x

Jodoh

Pertanyaan:

karma apa yah kok sampe umur 36 blm dpt perempuan dr lhr blm prnh merasakan pacaran karma yg membuat susah dpt cewe

Indra, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Indra di Jakarta,


Apabila seseorang ingin memperoleh pasangan hidup, maka hendaknya aktif dalam komunitas. Carilah komunitas yang sesuai dengan hobi Anda, misalnya fotografi, dsb.

Demikian dan semoga segera mendapatkan pasangan yang diharapkan.

Salam Metta.

Ingin Memeluk Agama Budha

Pertanyaan:

Selamat pagi.. Saya remon zamora Saya ingin sekali memeluk agama Budha Tapi sedikitpun saya belum tahu caranya. Saya mohon minta bimbinganya. Terima kasih

Remon Zamora, Jakarta Selatan

Jawaban:

Kepada Yth. Remon Zamora di Jakarta Selatan,


Seseorang yang yakin kepada ajaran Sang Buddha akan sangat baik apabila ia memperbanyak perbuatan baiknya. Dimulai dari hal yang sederhana, seperti tidak membuang sampah pada tempatnya ataupun memberikan perhatian kepada pengemis di jalan sesuai kemampuan.
Apabila perbuatan-perbuatan baik terus dilakukan, maka batin dan pikiran akan tenang.
Inilah inti dari ajaran Buddha. 

Namun, apabila Anda ingin divisudhi (ditahbiskan) sebagai umat Buddha-dalam hal ritual, Anda bisa menghubungi Sekretariat Vihara di (021) 6471.6739 untuk dapat bertemu Bhikkhu. Kemudian Bhikkhu akan menuntun Anda mendapatkan Sila (pedoman hidup).

Demikian dan semoga Anda berbahagia.

Salam Metta.

Pengalaman Meditasi

Pertanyaan:

dalam meditasi saya menyimpulkan ada 2 hal besar yaitu hal2 yang sifatnya panas sperti pancaskandha/gangguan2 sedangkan hal yang di rasakan dingin sejuk dan tentram itu adalah unsur nibbana/nibbana itu sndiri yang dapat di rasakan oleh kesadaran/pikiran moment ini pun terjadi setelah tidak merasakan sensasi tubuh dan setelah melepaskan sensasi perasaan yang sederhana mengenai keberadaan/existensi (si aku mulai menampakkan wajah asli/ tersudutkan hanya sebagai konsep pikiran2) selanjutnya ada perasaan bebas n sejuk tnpa merasa adanya sensasi2 terbakar/panas apakah betul ini adalah nibbana,mohon penjelasan nya terima kasih

Lucky Adi Purnomo, Jakarta Utara

Jawaban:

Kepada Yth. Lucky di Jakarta Utara,


Kami turut bergembira atas pengalaman meditasi Anda. Yang berarti Anda telah tekun bermeditasi. Mengenai hal-hal yang dikatakan apakah itu Nibbana ataupun tidak, hal ini tidak bisa dijelaskan secara terperinci dalam forum ini. Namun, kadangkala sensasi nyaman yang dirasakan dapat mengkondisikan seorang pemeditasi justru berharap terus dan terus mengalaminya. Hal ini justru tidaklah baik, yang artinya masih ada kemelekatan.

Teruslah bermeditasi dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Perkawinan Yang Kedua Secara Buddhis

Pertanyaan:

Namo Buddhaya, Maaf sebelumnya, mohon izin bertanya, bila ada seorang umat buddha yg sudah punya anak dan istri namun karena suatu hal tertentu ia ingin menikah lagi dengan istri keduanya dan sudah mendapat restu dari istri pertamanya, maka bisakah ybs melangsungkan pernikhan dengan istri keduanya secara agama buddha? Maaf sebelumnya bila ada yg kurang berkenaan😯 Mohon solusinya😇 Mohon informasinya😇 Dan Mohon pencerahannya😇 Terims 😇😇😇

Dhanu, Badung

Jawaban:

Kepada Yth. Dhanu di Bandung,


Persoalannya bukanlah boleh atau tidak, namun apakah yang bersangkutan nantinya bisa bertindak adil apabila memiliki dua orang istri. Demikianlah hendaknya direnungkan terlebih dahulu resiko yang kemungkinan akan terjadi.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Prioritas Orang Tua Sesudah Menikah

Pertanyaan:

Namo buddhaya, Saya ingin bertanya bagaimana sikap seharusnya sepasang suami istri kepada orang tuanya dalam agama buddha? Awalnya saya tidak masalah ketika ikut suami pindah ke kota lain yg jauh dari org tua saya. Tapi, saya merasa tidak dianggap oleh org tua dari suami saya, karena apapun yang saya lakukan hanya dikomentari negatif dan itu dilontarkan ke suami saya tidak langsung pada saya, hampir tidak pernah saya mengobrol dengan org tua dr suami. Ketika sudah punya 1 anak, saya merasa tidak adil. Karena di 1 sisi saya ingin berbakti kepada org tua saya dan tidak ingin anak saya tidak kenal dengan neneknya tapi masalahnya ada pada jarak yang jauh sehingga saya tidak bisa terlalu sering bolak balik dengan pesawat. Setiap hari sudah video call, tetapi tetap sewaktu bertemu merasa asing dengan neneknya. Di 1 sisi hampir setiap hari saya dan suami pergi kerumah orang tuanya dan lagi2 saya hanya duduk diam sendiri seperti orang tidak dikenal. Saya coba berbaur tetapi hasil negatif, meskipun ikut ttp saya dicuekin. Bahkan tidak jarang saya jadi ngomong sendiri karena tidak didengar. Saya coba berdiskusi dgn suami saya tetapi hasilnya malah saya dituduh menjelekkan orang tuanya dan dia harus bela orang tuanya karena takut durhaka. Apa sebaiknya setelah menikah tinggal jauh dari orang tua dari kedua pihak agar adil? Karena suami saya sensitif sekali bila sudah berbicara ttg keluarganya. Mohon pencerahannya. Terima kasih. Namo buddhaya

Nanda, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Nanda di Jakarta,


Saudari Nanda kami memahami apa yang Anda alami saat ini. Namun yakinlah bahwa hal ini akan berlalu dan berubah menjadi hal baik.

Di dalam ajaran Buddha, khususnya di dalam SILALOVADA SUTTA di uraikan mengenai 5 macam kewajiban anak kepada orang tua, yaitu :

1.       Merawat dan menunjang kehidupan orang tua terutama di hari tua mereka.
2.       Membantu menyelesaikan urusan-urusan orang tua.
3.       Menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya.
4.       Mempertahankan kekayaan keluarga , tidak menghamburkan harta orang tua dengan sia-sia.
5.       Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Hal ini juga berlaku bagi kondisi anak ketika ia telah berkeluarga.

Dari apa yang Anda telah lakukan dan alami, memang apabila seseorang jarang bertemu akan timbul rasa canggung. Namun Anda telah melakukan hal yang baik yakni dengan Video Call.
Anda pun bisa mencoba hal sederhana dengan teknologi Whatsapp, seperti mengirimkan video lucu, kata-kata mutiara hingga resep masakan atau apapun yang biasanya disukai oleh orangtua. Hal-hal kecil ini bisa menumbuhkan rasa harmonis antara kedua belah pihak.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Amarah

Pertanyaan:

saya merasa hati saya penuh amarah dan dengki saya kehilangan Iman saya apakah boleh saya ikut pabajja sedang saya tidak begiti paham Doa dan ajaran BUddha saya sudah hampir 10 tahun tidak ke Wihara

Dewi Ratna, Jakarta Barat

Jawaban:

Kepada Yth. Dewi Ratna di Jakarta Barat,


Untuk mengikut kegiatan Pabbajja dapat meng-klik tautan ini: 

http://dhammacakka.org/?channel=info&mode=detailkegiatan&id=843

Semoga bermanfaat, terima kasih.

Salam Metta.

Sila Pertama

Pertanyaan:

Namo Buddhaya, Umat Buddha di Sri lanka banyak yang menjalani vegetarian. Jika satu kota pada melaksanakan pancasila, maka tidak ada yg membunuh hewan, otomatis semuanya vegetarian. Sehingga dikatakan sila pertama dan vegetarian saling berhubungan. Sebaliknya umat Buddha Thai memiliki pendapat yang berbeda. Apakah benar Sang Buddha memperkenalkan pancasila (terutama sila ke 1) supaya vegetarianisme tercapai, dengan kata lain semangat apakah vegetarianisme terkandung di dalam sila ke 1? Umat Buddha Sri Lanka mempraktekkan Dhamma dari Sang Buddha, Umat Buddha Thailand juga sama. Tapi kenapa mereka bisa lain pendapatnya mengenai vegetarianisme? Apakah ini tergantung pendapat pribadi atau bagaimana? Apa yang sebenarnya yang Sang Buddha ajarkan? Terima kasih Bhante

Steve, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Steve di Sri Lanka,


Makan daging merupakan topik yang sangat sensitif. Ada beragam pandangan tentang makan daging dan setiap pandangan mungkin benar pada batas tertentu, tetapi pandangan-pandangan tersebut mungkin saja tidak bijaksana. Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan pandangan pribadi kita dan bersikap lebih terbuka untuk melihat pandangan Sang Buddha. Hal ini penting sekali karena Beliau adalah Tathagata yang mengetahui dan melihat.

Dalam Majjhima Nikaya 55, Khotbah ini penting sekali karena disini Sang Buddha menyatakan dengan jelas pendapat Beliau tentang makan daging.

Tabib Raja, Jivaka Komarabhacca, datang mengunjungi Sang Buddha. Setelah memberi penghormatan, dia berkata: “Yang Mulia, saya telah mendengar hal ini: ‘Mereka menyembelih makhluk hidup untuk Samana Gotama (yaitu Sang Buddha); Samana Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan kepadanya dari binatang yang dibunuh untuk dirinya’…”; dan bertanya apakah hal ini memang benar.

Sang Buddha menyangkal hal ini, menambahkan “Jivaka, saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging tidak diijinkankan untuk dimakan: apabila dilihat, didengar atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) … Saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging diijinkan untuk dimakan: ketika tidak dilihat, didengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ….”

Lebih lanjut, Sang Buddha menambahkan: “Jika seseorang menyembelih suatu makhluk hidup untuk Tathagata (yaitu Sang Buddha) atau para siswanya, dia menimbun banyak kamma buruk dalam lima hal … (i) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan giring makhluk hidup itu’ … (ii) Ketika makhluk hidup itu menderita kesakitan dan kesedihan ketika dijerat dengan lehernya yang terikat … (iii) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan sembelihlah makhluk hidup itu’ … (iv) Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih … (v) Ketika dia mempersembahkan kepada Tathagata atau para siswanya dengan makanan yang tidak diijinkan …. ”

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Sang Buddha membedakan antara daging yang diijinkan1 dengan tiga kondisi dan daging yang tidak diijinkan. Ini adalah kriteria yang paling penting sehubungan dengan makan daging.

Selengkapnya dapat Anda baca di https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/pandangan-sang-buddha-tentang-makan-daging/

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Mimpi

Pertanyaan:

Selamat pagi Bikkhu.., maaf sebelumnya, saya bukan orang Buddha, tp Kakek, Nenek dan saudara Mama saya beragama Buddha, saya ingin tahu, apakah arti mimpi menyirami ikan emas yang seperti di film Sun Go Kong, waktu Dewi Kwan Im menjadi ikan emas?, dia kelihatan kehabisan nafas lalu saya sirami dengan air. Dia mendekat kesebelah saya. Sebelumnya terima kasih banyak Bikkhu atas waktunya.

Eduardus Felix, Semarang

Jawaban:

Kepada Yth. Eduardus Felix di Semarang,


Saudara, mimpi adalah aktifitas dari pikiran yang masih bekerja ketika seseorang terlelap, biasanya dalam pikiran bawah sadar. Kami tidak memahami arti secara khusus sebuah mimpi.
Namun, ketika bermimpi tentang orang suci atau yang dihormati--tidak harus dewa/dewi, bisa juga bermimpi mendiang orangtua misalnya, maka dapat dimaknai untuk memperbanyak perbuatan baik kepada semua makhluk.
Apabila yang di dalam mimpi tersebut sudah meninggal, maka sebaiknya melakukan pelimpahan jasa kepada mendiang tersebut. Seperti berdoa, "Semoga atas perbuatan baik yang telah dilakukan membuahkan kebahagiaan kepada mendiang dan semua makhluk."

Demikian dan semoga dapat dimengerti.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.  

Tindakan Yang Tepat

Pertanyaan:

Namo buddhaya Bhante saya ingin bertanya jika suatu ketika saya menemukan uang atau barang yang cukup berharga di jalan tidak terdapat identitas pemilik dan disekitar daerah terserbut tidak ada orang, sebagai seorang umat buddha apa tindakan yang tepat yang harus saya lakukan tanpa melanggar sila ke dua "Aku bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan".apakah saya harus membiarkannya saja atau harus bertindak? Terimakasih Bhante.

Naya, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Naya di Jakarta,


Benar sekali, sebagai umat Buddha kita memiliki Sila untuk tidak mengambil barang yang bukan milik atau yang tidak diberikan. Dalam kondisi yang Anda tanyakan tsb, ada baiknya memberitahukan / menyerahkan kepada pihak yang berwajib.

Misalnya, Anda menemukan dompet yang tertinggal di kamar mandi sebuah stasiun, maka sampaikan hal ini kepada security stasiun. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah niat mulia Anda untuk tidak mengambil barang tersebut.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Pelimpahan Jasa Kepada Orang Yang Masih Hidup

Pertanyaan:

Bhante, apakah bisa/boleh melimpahkan jasa kebajikan yang telah dilakukan kepada orang yang masih hidup? Contohnya kepada kedua orang tua yang masih hidup maupun kepada orang yang disayangi. Terima kasih.

Chandra, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Chandra di Jakarta,


Pada umumnya pelimpahan jasa dilakukan kepada sanak keluarga yang telah meninggal. Namun yang Anda maksud bisa dikatakan sebagai "Berbuat Baik atas nama orangtua."
Misalnya, Anda berdonasi kepada Panti Asuhan menggunakan/atas nama Ayah atau Ibu. Hal ini sangat baik, apalagi jika bisa mengajak kedua orangtua ikut bersama dalam kegiatan amal tersebut.

Demikian dan semoga dapat dipahami.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.