x

Memanfaatkan Harta Dengan Bijak

-


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pendahuluan
Sebagai perumah tangga/gharavasa dalam kesehariannya untuk menunjang kelangsungan hidup tentunya harus mencari nafkah, mencari penghidupan yang baik, yang diperoleh dengan cara yang benar. Di mana pekerjaan itu tidak merugikan diri sendiri maupun orang atau makhluk lain, juga yang tidak membahayakan diri sendiri. Sudah menjadi kewajiban untuk giat dan penuh semangat dalam bekerja mencari nafkah dan tidak malas, demi memperoleh kenyamanan, kemajuan, dan kesejahteraan hidup. Perumah tangga bebas memilih dan memiliki mata pencaharian, selama tidak menyakiti dan mengganggu hak hidup dan kenyamanan orang atau makhluk lain, apalagi sampai melanggar hukum negara. Dengan demikian harta kekayaan yang diperoleh dari pekerjaan atau penghidupan benar dan dikumpulkan dengan cara yang benar sesuai Dhamma, akan membawa berkah bagi orang yang mempraktekkannya. Setelah penghasilan yang didapatkan dan dikumpulkan dengan baik, maka haruslah dipergunakan atau dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Keperluan tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari, sehingga dalam pengelolaannya tidak besar pasak daripada tiang, penghasilan yang diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan pengeluarannya.

Dalam pengelolaan penghasilan menurut ajaran Buddha dapat dibagi sesuai kebutuhannya. Dalam DN.31.26.Sigalaka Sutta, Sang Buddha memberikan anjuran bahwa penghasilan dapat dikelola dengan satu bagian (25%) dari penghasilan untuk dinikmati, dua bagian (50%) untuk investasi atau untuk perkembangan usaha/pekerjaan, dan satu bagian lagi (25%) disimpan atau ditabung untuk keperluan tidak terduga, misalnya sakit. Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah kebutuhan dan keinginan. Karena, biasanya orang kelimpahan segalanya (harta) akan cenderung suka berfoya-foya atau menghamburkan kekayaan yang dimilikinya, akibatnya akan mengalami kesusahan dalam materi. Sudah tentu hal ini harus dihindari, selain itu dalam pergaulan maupun mencari teman haruslah hati-hati, jangan sampai terpengaruh oleh orang yang tidak baik, bisa saja orang yang tidak bertanggung jawab mau memanfaatkan kita. Dengan demikian orang yang waspada dapat terhindar dari penipuan maupun kerugian.

Hidup sebagai perumah tangga selain mencari harta kekayaan juga perlu mencari atau meningkatkan nilai spiritual, agar dalam kehidupan yang dijalaninya seimbang antara duniawi dan spritual. Seperti banyak kasus ketika orang-orang sibuk mencari uang atau mengumpulkan kekayaan, dan lupa dengan nilai spiritual, maka stres pun akan melanda mereka, dan dapat menderita sakit. Dengan demikian, sebagai umat Buddha alangkah baiknya bila hidup dalam keseimbangan, dalam hal ini akan lebih bermanfaat apabila kita hidup sesuai dengan Dhamma ajaran Buddha, maka jadikanlah Dhamma sebagai jalan hidup.

Menggunakan kekayaan yang telah diperoleh
Dalam penggunaan harta kekayaan menurut ajaran Buddha, bagi perumah tangga yang mengumpulkan harta kekayaannya agar bermanfaaat dan dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi diri sendiri maupun keluarga. Dalam kitab suci Anguttara Nikaya Kelompok iv.61 Sang Buddha menjelaskan bagaimana seseorang hendaknya menggunakan harta kekayaan yang telah diperoleh ialah:

  • Dengan kekayaan yang dimiliki itu, ia dapat membuat dirinya sendiri bahagia dan senang, orangtuanya, anak dan istrinya, juga keluarga, kolega serta karyawan atau pembantunnya, dan teman/ sahabatnya ikut bahagia dan senang. Dapat pula dengan mengajak anggota keluarganya untuk menikmati kekayaannya seperti, pergi jalan-jalan, belanja atau makan bersama dan lain sebagainya.
  • Dengan kekayaan yang dimilikinya dapat juga menghilangkan bahaya-bahaya atau berjaga-jaga dari kerugian yang dapat menimpa dirinya yang mungkin muncul dari api, banjir, raja dan bandit, serta alih waris yang tak diinginkan. Sebagai contoh tinggal di tempat yang tinggi dan aman, memasang gembok atau kunci yang baik, dan juga dapat memasang kamera pemantau/pengaman untuk menjaga lingkungan rumah/kantor.
  • Dengan kekayaan yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk melakukan lima persembahan yaitu:
  • Persembahan kepada sanak keluarga, memberikan hadiah kepada anggota keluarga pada saat ulang tahun atau hari raya.
  • Persembahan kepada tamu, apabila ada tamu berkunjung ke rumah dapat memberikan suguhan/hidangan makanan dan minuman.
  • Persembahan kepada leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal dengan pelimpahan jasa (pattidana), sebagai rasa bakti dan mengingat jasa baik yang telah mereka berikan. Dengan harta yang dimiliki dapat digunakan untuk melakukan kebajikan atas nama mereka dan dengan harapan semoga jasa-jasa kebajikan ini turut diketahui oleh para leluhur, sanak keluarga yang telah meninggal tersebut. Berharap semoga mereka turut bersuka cita dan dengan kebajikan yang dimiliki dapat menjadi kondisi terlahir di alam bahagia. Apabila sanak keluarga yang membutuhkan, tentu kebajikan yang telah diperbuat akan bermanfaat besar.
  • Persembahan yang diberikan kepada raja atau pemerintah sebagai kewajiban setiap orang atau warga negara, dalam hal ini ikut mendukung pemerintah dengan cara membayar pajak tepat pada waktunya.
  • Persembahan kepada dewa, setelah melakukan jasa-jasa kebajikan, dapat dilimpakan jasa-jasa tersebut kepada para dewa dengan mengucapkan: “Semoga para dewa turut berbahagia atas jasa-jasa yang telah kami lakukan semoga para dewa melindungi.”
  • Dengan kekayaan yang diperoleh dapat pula melakukan persembahan atau berdana kepada para petapa dan brahmana yang luhur, dalam praktik kehidupan suci. Dengan memberikan kebutuhan-kebutuhan pokok, antara lain; jubah atau pakaian, makanan, tempat tinggal, obat-obatan dan barang-barang lainnya sesuai kebutuhan.

Siapa pun yang memanfaatkan kekayaannya dengan sebaik-baiknya, dalam hal ini dipakai untuk empat tindakan berjasa dan berharga tersebut. Maka kekayaannya itu, telah digunakan dengan baik dan telah diterapkan dengan tujuan penuh manfaat yang luhur. Persembahan yang telah diberikan juga penting untuk mengarahkan diri dengan tujuan terbebas dari sifat congkak, kesombongan dan dari kotoran-kotoran batin (keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin).

Selain dari yang telah disebutkan di atas dapat pula berdana untuk mendukung pembangunan vihara, sekolah, dan bantuan sosial lainnya. Perbuatan atas dasar pemikiran baik ini tentu akan mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. Sungguh bahagia bila dapat menjadi orang yang mencari dan mengumpulkan kekayaan dengan tanpa cela, yang didapatkan dengan cara yang baik dan benar sesuai Dhamma. Orang yang memiliki pencaharian yang benar tidak melakukan pekerjaan tercela merupakan suatu berkah.

Kesimpulan
Hidup sebagai perumah tangga dalam mencari nafkah untuk mempertahankan kelangsungan hidup merupakan suatu kewajiban. Sebagai perumah tangga haruslah rajin dan giat serta bersemangat mencari nafkah, yaitu kekayaan ataupun harta benda. Dengan demikian, tidak akan mengalami kesulitan hidup. Dengan kekayaan yang dimiliki yang diperoleh dengan cara yang benar sesuai Dhamma, serta dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan bijak akan memberikan manfaat bagi diri sendiri dan keluarga. Selain itu, dapat dipergunakan untuk investasi, menabung, dan berdana, melakukan kebajikan dengan membantu kepada mereka yang membutuhkan.

Tentu hal-hal yang diinginkan dan diharapkan seperti; kekayaan, kemashyuran, usia panjang, kesehatan maupun terlahir di alam yang bahagia/surgawi, merupakan keinginan banyak orang. Akan tetapi, untuk memperolehnya orang harus memiliki, saddha (keyakinan), dan mempraktikkan sila (moralitas), caga (kedermawanan), panna (kebijaksanaan). Guna mewujudkan cita-cita tersebut, sesuai yang telah Sang Buddha ajarkan, maka, dengan mempraktikkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari akan mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan serta keuntungan masing-masing.

Akhir kata semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menambah pemahaman, pengetahuan dalam memanfaatkan harta kekayaan yang telah diperoleh dengan bijaksana. Semoga kita semua maju dalam Dhamma, bahagia serta apa yang dicita-citakan tercapai. Sabbe satta Bhavantu sukhitatta, Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Sadhu, Sadhu, Sadhu.

Referensi:

  • Majalah Dhammacakka No. 83 Edisi Asadha 2560 TB/ 2016
  • Digha Nikaya, Khotbah-Khotbah Panjang Sang Buddha, Dhammacitta press Angguttara Nikaya, Khotbah -Khotbah Numerikal Sang Buddha, Dhammacitta Press Melangkah di jalan Dhamma (kumpulan artikel) Bhikkhu Khemadhiro

Dibaca : 1692 kali