x

KITA ADALAH APA YANG KITA LAKUKAN

Atta hi attano natho, ko hi natho paro siya,
Attana hi sudantena, natham labhati dullabham'ti.

Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.

Dhammapada 160


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Saat ini kita masih dalam masa pandemi Covid-19, banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan kita. Hampir segala bidang kehidupan mengalami dampak yang cukup besar, dan yang sangat terasa di bidang ekonomi. Sebagai umat Buddha, hendaknya berusaha bangkit dan tetap optimis untuk menata kembali agar kehidupan saat ini menjadi lebih baik lagi. Guru Agung Sang Buddha sering kali mengingatkan bahwa segala bentukan akan mengalami perubahan. Dan perlu diingat bahwa perubahan ini akan bersifat muncul-berlangsung-lenyap dan terus silih berganti. Maka dari itu, teruslah untuk berupaya pada hal-hal yang mengarah pada nilai-nilai yang bermanfaat. Seperti dalam syair Dhammapada 160: “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.”

Diri Sendiri Sesungguhnya Adalah Pelindung Bagi Diri Sendiri

Ini mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan kita adalah apa yang kita lakukan. Jika ingin melihat masa depan kita, lihatlah pada apa yang sekarang kita lakukan, meliputi: apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan secara badan jasmani. Dalam Dhamma kita mengenal kamma. Secara harfiah, kamma artinya perbuatan atau tindakan. Namun demikian, tidak semua perbuatan dinamakan kamma. Yang dimaksud kamma adalah kehendak baik dan buruk (kusala dan akusala cetana).

Dalam Kitab Suci Anguttara Nikaya, “Aku nyatakan, oh para bhikkhu, bahwa kehendak (cetana) itulah kamma; dengan adanya kehendak maka seseorang melakukan perbuatan melalui badan jasmani, ucapan, dan pikiran.” Perbuatan (kamma) akan menghasilkan akibat (vipaka), atau buah (phala). Tindakan yang dilakukan dengan tidak sadar, tidak disengaja atau tidak disadari, walaupun secara kasat mata melakukan perbuatan, tetapi tidak membentuk kamma, karena kehendak (cetana), faktor terpenting dalam penentuan kamma, tidak ada.


Pemahaman pada kamma ini menjadi keyakinan umat Buddha (kammasaddha) sehingga umat Buddha akan mampu bersikap realistis dan membangun optimisme pada masa yang akan datang. Sekali lagi, perlu dipahami bahwa perbuatan itulah yang akan kita warisi. Contoh sederhananya dalam hidup, jika kita saat ini mengupayakan hal-hal baik misalnya seperti belajar, meningkatkan ketrampilan, berlatih bertutur kata baik, berpengendalian diri, bermoral, maka hal ini akan berdampak pada kebaikan. Begitu pula sebaliknya, jika malas, ucapan tidak terjaga, pikiran kacau, moral buruk tentu bisa dibayangkan sebagai dampaknya akan menemui kesulitan. Saluran pintu perbuatan ada tiga yaitu: pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Penggolongan Kamma Menurut Fungsinya

  1. Janaka kamma yaitu kamma (perbuatan/kehendak) yang berfungsi menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk. Kamma ini menimbulkan batin (nama) dan jasmani (rupa). Kamma ini muncul pada pikiran terakhir menjelang kematian. Sifat dari kamma ini bisa baik ataupun buruk.
    Contoh: Kelahiran di alam manusia dalam kondisi keluarga yang berkecukupan dan bahagia, atau di alam binatang dengan keterbatasan fisik.
  2. Upatthambhaka kamma yaitu kamma yang berfungsi mendukung terpeliharanya satu hasil kamma yang telah timbul. Kamma ini membantu janaka kamma, yaitu:
  3. Membantu memberikan waktu untuk menimbulkan hasil/ akibat dari janaka kamma yang belum memiliki waktu untuk menimbulkan hasil.
  4. Membantu memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil secara sempurna dari janaka kamma yang sedang memiliki waktu menimbulkan hasil.
  5. Membantu rupa-nama (jasmani-batin) yang dilahirkan janaka kamma menjadi maju dan bertahan lama.
  6. Upapilaka kamma yaitu kamma yang berfungsi menekan, mengolah, menyelaraskan satu hasil kamma yang telah timbul. Kamma ini menekan janaka kamma agar:
  7. Tidak memiliki waktu untuk menimbulkan hasil.
  8. Yang telah memiliki waktu untuk menimbulkan hasil akhirnya mempunyai kekuatan menurun.
  9. Menekan rupa-nama (jasmani-batin) yang ditimbulkan oleh janaka kamma.
  10. Upaghataka kamma yaitu kamma yang berfungsi merusak, menyakiti satu hasil kamma yang telah timbul.

Contoh: Seseorang terlahir di keluarga yang mampu sebagai hasil dari kamma baik, namun karena ia melakukan korupsi akhirnya ia di penjara dan kehilangan harta dan kebahagiaannya. Sebaliknya, seseorang terlahir di keluarga yang kekurang-an sebagai hasil dari kamma buruk, namun karena jujur akhir-nya ia mendapatkan pekerjaan yang layak dan mampu meningkatkan kehidupannya.

Setelah memahami hal ini marilah kita berusaha untuk mengisi waktu hidup kita dengan hal-hal yang baik. Sebab apa yang kita lakukan itulah yang akan kita warisi.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Dibaca : 1342 kali