x

Secarik Catatan Manis Dari Desa Bumiayu, Blitar

Mahasiswa sebagai kaum intelektual selalu dikaitkan dekat dengan rakyat kecil. Dalam sejarahnya mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam menuju kondisi bangsa yang lebih baik. Namun kini, dinamika dunia mahasiswa dari waktu ke waktu semakin mengalami penurunan dan pendangkalan pemikiran. Mahasiswa sekarang cenderung tidak peduli dengan keadaan sosial yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali mahasiswa Buddhis.



Dari ritual ke praktik Dharma

Sebagai mahasiswa Buddhis yang memegang teguh semangat ke-mahasiswa-an dan bernapaskan Buddhis, sudah selayaknya mahasiswa Buddhis mulai keluar dari kungkungan “ritual” menuju praktik Dharma yang konstektual.

Dengan melibatkan diri ke dalam lingkungan sosial masyarakat. Ini yang menjadi dasar Hikmahbudhi PC Malang dan UAKB (Unit Aktivitas Kerohanian Buddhis) Universitas Brawijaya Malang melakukan kegiatan Live In. Live In merupakan kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan individu berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda status sosial dan budaya dalam kehidupan nyata.

Pada 9-11 Maret 2018 para mahasiswa ini melakukan Live In. Mengangkat tema “Social Awarness” atau kesadaran sosial, menjadi otokritik sebagai mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar, utamanya lingkungan sosial.

Desa yang dipilih adalah Desa Bumiayu, Kec. Panggungrejo, Kab. Blitar, Jawa Timur.  Jumlah umat Buddha yang ada di Bumiayu sebanyak 30% dari jumlah seluruh penduduk Desa Bumiayu. Rata-rata berprofesi sebagai petani.



Merasakan langsung kehidupan desa

Setelah pembukaan acara Live In di Balai Desa yang dibuka langsung oleh Kepala Desa Bumiayu, para peserta langsung dijemput oleh orangtua angkatnya. Selama 2 malam para peserta tidur di rumah-rumah umat, jadi setiap peserta mempunyai orangtua angkat selama kegiatan ini berlangsung. Peserta terbagi dua wilayah, Desa Bumiayu bagian Timur dan bagian Barat.

Terdapat 1 vihara di desa bagian Timur yakni Vihara Bodhi Amatta, dan 1 vihara di bagian Barat bernama Vihara Bumiloka. Hampir 140 KK (Kepala Keluarga) umat yang ada di desa ini. Umat didominasi oleh orang-orang tua.

Para peserta butuh beradaptasi ketika menempati rumah orangtua angkat mereka. Karena banyak dari rumah yang ditempati tidak senyaman rumah atau kost yang mereka tempati sehari-hari. Bahkan banyak dari peserta yang mengeluh soal MCK, ada pula yang akhirnya menggunakan toilet vihara untuk MCK.

Aktivitas peserta dengan orangtua angkat bermacam-macam. Ada yang ikut ke ladang, membantu memasak, membantu mencetak batako, membantu membangun rumah, dan lain-lain. Ada juga yang membantu untuk acara pernikahan.

Kebetulan salah satu umat Vihara Bodhi Amatta ada yang sedang mempersiapkan pernikahan, maka hampir semua umat Vihara Bodhi Amatta ikut membantu. Mereka menyebutnya “rewang” atau “mbecek”, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama.



Memotivasi anak-anak Buddhis

Tak lupa para peserta juga mengunjungi beberapa umat dan memberikan bantuan sembako. Banyak dari umat di desa ini yang masih di bawah garis kemiskinan. Selain itu banyak juga yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan biaya.

Peserta juga mengikuti kegiatan pujabhakti Anjangsana. Jadi selain pujabhakti di vihara, kebiasaan orang desa ini juga melakukan pujabhakti Anjangsana. Pujabhakti di rumah-rumah umat yang dilakukan secara bergilir seminggu sekali. Mungkin tujuannya untuk saling silaturahmi antarumat dan agar terjalinnya kekompakan di antara umat Buddha desa ini.

Di hari terakhir, para mahasiswa Buddhis sebagian mengikuti kegiatan kerja bakti warga di perbatasan desa. Kegiatan ini digawangi langsung oleh Kepala Desa Bumiayu. Sebagian lagi mengajar sekolah Minggu di dua vihara itu. Tak sedikit anak-anak Buddhis yang ada di Desa Bumiayu enggan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, rata-rata memilih bekerja atau yang perempuan memilih menikah.

Kehadiran mahasiswa Buddhis diharapkan mampu memotivasi anak-anak Buddhis di desa ini agar mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk membangun desanya.

Kehadiran mahasiswa Buddhis juga disambut sangat baik oleh Kepala Desa Bumiayu. Meskipun notabene bukan Buddhis, namun Kepala Desa Bumiayu akan mendukung penuh kegiatan mahasiswa yang dilaksanakan di desa ini.

Ada kejadian haru dan lucu pada akhir kegiatan. Ketika para peserta pamit pulang ke orangtua angkat masing-masing. Beberapa orangtua angkat menangis melepaskan kembali anak angkatnya.

Banyak peserta juga dibawakan buah tangan macam-macam. Ada yang diberi hasil panen seperti buah-buahan dan cabai, ada yang dibawakan kue, kacang, jagung goreng, dan lain-lain. Kegiatan singkat ini diharapkan mampu membawa dampak positif bagi Desa Bumiayu, khususnya umat Buddha.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 1242 kali