x

Dirgahayu Patria, In Memoriam Mendiang Guandi, Penggagas Patria

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” ~ (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Kutipan Pustaka suci di atas adalah adhitana seseorang yang berkualitas luhur batinnya. Seseorang yang rela mendedikasikan seluruh hal yang dimilikinya untuk Buddhadhamma. Adalah himpunan muda-mudi yang tergabung dalam Pemuda Theravada Indonesia (Patria), mengambil kutipan ini sebagai landasan semangat pergerakannya. Laksana bodhisattva, kader-kadernya diharapkan memiliki semangat juang nan gigih untuk mempraktikkan Buddhadhamma, sesulit apa pun keadaannya.

Patria lahir dari bersatunya gagasan beberapa puluh muda-mudi yang sebelumnya bernama Pemuda Buddha Dhamma Indonesia, di Vihara Mendut, 19 Desember 1995. Salah satu pertimbangannya, terdapat banyak vihara di Jawa Tengah khususnya, memerlukan dukungan muda-mudinya untuk menggiatkan kegiatan.

Lahirlah kemudian pada hari itu, organisasi Pemuda dengan akronim Patria. Tak banyak di antara kader Patria mengetahui, bahwa salah satu gagasan terjalinnya himpunan muda-mudi vihara Theravada ini, lahir dari pemikiran sesepuhnya, mendiang Guandi. Lalu berturut-turut kepemimpinan pusat diemban oleh Meliana Candra, Tony Coason, Tanagus Dharmawan, dan kini Tedy Wijaya.

Dari seni budaya hingga intelektual
Pada era kepemimpinan Tony Coason, Patria di Indonesia mencapai puncak kejayaannya. Muda-mudi vihara Theravada, berhimpun pada cabang-cabang di setiap kabupaten dan kota di Indonesia. Meski wajar kadangkala belum diterima oleh beberapa kalangan di vihara-vihara tertentu, Patria mampu mengonsolidasi diri menjadi organisasi massa pemuda yang besar saat itu.

Di awal tahun 2000-an, media sosial maupun alat komunikasi belum menjamur seperti hari ini. Namun melalui berbagai kegiatan positif yang diselenggarakan, mampu merekatkan tali kasih sesama anggotanya. Dimulai dari tingkat vihara yang satu ke vihara yang lain, dari satu kabupaten/kota ke kabupaten/kota yang lain.

Lalu memuncak dalam konsolidasi tingkat nasional, di dukung perhatian dari berbagai pihak yang menaruh harapan pada semangat Patria yang menggelora dan berapi-api.

Meski awalnya belum mempunyai bentuk kegiatan unggulan, namun kreativitas pemuda bermazhab Theravada ini, mampu menelurkan berbagai kegiatan positif. Seperti misalnya sarasehan Dhamma (kelas Dhamma/talk show), pekan kemah Dhamma, bakti sosial, penerbitan buku, hingga porseni tingkat nasional.

Keluarga Besar
Pada Munas tahun 2001 di Malang, Bhikkhu Dhammasubho yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia, menyampaikan pesan luhur untuk memaknai Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI). Ibarat keluarga, Patria adalah anak, Wandani (Wanita Theravada Indonesia) adalah Ibu, Magabudhi (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia), adalah ayah. Sedangkan para bhikkhu Sangha Theravada Indonesia adalah kakek sekaligus guru pembimbing.

Kini kita jumpai, sesudah 22 tahun berkiprah dengan berbagai dinamika organisasi, Patria telah melahirkan kader generasi penerus terbaiknya di berbagai bidang. Ada yang berkarya di lingkungan TNI/Polri/BUMN, profesional, menjadi bhikkhu, hingga pengusaha atau berwiraswasta.

Konteks Jawa Tengah
Hingga kini, meski belum diketahui angka pasti berdasarkan data kependudukan, Jawa Tengah merupakan provinsi yang paling banyak mempunyai pemeluk Buddhadhamma. Terbanyak pertama adalah Temanggung yang disusul Pati dan Jepara. Menyusul Kabupaten Semarang dan Kota Semarang serta daerah di sekitarnya.

Jawa Tengah dengan Borobudurnya, mempunyai keistimewaan dibanding provinsi lain. Sisa kemakmuran Jawa di abad ke 7 hingga abad ke-10 dengan penduduk yang mempraktikkan Buddhadhamma, masih dapat dijumpai dalam adat tradisi budaya Jawa yang melimpah.

Seperti seni musik dan tari, tata bahasa Jawa dengan belasan semantiknya yang menunjukkan penghormatan pada lawan bicara, cara berbusana hingga perayaaan-perayaan yang mempertahankan corak mataraman atau penghormatan kepada orang tua/leluhur (mata: ibu, rama: ayah; mataram=orangtua).

Sesudah Buddhadhamma kembali dipeluk masyarakat, sejak tahun 1950-an, adat tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian prosesi Waisak, dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Sehingga diperlukan dukungan masyarakat Buddhis, khususnya pemuda, untuk mendukung kegiatan tersebut agar upacara Tri Suci Waisak, berlangsung sukses.

Jejak keberadaan himpunan pemuda yang memeluk Buddhadhamma di Jawa Tengah, dapat dijumpai pada artikel Sinar Dhamma Loka (1985: 26) yang menurunkan berita, “… terbentuk (pengurus daerah) dalam rapat pleno pada tanggal 2 November 1985, Sabtu Petang, di Ruang Bawah Vihara Tanah Putih”. Sinar Dhamma Loka adalah majalah Buddhis yang didirikan oleh muda-mudi Vihara Tanah Putih.

Dari jejak tersebut kita ketahui bahwa Patria Jawa Tengah adalah potensi penting pembinaan generasi muda Buddhadhamma, sebagai wajah Patria di Indonesia. Sumber daya pemudanya, sangat diperlukan untuk mendukung karya-karya pelayanan bercorak Buddhis.

Selain perayaan Tri Suci Waisak, kini rutin diselenggarakan kegiatan Puja Tipitaka Pali. Di sinilah peran anggota Patria di Jawa Tengah, sangat diandalkan tenaga mudanya.

Quo Vadis Patria di Jawa Tengah
Mempertimbangkan peran vital Patria di Jawa Tengah, dengan rutinnya diselenggarakan kegiatan berskala nasional di Candi Borobudur, ide kreatif dan kegiatan unggulan perlu ditelurkan. Selain itu, baik Patria maupun himpunan organisasi Buddhis lainnya, sedang dinantikan peran dan partisipasi aktifnya di bidang lain.

Selain kegiatan bercorak seni budaya, porseni hingga mendukung perayaan-perayaan, pemuda Buddhis sedang ditunggu kiprahnya pada isu lain. Seperti kepedulian dan keberpihakan mereka pada isu ekologis, seperti yang sedang diperjuangkan masyarakat Sikep (Samin), penelitian-penelitian ilmiah di dunia sains dan teknologi, ekonomi kreatif berbasis komunal (kerakyatan) hingga sampai pada persoalan hukum dan politik nasional.

Di sinilah tantangan yang sedang dihadapi Patria di era milenial ini. Masyarakat telah memanggil kiprah nyata generasi muda Buddhis pada persoalan kebangsaan dan kenegaraan.

Artinya, sudah tidak boleh hanya berkutat pada persoalan domestik di tataran lokal vihara-vihara saja. Dalam konteks ini, Patria Jawa Tengah yang diwakili Kota Semarang karena kedudukannya di ibu kota provinsi, sempat menorehkan prestasi tersendiri dalam merajut tali persaudaraan lintas agama dan budaya.

Saat itu di awal tahun 2000-an, dengan bimbingan Bhikkhu Cattamano dan mendiang Pandita D. Henry Basuki, BA, perwakilan Patria turut aktif dalam berbagai kegiatan dalam usaha menepis isu-isu bernuansa SARA, disintegrasi bangsa, hingga ancaman konflik sosial horizontal. Harus diakui, terajutnya tali persaudaraan lintas agama dan budaya hingga akademisi saat itu, justru dipelopori oleh Patria, bersinergi dengan Magabudhi.



Patria saat itu, mampu menjalin relasi dengan jajaran aktivis Nahdatul Ulama, Kevikepan Semarang, Universitas Islam Negeri Wali Songo, Pelita (Persaudaraan Lintas Agama), Gusdurian, GP Ansor Jawa Tengah, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Gereja Kristiani, sampai pada Majelis Khong Hucu maupun Tri Dharma, dll.

Kini Patria Jawa Tengah yang dipimpin Subhadewi Oei Wan Giem, mampu hadir dengan cepat dan tanggap. Beliau selalu sigap mewakili komunitas Buddhis, khususnya Patria, dalam menyampaikan simpati dan empati kepada sesama yang sedang tertimpa musibah, khususnya bencana alam. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan sosial, pengobatan massal dan pelatihan-pelatihan kreatif bagi masyarakat, khususnya di pedesaan.

Demikianlah sifat darah muda yang disebut pemuda. Ia mampu mendobrak kebekuan, menelurkan gagasan baru yang segar dan kreatif dan menorehkan sejarah luhur dengan tetap mengacu pada Dhamma ajaran Buddha. Sesudah estafet kepemimpinan berhasil diserahkan pada generasi berikutnya, loyalitas kader Patria tidak serta merta berhenti.

Beberapa di antara mereka dengan sukarela bergabung Magabudhi untuk mengabdi sebagai pandita pembabar Dhamma. Konsistensi itu dapat dilihat misalnya kepeloporan Ir. Wirya Purwa Samudra yang kini mendukung Magabudhi Jawa Tengah, Metta Suripto di PC Magabudhi Pati, Sutrisno Di PC Kabupaten Semarang, dan seterusnya. Artinya, estafet kepemimpinan mereka di Patria telah berhasil, bahkan mampu menerima estafet kepemimpinan orang tuanya, di Magabudhi.

Tantangan Regenerasi
Patria sebagai organisasi massa, mempunyai aturan main tersendiri yang tertuang dalam AD-ART-nya. Artinya, Patria (juga Magabudhi dan Wandani) harus patuh pada aturan main yang telah disepakati dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan oleh pihak-pihak tertentu saja.

Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi sumber daya manusia yang melimpah, khususnya pemuda di bawah usia 40 tahun. Namun kini Patria Jawa Tengah seolah beku tak mempunyai generasi penerus.

Kader muda mereka yang duduk di tingkat sekolah menengah hingga mahasiswa seolah belum mengenal apa itu Patria. Mereka memerlukan sosok keteladanan atau sosok pemuda idola kharismatik, seperti pada era kepemimpinan Wirya Purwa Samudra, Subhadewi Oei Wan Giem, dkk.

Ketika Jawa Tengah sempat digoyang polemik Dharmakaya dan kehadiran majelis maupun sangha lain dari luar negeri, terdapat beberapa kelompok muda-mudi Buddhis yang hadir mendobrak kebekuan. Salah satunya yang terhimpun spontan di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang.



Tanpa duplikasi maupun edukasi dari Patria Jawa Tengah maupun Pusat, mereka mampu berkegiatan dengan tetap mengacu pada Buddhadhamma. Seperti diskusi, seni budaya, hingga dharmayatra napak tilas ke jejak sesepuh Sangha Theravada Indonesia di Juwana dan Lasem. Serta jejak sesepuh Magabudhi di pesisir utara Jawa Tengah. Meski harus diakui, ada sebagian pemuda yang turut serta, bukan kader Theravada, namun sukarela mendukung kegiatan tersebut.

Kini Patria telah memasuki usianya yang ke 22 tahun. Jikalau manusia, ia bukan lagi bocah, namun mahasiswa semester akhir, bahkan sarjana. Mestinya, Patria sudah mampu duduk setara dengan pemuda lintas agama lainnya di Indonesia. Seperti GP Ansor, Kokam Muhammadyah, PMII, dan sebagainya.



Kehadiran dan suara organisasi massa kepemudaan tersebut, mampu memberikan warna, bahkan pengaruh pada isu kebangsaan dan kenegaraan. Bahkan kehadiran mereka, selalu dinantikan dan diperhitungkan segenap elemen bangsa.

Saat ini, banyak pihak menantikan kiprah Patria mampu terus bergerak dinamis sesuai aturan main AD-ART. Pendidikan dan pembinaan Patria di Jawa Tengah harus terus dilakukan secara terukur dan berkesinambungan, agar regenerasi dapat berlangsung lancar guna menghasilkan generasi penerus yang semakin berkualitas.

Dengan beredarnya tagline peringatan ulang tahun Patria, “Persatuan Pemuda Poros Keberagaman”, Patria Jawa Tengah kembali menerima kepercayaan sekaligus beban tanggungjawab yang besar.

Sudah saatnya Patria di Jawa Tengah yang dianalogikan sebagai anak ini, mendapatkan bimbingan kembali dari orangtuanya (Magabudhi-Wandani), agar mampu mencetak generasi penerusnya yang lebih mumpuni dan lebih berkarakter “keberagaman”. Serta mampu berjalan sinergis dalam wadah Keluarga Buddhis Theravada Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Dirgahayu 22 tahun Patria. One Spirit One Dhamma, Persatuan Pemuda, Poros Keberagaman. Semoga Patria Selalu Jaya.


Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 1277 kali