Download MP3 Dhammadesana TERBARU: Kesiapan Mental Menghadapi Perubahan Oleh Bhikkhu Khemadharo (Puja Bakti Pagi Minggu, 12 Mei 2013)

Patidana VS Chio Ko ( Ulambhana ) oleh Bhante Sri Subalaratano Mahathera

Nammo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Tat’eva katapuññaṁ’pi
Asmā lokā paraṁ gataṁ
Puññāni paṭigaṇhanti
Piyaṁ ñātiṁ’va āgataṁ 
(Dhp . 220)

Perbuatan baik seseorang akan menyambutnya bilamana ia meninggal,
seperti keluarga menyambut pulang orang yang tercinta.



Sering orang salah pengertian bahwa upacara Patidana sama dengan upacara Cio Ko atau Chio Sie Kow yang dikenal sebagai sembayang rebutan yang dilakukan di kelenteng-kelenteng Taois atau Vihara Avalokiteswara.

Upacara Chio Ko atau “sembayang rebutan “ berdasarkan kepercayaan dalam cerita See Yu atau perjalanan ke Barat.  Upacara ini dilakukan setelah tanggal 15 Imlek bulan ke tujuh (Cit Gwee). Karena sebelum tanggal tersebut keluarga masih melakukan sembayang leluhur di rumah atau di makam, sehingga disebut sebagai “sembayang kubur”. Upacara Chio Ko ditujukan untuk “arwah” yang mendapat cuti berkunjung kerumahnya tetapi keluarganya sudah tidak mengingat mereka lagi.

Sedangkan upacara Patidana berdasarkan kejadian ketika Raja Bimbisara di Rajagaha mengundang Buddha Gotama dengan para siswanya santap siang. Karena sangat bahagia raja lupa untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhurnya yang terlahir di alam peta. Sehingga pada malam hari mendapat gangguan dari peta-peta tersebut. Maka keesokan harinya raja mengundang kembali Guru Agung Buddha dan melimpahkan jasanya kepada leluhurnya.

Jadi upacara Patidana dapat dilakukan kapan saja bila kita mendapat kesempatan berbuat baik dan sedang pikiran bahagia. Upacara Patidana bukan “upacara duka”. Paritta Avamangala dibaca atau diulangi agar yang mendengar dan setelah tahu artinya bisa berubah pikiran dari bersedih menjadi bijaksana dan rela melepas orang yang dicintai.

Dalam genap usia 25 tahun Sima di Vihara Dhammacakka, Gedung Uposathaghara telah selesai diberi hiasan ukiran kayu jati dan relief 10 cerita Jataka design dari YM. Sri Paññavaro. Sehingga Vihara kita ini menjadi tambah megah. Pada tahap awal Vihara Dhammacakka juga sudah siap mengajak para Umat, para Dermawan dan Simpatisan untuk mengumpulkan Dana Pembangunan 10 lantai dibelakang Uposathaghara demi memenuhi fasilitas bagi Umat Buddha.

Adalah waktu yang tepat bagi kita bisa menanam bibit kebajikan yang akan bebuah kemajuan dalam saat ini tepat waktu ( Kalasampati).
Guru Agung Buddha Gotama bersabda “ Kusalassa upasampadā ” tambah banyak kebajikan, kebajukan akan menjadi teman atau keluarga yang akan menyambut kita ketika meninggal dunia.
Pembangunan gedung 10 lantai bukan hal yang mudah,tapi mengingat untuk menampung fasilitas umat Buddha,maka hal ini perlu dilaksanakan secara bertahap.

Saya atas nama Vihara Dhammacakka mengajak untuk para umat bisa menabung yang  nanti bisa didanakan dalam upacara Kathina puja pada tgl 14 Nopember 2010.
Tentu dana ini sangat bernilai tinggi karena secara tidak langsung merupakan Dhamma-dana ( sabba dana Dhamma danaṁ jinati )

 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

Written by :
Benny Lokajaya
 

Berlangganan Berita?

Daftarkan nama dan alamat email anda untuk mendapatkan informasi terbaru dari kami
Nama:
Email: