x

KEBAHAGIAAN DUNIAWI DAN SPIRITUAL

Suddhi asuddhi paccattaṁ
Nāñño aññaṁ visodhaye
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri;
Tak seorang pun yang dapat menyucikan orang lain. 
(Kitab Suci Dhammapada Syair 165)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap manusia memiliki potensi untuk memperoleh apa yang diharapkan dalam hidupnya, baik secara duniawi maupun spiritual. Potensi secara duniawi hanya mengarah kepada harta benda, kekayaan, kehormatan, kedudukan, ketenaran, nama baik, dan masih banyak kebahagiaan yang bersifat duniawi lain-nya, tetapi itu semua sifatnya sementara, bisa mengalami perubahan kapan saja (aniccā). Sedangkan potensi spiritual mengarah kepada tujuan hidup yang membawa pada kebahagiaan di atas duniawi yaitu melampaui penderitaan dan merealisasikan kebahagiaan tertinggi (Nibbāna).

Kedua potensi itu apabila dikembangkan secara terus-menerus dalam kehidupan ini juga akan membawa kepada kebahagiaan duniawi dan batin. Untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut tidaklah mudah, semuanya membutuhkan tekad yang kuat (adhiṭṭāna), perjuangan (utthanasampada), usaha, pe-ngorbanan, semangat (viriya). Untuk mewujudkan potensi itu menjadi kenyataan membutuhkan pedoman yaitu Dhamma yang merupakan ajaran kebenaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Dhamma itu sendiri adalah ajaran untuk kebahagiaan dan pembebasan dari penderitaan. Dalam kehidupan ini Sang Buddha mengetahui bahwa tidak semua orang bisa mencapai kebebasan, maka Sang Buddha juga mengajarkan Dhamma untuk kebahagiaan di dunia, karena manusia menginginkan kebahagiaan dan keselamatan. Oleh karena itu dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada Anāthapiṇḍika mengenai empat jenis kebahagiaan yakni:

Kebahagiaan yang pertama Atthisukha adalah kebahagiaan karena memiliki kekayaan materi. Semua orang mempunyai harapan dan cita-cita dalam menginginkan kekayaan, pada saat kita mendapatkan kekayaan itulah kita akan merasa bahagia. Karena dengan kita mempunyai kekayaan maka kita bebas dari rasa takut, khawatir, dan cemas karena semua kebutuhan bisa terpenuhi. Dalam mengumpulkan kekayaan hendaknya melalui jalan yang benar bukan dari hasil mencuri, merampok, dan menipu, karena kekayaan yang diperoleh dengan cara yang baik akan memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya, kekayaan yang diperoleh dari hasil yang tidak baik akan membuat kita hidup tidak nyaman dan menderita.

Kebahagiaan yang kedua adalah Bhogasukha yang merupakan ke-bahagiaan karena bisa menikmati kekayaan materi. Kalau kita mampu menikmati kekayaan yang diperoleh dengan cara yang baik, maka saat itu kita akan memperoleh kebahagiaan. Tetapi apabila kekayaan kita miliki namun tidak dapat kita nikmati, maka saat itu kita tidak bisa memperoleh kebahagiaan.

Kebahagiaan yang ketiga, Anaṇasukha adalah kebahagiaan karena tidak memiliki hutang. Apabila kita hidup tanpa hutang kepada siapapun, dalam hal apapun, baik itu kecil maupun besar, maka saat itu kita merasakan kebahagiaan, karena hidup tanpa hutang akan memiliki ketenangan dan bebas dari kecemasan.

Kebahagiaan yang keempat, Anavajjasukha adalah kebahagiaan karena tanpa cela. Pada saat kita hidup dan berinteraksi di dalam masyarakat di mana terdapat norma-norma dan aturan-aturan yang menjadi pedoman hidup, tetapi apabila kita tidak berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut, maka pada saat itu kita akan mendapatkan celaan. Kehidupan tanpa cela akan dapat kita peroleh bila kita mampu hidup selaras dengan norma dan aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Kebahagiaan karena mampu menjalani hidup tanpa cela adalah kebahagiaan yang tertinggi. 

Inilah empat jenis kebahagiaan yang dapat dicapai oleh umat Buddha yang masih ingin menikmati kesenangan indera, bergantung pada waktu dan kesempatan, tetapi kebahagiaan ini sifatnya sementara dan faktanya tidak bisa menjamin kebahagiaan sejati. Oleh karena itu Sang Buddha tidak hanya mengajarkan kebahagiaan duniawi saja, tetapi Sang Buddha juga mengajarkan tentang kebahagiaan sejati yang membawa pada kedamaian dan ketenangan batin secara terus-menerus. Ketenangan dan kedamaian batin akan melampaui kebahagiaan duniawi karena ketenangan batin akan memunculkan ke-bijaksanaan (paññā) untuk melihat kehidupan yang sifatnya berubah-ubah (aniccā) dan tidak memuaskan. Hidup yang tidak memuaskan adalah pen-deritaan. Dengan mengetahui bahwa hidup adalah penuh derita,  maka ada keinginan untuk bebas dari penderitaan. Penderitaan akan dapat kita singkirkan apabila kekotoran-kekotoran batin (kilesa) dapat kita hancurkan secara total seperti halnya kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin yang merupakan akar dari segala penderitaan. 

Sang Buddha telah menunjukkan jalan menuju kebebasan sejati yaitu jalan mulia berunsur delapan (ariya aṭṭhaṅgika magga) yang terdiri dari pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar, yang kemudian disingkat menjadi sīla, samādhi, dan paññā. Sīla merupakan latihan moralitas bagi umat Buddha yaitu terdiri dari Pañcasīla Buddhis, Atthasīla, Dasasīla, dan Pāṭimokkhasīla. Siapa saja yang melaksanakan sīla dengan baik akan memiliki pengendalian di dalam dirinya. Selain itu juga ia akan memiliki hiri (rasa malu untuk melakukan kejahatan) dan ottappa (rasa takut akan akibat perbuatan jahat yang dilakukan), karena hiri dan ottappa adalah penunjang dalam pelaksanaan sīla dan menjadi pelindung dunia. Sedangkan samādhi merupakan cara melihat ke dalam diri kita sendiri melalui bermeditasi. Selain kita menerapkan atau mempraktikkan sīla atau moralitas dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu memperhatikan pikiran kita karena selama kita masih memiliki pikiran yang buruk maka kehidupan kita tidak akan pernah terasa nyaman. Penerapan meditasi dalam kehidupan sehari-hari adalah sangatlah baik untuk mengolah pikiran kita terbebas dari pikiran-pikiran yang tidak baik seperti benci, serakah, dan batin yang gelap. Dengan praktik samādhi, maka kebijaksanaan (paññā) dapat kita peroleh. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka kita dapat melihat hidup dan kehidupan yang diliputi oleh ketidak-kekalan, penderitaan, dan tanpa inti yang kekal. Tanpa kebijaksanaan kita tidak akan dapat melihat sifat dari kehidupan tersebut. Apabila kita sudah menjalani dan mempraktikkan jalan mulia berunsur delapan dan mampu melihat dan memahami tiga corak kehidupan dengan jelas, maka tugas kita sebagai manusia sudah berakhir dalam kehidupan ini juga, karena selama Dhamma masih bisa dipraktikkan, selama itu pula kebebasan dapat kita realisasikan. Inilah jalan yang telah sempurna diselami oleh Sang Buddha, yang dapat membuka mata batin, yang menimbulkan pengetahuan yang membawa ketenangan, pengetahuan batin yang luar biasa, kesadaran yang agung, serta pencapaian kebebasan (Nibbāna). 

Dibaca : 2889 kali