan Dhamma yang selalu menekankan cinta kasih. Cūlakammavibhaṅga Sutta menyebutkan, kemarahan mengarah menuju neraka dalam kehidupan berikutnya, dan membuat pelaku (korban kemarahannya sendiri) berpenampilan buruk ketika terlahir kembali di alam manusia.
      Marah dan benci merupakan sifat batin yang buruk, tetapi hal ini bisa diatasi dengan mengembangkan cinta kasih, karena cinta kasih merupakan mental awal untuk seseorang mengembangkan kasih sayang, simpati dan berlanjut keseimbangan batin. Kakacūpama Sutta (21), Majjhima Nikāya. Sang Buddha menasehati para muridnya, jika keadaan yang tidak menyenangkan ditujukan terhadap diri kita maka harus tetap berlatih “pikiranku tidak akan terpengaruh, aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar, aku akan berdiam dengan belas kasih demi kesejahteraan semua makhluk dengan pikiran cinta kasih dan tanpa kebencian.” Selain itu di sutta ini dijelaskan, jika seseorang menyerang dengan benda-benda seperti tanah, tongkat, pisau maka tetap menjaga pikiran cinta kasih dan tanpa kebencian. Bahkan dijelaskan lebih lanjut sekalipun jika, para penjahat memotong kalian dengan kejam bagian demi bagian tubuh dengan gergaji bergagang-ganda, ia yang memendam pikiran benci terhadap mereka berarti tidak melaksanakan ajaranku, tetapi yang harus dilakukan sebaliknya yaitu tetap menjaga pikiran cinta kasih dan tanpa kebencian. Di sini dapat dipahami bahwa seseorang hendaknya tetap menjaga diri sendiri yaitu menjaga pikiran, ucapan, dan tindakannya. Sedaka Sutta dalam Samyuta Nikāya menyebutkan, “attānaṃ bhikkave, rakkhato paraṃ rakkhati, paraṃ rakkhanto attānaṃ rakkhati yang berarti “siapa pun yang melindungi diri sendiri, dia melindungi orang lain, dan siapa pun yang melindungi orang lain, dia melindungi diri sendiri”. Dalam hal ini, bagaimana melindungi diri sendiri juga melindungi orang lain yaitu ketika seseorang secara terus-menerus berperhatian murni, apa pun yang terjadi dalam keadaan dipuji atau dicela dia tetap menjaga pikirannya tanpa kemarahan, dengan pikiran penuh cinta kasih, serta tanpa kebencian, selain itu juga tetap menjaga kata-kata dan tindakannya dengan penuh pengendalian. Hal inilah yang dinamakan melindungi diri sendiri, dia juga melindungi orang lain. Selain itu, bagaimana melindungi orang lain juga melindungi diri sendiri, yaitu dengan kesabaran, tidak mencelakai, cinta kasih dan simpati terhadap makhluk lain. Hal inilah yang dimaknai dengan melindungi orang lain, dia melindungi diri sendiri. Dhammapada, Danda-Vagga syair 132 menyebutkan, “sukhakāmani bhūtāni yo daṇḍena na hiṁsati attano sukhamesāno pecca so labhate sukhaṁ, yang berarti, barang siapa mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan tidak menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia akan mamperoleh kebahagiaan.”.

Referensi:
-Bodhi. 2010. Khotbah-khotbah Berkelompok Sang Buddha Buku 1 Sagathavagga Samyutta Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta.
-Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta Press.
-Vijanao, Win.2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang Selatan: Bahussuta Society.

Dibaca : 542 kali