|
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Membangun Keakraban dan Persahabatan
Masih banyak orang yang tidak mengerti, mengapa kita harus binasa di dunia akibat perselisihan. Ia yang memahami kebenaran, akan dapat melenyapkan perselisihan. (Dhammapada 06, Yamaka Vagga)
Pada umumnya kehidupan manusia sangat membutuhkan kedamaian, sehingga setiap individu manusia selalu mencari kedamaian, tetapi kadang apa yang dilakukan menyalahi aturan kemoralan. Marilah kita melihat berita di media media televisi, radio dan surat-surat kabar. Di sini kita melihat berbagai macam tindakan semena-mena terhadap sesama manusia, hal ini dipicu karena setiap individu manusia masih menggenggam keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Kekotoran batin inilah yang menyebabkan terjadinya sebuah pertengkaran dan perselisihan di antara individu maupun kelompok. Setelah perselisihan terjadi, kita baru bisa menyadari bahwa perselisihan ini menciptakan penderitaan baru sehingga sangat merugikan, bukan kita sendiri yang rugi tetapi juga merugikan orang banyak.
Karena orang masih memiliki kekotoran batin sehingga perselisihan pun tak terelakkan lagi. Selama lobha, dosa, dan moha belum lenyap dari batin kita, maka kita akan selalu diliputi kejahatan. Semua perselisihan dalam kehidupan ini hanyalah berawal dari keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, sehingga seseorang tidak mau lagi untuk mengerti dan tidak mau lagi memahami keberadaan orang lain baik kekurangan serta kelebihannya. Apalagi seseorang hanya menuntut sesuatu yang terbaik dari pelayanannya maupun pemberiannya. Jika seseorang tetap mempertahankan keakuannya, maka seseorang sangat tercela, bisanya hanya menciptakan perselisihan yang membawa penderitaan.
Oleh karena itu, marilah kita semua umat Buddha sangat layak menciptakan suasana persahabatan, layak membangun persahabatan maupun persaudaraan di antara kita. Sebagai siswa Sang Buddha, kita harus mengetahui apa yang pantas untuk dilakukan karena kita mengetahui tentang Dhamma. Dalam Dhamma kita diajarkan untuk mencapai sebuah kebahagiaan yang tertinggi, kita sendirilah yang meraih bukan orang lain. Kita mengkondisikan di sekitar kita bersahabat, tanpa adanya suasana persahabatan kita sangat kesulitan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, XV.32 terdapat sebuah ajaran; empat sifat-sifat yang menjadikan suasana persahabatan (sanghavattu). Apakah empat sifat-sifat yang menjadikan suasana persahabatan itu? Empat sifat-sifat itu meliputi: 1. Dāna Dana adalah memberi dan membagi barang-barang kepada orang lain yang pantas menerimanya. Dana dapat menjadikan suasana persahabatan, apakah alasannya? Alasannya adalah setiap orang menerima dana akan merasa senang atau bahagia. Kebahagiaan itu akan memunculkan pikiran positif ”keinginan untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan orang lain terhadap dirinya yaitu memberi”. Sedikit atau banyaknya dana yang diberikan bukanlah masalah, yang terpenting adalah niat baik yang disertai keikhlasan dan ketulusan atau niat baik yang bebas dari lobha, dosa, dan moha. Dengan demikian, perbuatan dana ini akan mengkondisikan ketersalingan untuk memberi. Perbuatan saling memberi inilah menciptakan suasana persahabatan. Tidak ada tindakan memberi takkan ada persahabatan. 2. Piyavācā Piyavācā adalah berdiskusi atau membicarakan hal-hal dengan ucapan yang menyenangkan dan halus. Hal ini dapat juga menciptakan suasana persahabatan baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan bermasyarakat, apa alasannya? Ketika ada sebuah masalah dalam diskusi, selain orang mempunyai sebuah masalah juga ada orang-orang lain yang memberikan sebuah komentar, pendapat, dan solusi. Dalam sebuah diskusi, orang akan saling berbicara satu dengan yang lain, tidak hanya satu orang yang berbicara, suasana pun menjadi terbuka yang tidak menimbulkan kecurigaan-kecurigaan pada orang lain. Jika tidak semua berbicara, tak akan ada penyelesaian dan cenderung macet. Dengan adanya saling berbicara, maka akan terjadi keakraban penuh persahabatan, tidak ada keakraban jika tanpa diskusi dan ada keakraban jika kita berdiskusi. 3. Atthacariyā Atthacariyā adalah melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain. Hendaknya, kita selalu melakukan perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain (ringan tangan). Ringan tangan ini akan menyebabkan suasana persahabatan, melakukan sesuatu dengan sendirinya dan melakukan yang dianggap pantas bagi dirinya maupun orang lain tanpa mengharap imbalan dan pujian dari orang lain. Secara otomatis, orang itu akan mendapatkan penghormatan dari orang yang telah merasakan manfaat atas pekerjaanpekerjaannya. Orang yang seperti ini selalu berprinsip yang terpenting; melakukan segala sesuatunya tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri sendiri, tetapi akan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain dan bermanfaat bagi diri sendiri. 4. Samānattatā Samānattatā adalah memiliki ketenangan batin dan tanpa kesombongan. Ketenangan batin sangat diperlukan dalam menciptakan suasana keakraban maupun persahabatan. Jika sesuatu tanpa didasari dengan ketenangan batin, semuanya tidak akan tercipta terwujud yang namanya persahabatan. Ketika mendapatkan celaan, kritikan dan cacian, hendaknya orang tidak lekas marah, melainkan tetap tenang tanpa memberikan komentar apapun. Sikap tenang ini akan memberikan kondisi seseorang yang tadinya tidak simpati menjadi simpati, orang yang tadinya sudah bersimpati menjadi lebih bersimpati. Dengan demikian, akan tercipta tali persahabatan di antara kita. Ketenangan saat mendapatkan masalah; seseorang akan melihat kita orang yang tabah, sabar dalam menghadapi setiap masalah sehingga orang akan menempatkan kita sebagai sahabat sejati atau menjadikan mitra kerja dalam berbagai bidang baik dalam keluarga atau dalam masyarakat.
Demikianlah keempat Dhamma yang menciptakan suasana keakraban maupun persahabatan yang harus dijalankan demi kebahagiaan bersama. Jika seseorang mau mempraktikkan Dhamma tersebut, maka kedamaianlah yang ada, bukan hal-hal yang menakutkan serta kita akan aman dari bahaya apapun, dimanapun, dan kapanpun karena kita telah bersahabat pada semuanya. Oleh karena itu, mari kita semua belajar Dhamma. Dengan belajar Dhamma kita akan mudah mencapai kebahagiaan tertinggi.
Oleh Bhikkhu Dhammamitto (30 Oktober 2011)
Untuk mendengarkan silakan klik di sini.
|