x

Keistimewaan Vihara Buddharatana Ampelgading, Malang

Vihara Buddharatana terletak di Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Kami berangkat bersama Bhante Subhapannyo, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia (STI) Minggu (10/5). Untuk sampai ke vihara ini, dari Desa Boro memerlukan waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil.

Gamelan lengkap dengan pengrawit dan sindennya tengah memainkan gending-gending Jawa di panggung sebelah vihara saat kami sampai di sana. Suasana ini membuat kedatangan kami mendapat sambutan hangat dari tuan rumah.

Vihara satu-satunya di Kecamatan Tirtoyudo ini mempunyai arsitektur langka untuk sebuah bangunan vihara di Indonesia. Di bagian depan tampak sebuah candi. “Bagian depan ini namanya Candi Kori Ageng atau dalam bahasa kita Candi Pintu Besar,” terang Bhante Siriratano.

Setelah memasuki gerbang candi, kami disambut oleh dua arca kinara-kinari yang terdapat pada bagian depan ruang Dharmasala. Ruang Dharmasala lebih mengagumkan lagi, sebuah rumah joglo dengan tiang-tiang penyangga yang khas berbahan kayu. “Ini adalah tiang bangunan vihara lama, kami sisakan satu tiang karena banyak jasa leluhur yang mengerjakan bangunan waktu itu,” terang bhante menunjuk sebuah bekas bangunan vihara yang dihiasi oleh bunga dan aneka sesaji.

Bhante Siriratano sebagai putra daerah Ampelgading yang memahami karakter dan sifat masyarakat umat Buddha Vihara Buddharatana mempunyai alasan tersendiri ketika membuat konsep bangunan seperti itu. Menurutnya, masyarakat Jawa pada umumnya masih mempunyai ikatan erat dengan para leluhurnya.

“Ini kan model bangunan lama, khas orang Jawa yang pada saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Jadi alasannya sederhana saja, supaya umat tidak lupa dengan akar sejarahnya, dan yang lebih penting kita merasa nyaman ketika berada di vihara, seperti ketika berada di rumah sendiri,” pungkasnya.


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 370 kali