Download MP3 Dhammadesana TERBARU: Menjadi Manusia yang Berkualitas dengan Mengembangkan Rasa Malu dan TakutPa Oleh Bhikkhu Indadharo (Puja Bakti pagi Minggu, 19 Mei 2013)

Kegiatan Rutin
Puja Bakti Pagi (Umum)   
: Minggu, pkl. 09.09 - 11.00
Sekolah Minggu : Minggu, pkl. 09.30 - 11.00
Puja Bakti Remaja : Minggu, pkl. 09.09 - 11.00
Kelas Dhamma : Minggu, pkl. 12.00 - 14.00
Puja Bakti Sore :

Sabtu, pkl. 16.00 - 18.00

Minggu, pkl. 16.00 - 18.00

Puja Bakti Mahasathi

(Mahasiswa dan Sarjana Theravada Indonesia)

: Minggu, pkl. 09.09 - 11.00
Pemeriksaan Kesehatan : Minggu, pkl. 11.00 - 13.00
Sabtu Akhir Bulan, pkl. 11.00 - 13.00
Pemberkatan Perkawinan : Sabtu, pkl. 10.00 - 12.00
Kursus Bahasa Mandarin : Sabtu, pkl. 10.00 - 15.00
Minggu, pkl. 12.00 - 16.00
Latihan Meditasi : Rabu, Kamis, Jumat, pkl. 19.00 - 21.00
Permohonan Sila : Hari Uposatha, pkl. 05.30 - 06.00
Puja Bakti Uposatha : Hari Uposatha, pkl. 19.00 - 21.00
Puja Bakti Lanjut Usia : Sabtu Akhir Bulan, pkl. 10.00 - 12.00
Lepas Satwa (fang-sheng) : Sabtu Awal Bulan, pkl. 08.00 - 12.00
Ulang Tahun Bersama : Minggu Akhir Bulan, pkl. 11.30 - 12.30
Perpustakaan Narada : Selasa - Minggu, pkl. 08.30 - 16.00
Bursa Dhammacakka : Selasa - Minggu, pkl. 08.30 - 16.00
>> lihat KALENDER KEGIATAN

 

Selain kegiatan-kegiatan rutin tersebut, Dāyaka Sabhā Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya juga menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilakukan berkala setiap tahun, antara lain:

1. Bakti Sosial, di antaranya bakti social pembagian sembako dan bakti social pengobatan gratis.Bakti Sosial

2. Donor Darah, diselenggarakan tiga bulan sekali, yaitu bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Biasanya jatuh pada minggu pertama dan dilaksanakan pada hari Minggu, pkl. 11.00 - 13.00.

3. Perayaan Tahun Baru Masehi, dirayakan pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari tahun berikutnya.

4. Perayaan Tahun Baru Imlek, dirayakan pada tanggal 1 bulan 1 penanggalan lunar.

5. Perayaan Māgha Pūjā

Māgha Pūjā biasanya jatuh pada bulan Februari dan Maret. Perayaan Māgha Pūjā ini memperingati Sang Bhagavā membabarkan Ovādapāṭimokkha di tengah-tengah himpunan Para Siswa, yang mempunyai empat ciri (cāturaṅgasannipāta), yaitu:

a) Pada kesempatan itu, hadir 1.250 bhikkhu;

b) Mereka semua telah mencapai tingkat Arahatta (khīṇāsava) yang memperoleh penahbisan ehibhikkhu upasampadā;

c) Mereka, tanpa diundang, hadir di tengah Sang Bhagavā; dan

d) Dalam pertemuan itu, Sang Buddha melakukan visuddhi uposatha, membabarkan Ovādapāṭimokkha, di Veḷuvana Ārāma dekat hutan Kalandakanivāpa, saat purnama senja hari di bulan Māgha.

Ovādapāṭimokkha ini berbentuk gubahan syair sebagai berikut:Magha Puja

Khantī paramaṁ tapo tītikkhā

Nibbānaṁ paramaṁ vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto.

Sabbapāpassa akaraṇaṁ

Kusalassūpasampadā

Sacittapariyodapanaṁ

Etaṁ buddhāna sāsanaṁ.

Anūpavādo anūpaghāto

Pāṭimokkhe ca saṁvaro

Mattaññutā ca bhattasmiṁ

Pantañca sayanāsanaṁ

Adhicitte ca āyogo

Etaṁ buddhāna sāsananti.

Arti syair tersebut adalah:

Kesabaran, ketabahan adalah cara bertapa terbaik. Para Buddha bersabda, ’Nibbāna adalah yang tertinggi.’ Seseorang yang melukai orang lain, menyakiti orang lain, bukanlah seorang petapa, bukan seorang samana.

Tak berbuat segala keburukan, mengembangkan kebajikan, menyucikan pikiran sendiri, adalah ajaran para Buddha.

Tak menghujat, tak menyakiti, terkendali dalam tata susila, tahu ukuran dalam hal makan, hidup di tempat yang tenang, berusaha mengembangkan pikiran luhur, adalah ajaran para Buddha.

 

6. Perayaan Visākha Pūjā

Visākha Pūjā biasanya jatuh pada bulan Mei dan Juni. Perayaan Visākha Pūjā ini memperingati:Waisak Puja

a. Lahirnya Pangeran Siddhattha di Taman Lumbini pada purnama siddhi bulan Visākha tahun 623 SM;

b. Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha di bahwa Pohon Bodhi, di Hutan Gaya - Bodhgaya, India, pada purnama siddhi di bulan Visākha tahun 588 SM; dan

c. Sang Buddha Yang Mahasuci mencapai Mahāparinibbāna di Kusinara, pada purnama siddhi bulan Visākha tahun 543 SM.

 

7. Perayaan Visākha Aṭṭhamī Pūjā

Visākha Aṭṭhamī Pūjā dirayakan pada hari kedelapan setelah Perayaan Visākha Pūjā. Perayaan Visākha Aṭṭhamī Pūjā adalah untuk memperingati hari kedelapan setelah Sang Buddha mencapai Mahāparinibbāna atau hari ketika jasad Sang Buddha dikremasi.

 

8. Perayaan Āsāḷha PūjāAsadha Puja

Āsāḷha Pūjā biasanya jatuh pada bulan Juli. Perayaan Āsāḷha Pūjā ini memperingati saat pertama kalinya Sang Buddha memutar Roda Dhamma di Taman Rusa, Hutan Isipatana Migadāya, dekat kota Bārāṇasī kepada lima orang petapa. Khotbah ini kemudian dinamakan Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma).Lima orang petapa tersebut setelah memperoleh Ehibhikkhu upasampadā, kemudian disebut Pañcavaggiya bhikkhu (sebutan untuk bhikkhu buddhasāvaka pertama), terdiri dari: Y.A. Aññā Koṇḍañña, Y.A. Bhaddiya, Y.A. Vappa, Y.A. Mahānāma, dan Y.A. Assaji. Perayaan Āsāḷha Pūjā juga memperingati terbentuknya Saṅgha pertama kali di dunia.

 

9. Perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap tanggal 17 Agustus.

Biasanya diawali dengan Bazar dan berbagai perlombaan, yaitu: Lomba Baca Paritta dan Dhammapada, Lomba Menyanyi, Lomba menggambar dan mewarnai, Lomba Bulutangkis, Lomba Ceramah Dhamma, Lomba Fotografi, Lomba Merangkai Bunga, dan lain-lain, yang diikuti oleh vihara-vihara dan sekolah-sekolah di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pada tanggal 17 Agustus dimeriahkan dengan berbagai acara perlombaan rakyat.

 

10. Perayaan HUT Sīmā Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya, yang jatuh pada tanggal 24 Agustus.

Diawali dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun. Dimeriahkan dengan berbagai acara kesenian dan pembagian piala dan hadiah kepada para pemenang lomba.

 

11. Perayaan Kaṭhina dan Siripāda PūjāSiripada Puja

Pada masa kehidupan Sang Buddha, musim hujan di India berlangsung selama 3 bulan. Pada masa ini, para bhikkhu harus menetap di sebuah tempat/vihāra, dan tidak berkelana. Setelah musim hujan berakhir, tiba masa Kaṭhina yang berlangsung selama satu bulan. Pada masa Kaṭhina ini, sebelum para bhikkhu pergi berkelana, umat Buddha mempersembahkan dana kepada para bhikkhu. Dana ini berupa: tempat tinggal, jubah, makanan, dan obat-obatan. Berhubung di satu tempat hanya dilakukan satu kali upacara Kaṭhina, maka sering disebut Hari Kaṭhina. Masa Kaṭhina biasanya jatuh pada bulan Oktober dan November. Bulan Purnama penutup masa Kaṭhina sering dirayakan dengan memuja Tapak Kaki Suci Sang Buddha. Siripāda (Replika Telapak Kaki Sang Buddha) ini juga berfungsi untuk mengingatkan kita kepada Guru Agung dan juga mengandung ajakan: “Ikutilah jejak-Ku”.

Written by :
Benny Lokajaya