x

MENGGUNAKAN HARTA KEKAYAAN SECARA BAIK DAN BENAR

Yadatthaṁ bhogaṃ iccheyya, paṇḍito gharamāvasaṁ;
So me attho anuppatto, kataṁ ananutāppiyaṁ.
Apa yang menjadi tujuan seorang perumah tangga yang baik, dalam mengharap harta telah kucapai. Telah kulakukan tindakan yang tak menimbulkan penyesalan. 
(Ādiyasutta, AN. 5.41)

    DOWNLOAD AUDIO

     Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍika. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika men-datangi Sang Buddha, bersujud dan duduk di satu sisi yang layak. Sang Buddha kemudian menyampaikan pesan Dhamma kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika berkenaan dengan cara menggunakan harta kekayaan secara baik dan benar demi tercapainya ke-bahagiaan dan kesejahteraan. Adapun cara menggunakan harta kekayaan se-cara baik dan benar adalah sebagai berikut:
      “Perumah tangga, ada lima pemanfaatan kekayaan ini. Apakah lima ini? Di sini, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengan-nya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu membuat  dirinya bahagia dan gembira, kemudian seseorang memanfaatkan kekayaan yang telah diperoleh untuk:
 1.Kebahagiaan orangtuanya, istri dan anaknya, para pekerja, dan para pelayan.
      Hendaknya seseorang tidak lupa kepada orangtua setelah ia menjadi kaya, terlebih jika tinggal di luar kota. Walaupun sudah memiliki keluarga, bukan berarti mengabaikan orangtua. Sebab kewajiban yang harus dilaku-kan oleh seorang anak sebagai wujud rasa bakti kepada orangtua yang masih hidup ialah membantu dan me-nyokong orangtua. Seperti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam Sigalovada Sutta berkenaan dengan kewajiban anak kepada orangtua.
      Selanjutnya memperhatikan ke-sejahteraan istri dan anak-anaknya. Jika ingin melihat istrinya terlihat cantik tentu butuh modal karena biaya perawatan tidah murah. Anak-anak diberikan pendidikan yang layak dan dibekali pendidikan spiritual agar kelak anak bisa tumbuh menjadi anak yang pandai. Tidak lupa juga mem-berikan perhatian kepada para pe-kerja dan pelayan dalam bentuk THR, libur ketika hari-hari tertentu dan lain sebagainya. Ketika hal ini sudah di-lakukan, maka harta yang dimiliki sudah digunakan secara baik dan benar.
2.Kebahagiaan teman-teman dan para sahabatnya.
     Seseorang semestinya tidak sampai melupakan teman-teman dan para sahabatnya. Ketika sudah me-miliki kelebihan dari segi harta atau materi, tentunya berkesempatan untuk berbagi. Jangan salah gunakan momen reunian sebagai ajang untuk pamer kekayaan yang dimiliki dan menyombongkan diri. 
    3.Melakukan persiapan perbekalan dengan kekayaannya untuk meng-hadapi kehilangan yang mungkin muncul karena api atau banjir, raja-raja atau para penjahat atau pewaris yang tidak disukai.
     Seperti yang dijelaskan dalam Aditta Sutta, Samyutta Nikāya 1.41; ketika rumah seseorang terbakar, peti yang dibawa keluar adalah yang berguna, maka ketika dunia ini ter-bakar oleh api usia tua dan kematian, seseorang harus mengeluarkan ke-kayaannya dengan memberi, apa yang diberikan akan terselamatkan dengan baik. Hal ini pun dikatakan sebagai penimbunan harta sejati yang tidak bisa dicuri oleh perampok dan diambil oleh ahli waris yang tidak disukai.
 
      4.Melakukan lima pengorbanan: kepada sanak saudara, para tamu, para leluhur, raja, dan para dewata.Ketika ada sanak saudara atau para tamu yang berkunjung hendak-nya diberikan jamuan yang terbaik dalam hal makanan dan minuman. Begitu pula memberikan persembah-an yang terbaik kepada para leluhur dalam bentuk kebajikan. Pengorban-an kepada raja/pemerintah dengan taat membayar pajak. Pengorbanan terakhir kepada para dewata adalah dengan menghormati tempat-tempat yang disakralkan memberikan per-sembahan berupa bunga dan buah-buahan.
    5.Memberikan persembahan kepada para samana atau petapa yang sedang berjuang mengikis kekotoran batin untuk merealisasi Nibbāna.
Ketika lima hal ini sudah dilakukan dengan baik dilandasi dengan pengertian benar, ketulusan, dan kerelaan, maka tindakan-tindakan ini tidak akan me-nimbulkan penyesalan.
     Alkisah ada seorang kaya yang sangat kikir. Karena terobsesi untuk memperbesar kekayaannya, dia sebisa mungkin tidak menggunakan uangnya itu. Pakaiannya pun sangat lusuh dan makanannya dihemat. Dia pun men-desak keluarganya untuk mengikuti cara hidupnya. Suatu hari, orang kaya ini jatuh sakit. Tetapi karena dia tidak mau membuang uangnya untuk memeriksa ke dokter, semua orang tidak punya lagi harapan akan kesembuhannya. Teman-temannya mendesak dia untuk membuat sebuah surat warisan, tetapi terus-menerus ditolaknya karena dia tidak suka pikiran bahwa dirinya akan ber-pisah dengan harta bendanya.
 
     Anak penjahit langganan orang kaya ini berkesempatan menjenguknya. Ayah anak itu sudah meninggal dunia beberapa bulan lalu. Tanpa berbasa-basi, anak itu langsung berkata, “Bapak, kata orang Anda sebentar lagi akan meninggal. Nanti kalau Bapak pergi ke surga, bisakah bapak tolong saya berikan jarum ini pada ayah saya? Saya pernah bermimpi ayah meminta saya untuk menitipkan jarum ini pada Bapak.”
     Orang kaya itu langsung melempar jarum itu. “Anak bodoh, jangan sembarangan ngomong kamu! Aku tak mungkin bisa membawa jarum itu. Aku tak bisa membawa apa-apa!”
Anak penjahit itu pun terdiam se-jenak dan berkata lagi perlahan, ”Lalu, bagaimana Bapak berniat untuk mem-bawa semua uang Bapak?”
     Orang kaya itu pun terkejut men-dengarnya. Dia menjadi sadar bahwa selama ini dirinya sangat bodoh karena sudah melekatkan diri pada kekayaan-nya, tetapi sekarang dia malah sama sekali tidak bisa menikmatinya. Dia pun sadar bahwa uang itu baru memiliki arti apabila digunakan, bukannya ditimbun. Segera dengan memaksakan diri orang kaya itu bangkit dari tempat tidur, dan pergi ke dokter. 
     Setelah diobati, kesehatannya pun perlahan pulih. Karena sudah menjadi pria yang berubah, orang kaya ini tidak lagi bersikap pelit. Sebaliknya, dia royal memberikan kekayaannya untuk kegiat-an amal dan hal-hal baik lainnya. Dia pun menjaga keluarga dan karyawan-nya dengan cinta dan kemurahan hati. Ajaibnya, makin banyak yang dia berikan, makin banyak pula yang dia terima.
 
     Materi hanyalah sebuah benda mati, yang tidak akan memberikan manfaat apa pun jika kita hanya me-nimbun dan menyimpannya. Dia baru bermanfaat besar jika kita memberikan-nya kepada orang lain. Di dunia ini terdapat satu hukum pasti, yaitu Sebab-Akibat. Hukum ini juga berlaku dalam hal materi. Semakin banyak kita mem-berikan uang kepada orang yang memang membutuhkannya, semakin banyak pula yang akan kita peroleh, dan semakin banyak yang kita peroleh, kita akan lebih dimampukan untuk memberi. Hukum ini sudah dibuktikan oleh banyak tokoh sukses di dunia, salah satunya Bill Gates  yang saat ini memang sudah pensiun dalam meng-urusi Microsoft. Dia memilih fokus pada urusan kemanusiaan di yayasan Bill & Melinda Gates Foundation. Sampai tahun 2007, total sumbangan yang di-berikan Bill & Melinda Gates Foundation telah mencapai USD 28 miliar. Yayasan ini dianggap salah satu yang paling banyak menyumbangkan uang untuk kegiatan kemanusiaan.
     Marilah menggunakan harta ke-kayaan yang dimiliki dengan baik dan benar, selain untuk kebahagiaan sendiri, orangtua dan keluarga, bisa bermanfaat juga untuk orang banyak.

Referensi:
-Damawan, Hariss. 2016. Berdana Seni Memberi Menurut Sutta Pali. EBSI Press.
-Dhammadhiro Bhikkhu.2005. Parita Suci. Bekasi. Bocah Marga Jaya. 
-https://legacy.suttacentral.net/id/an5.41.
-https://soulofjakarta.com/index.php?modul=kisah-inspiratif-si-kaya-yang-kikir.html&kat=21&id=ODM1OA.
-http://yea-indonesia.com/2015/06/24/kisah-bill-gates-si-kaya-raya-yang-di-anggap-gila/.

Oleh: Bhikkhu Karunasilo
(Minggu, 31 Maret 2019)

Dibaca : 313 kali