x

Hidup Bahagia Tanpa Membenci

Susukham vata jivama verinesu averino,
verinesu manussesu viharama averino.

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci
(Syair Dhammapada Sukha Vagga 197)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa

Pendahuluan
Kebencian dapat muncul kapan saja dan di mana saja, pada orang yang masih diliputi kekotoran batin. Akan tetapi, bila orang mampu mengatasinya dengan tanpa membenci, tentu akan memberikan ketenangan dan kedamaian. Sering kali, kebencian yang muncul terhadap keadaan dan objek yang tidak disukai, dapat membawa beban pikiran. Dari hal itu, dapat dilihat kerugian dari orang yang menyimpan kebencian, dan tidak tahu bahwa hal itu akan membuat mereka menderita. Karena itu dapat menyebabkan konflik, pertikaian, perkelahian, bahkan sampai pembunuhan, dan masalah menjadi semakin besar. Inilah mengapa orang yang hidup dalam konflik akan saling bermusuhan yang membuat dirinya tertekan dan menderita.
Andaikan setiap orang dapat saling memaafkan, maka masalah akan berkurang, dan tidak sampai menimbulkan konflik berkepanjangan. Dengan demikian, dapat saling memaafkan ialah sebuah solusi untuk memberikan kebahagiaan dan kedamaian pada diri sendiri maupun orang lain. Apabila orang sudah terbebas dari kebencian, maka akan hidup bahagia, karena dalam hidupnya tidak akan bermasalah dengan orang lain. Sesuai dengan kutipan syair Dhammapada 197 di atas yaitu; ”Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci.Apabila orang dapat melihat kerugian dari kebencian itu, tentu tidak ada yang mau menyimpannya. Karena, bila memendam kebencian sama saja memendam sebab dari penderitaan. Di mana ada sebab penderitaan, maka ada penderitaan di sana. Oleh karena itu, janganlah memendam sesuatu yang dapat menyebabkan penderitaan.

Mengatasi kebencian yang muncul
Kita mungkin pernah berbuat kesalahan, lalu menyesal dan ingin meminta maaf, dan dengan harapan semoga dimaafkan. Seandainya kita tidak dimaafkan, maka akan kecewa, hal yang sama dapat terjadi pada orang lain. Oleh karena itu, sudah semestinya kita dapat saling memaafkan dan berusaha untuktidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan tersebut. Dengan memaafkan orang yang telah berbuat salah pada kita, maka permusuhan, beban pikiran, dan penderitaan akan berkurang, serta dapat menambah rasa persaudaraan dan persahabatan, sehingga kehidupan kita akan lebih bahagia dan bermakna, inilah pentingnya memaafkan dan tidak menyimpan kebencian. Seperti dalam kisah Dhammapada Atthakathasyair 197, yaitu mengenai perebutan air sungai Rohini, yang terjadi antara penduduk suku Sakya dari Kapilavatthu dan suku Koliya dari Koliya.
Pada waktu itu mereka tidak memperoleh hujan yang cukup, sehingga sawah mereka kekurangan air dan padi para petani mulai layu. Petani di kedua sisi sungai ingin mengalirkan air dari sungai Rohini ke ladang mereka masing-masing. Penduduk Koliya mengatakan bahwa air sungai itu tidak cukup untuk mengairi dua sisi. Jika mereka dapat melipatgandakan aliran air ke ladang mereka, barulah cukup untuk mengairi padi sampai menguning dan dapat dipanen. Sedangkan pada sisi lain, penduduk Kapilavatthu menolak hal itu. Apabila mereka tidak mendapatkan air, maka akan menyebabkan mereka gagal panen dan mereka akan terpaksa harus membeli beras orang lain. Mereka mengatakan bahwa, mereka tidak siap membawa uang dan barang-barang berharga ke seberanguntuk ditukar dengan makanan. Karena kedua pihak menginginkan air untuk kebutuhan mereka masing-masing, sehingga muncul keinginan jahat. Mereka saling memaki dan menantang, pertentangan antar petani itu sampai terdengar oleh para menteri di negara masing-masing. Kemudian mereka melaporkan kejadian itu pada raja atau pemimpin mereka masing-masing, sehingga orang-orang di kedua sisi sungai sudah siap bertempur.
Ketika Sang Buddha melihat sekeliling dunia dengan kemampuan batin luar biasa, Beliau mengetahui kerabat-kerabatBeliau pada kedua sisi sungai akan bertempur, dan memutuskan untuk mencegahnya seorang diri. Sang Buddha ke tempat mereka dengan melalui udara atau terbang dan segera berada di tengah sungai itu. Kerabat-kerabat Beliau melihat Sang Buddha yang dengan penuh kesucian dan kedamaian duduk di atas mereka, melayang di udara. Merekameletakkan senjatanya ke samping dan menghormat kepadaSang Buddha. Kemudian Sang Buddha berkata pada mereka, “Demi keperluan sejumlah air yang sedikit nilainya, kalian seharusnya tidak mengorbankan hidupmu yang jauh lebih berharga dan tak ternilai. Kenapa kalian melakukan hal yang bodoh ini?” Jika pada saat itu, Sang Buddha tidak menghentikan tindakan mereka, maka darah mereka akan mengalir seperti air yang ada di sungai tersebut, karena saling membunuh. Sang Buddha mengatakan bahwa, mereka hidup dengan saling membenci, tetapi Sang Buddha sudah tidak membenci; mereka akan menderita karena kekotoran batin, tetapi Sang Buddha sudah bebas dari kekotoran batin; mereka berusaha memiliki kesenangan hawa nafsu, tetapi Sang Buddha sudah tidak berusaha untuk itu.” Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 197 berikut ini; “Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci,di antara orang-orang membenci kita hidup tanpa membenci.”Akhirnya kedua pihak menyadari kesalahan mereka dan perang pun tidak terjadi.
Apabila ada kekesalan yang muncul pada seseorang, maka ia perlu segera mengatasinya, agar tidak menjadi kebencian yang semakin besar. Dalam kitab suci Anguttara Nikaya (AN.5.161. pe-lenyapan kekesalan), terdapat lima cara mengatasi kekesalan yang dapat muncul dari kebencian yaitu;
“Para bhikkhu, ada lima cara ini untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun. Apakah lima ini?

  • Ia harus mengembangkan cinta kasih terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal; dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu.
  • Ia harus mengembangkan belas kasihan terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal; dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu.
  • Ia harus mengembangkan keseimbangan terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal; dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu.
  • Ia harus mengabaikan orang yang kepadanya ia merasa kesal dan tidak memperhatikannya; dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu.
  • Ia harus menerapkan gagasan kepemilikan kamma (merenungkan hukum kamma) pada orang yang kepadanya ia merasa kesal, sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini adalah pemilik kamma-nya, pewaris kamma-nya; ia memiliki kamma sebagai asal mulanya, kamma sebagai sanak saudaranya, kamma sebagai pelindungnya; ia akan menjadi pewaris kamma apa pun yang ia lakukan, baik atau buruk.’ Dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu.

Ini adalah kelima cara untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun.” Demikianlah lima cara yang dapat kita terapkan untuk menghilangkan kekesalan yang muncul.

Kesimpulan
Dari uraian, pembahasan, dan cerita di atas, dapat diambil hikmah dan maknanya, bahwa dari kebencian akan mengakibatkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Apabila setiap orang dapat meninggalkan kebencian, maka akan terbebas dari penderitaan fisik dan batin. Oleh karena itu, sangat baik melatih diri untuk tidak membenci, dengan cara mengembangkan sifat cinta kasih/kasih sayang dan mau memaafkan orang lain. Seperti yang tertulis dalam Dhammapada ayat 5 bahwa; “Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.”Dengan cara tidak membalas kebencian dengan kebencian, melainkan dengan tanpa membenci yaitu dengan kasih sayang, dengan demikian maka kebencian, kekesalan, permusuhan, dan dendam pun akan berakhir. Marilah kita berlatih untuk tidak mudah membenci atau menyimpan permusuhan, melainkan senantiasa mengembangkan cinta kasih agar hidup damai dan bahagia. Semoga dari uraian ini dapat menambah pemahaman, wawasan, dan pegetahuan bagi kita semua. Semoga dapat diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, manfaat dan kebahagiaan akan dapat diperoleh. Sabbe Satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Referensi:

  • Kitab Suci Dhammapada, Bahussuta Society, 2012.
  • DhammapadaAtthakatha-Kisah-Kisah Dhammapada, Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 2003.
  • Anguttara Nikaya, Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, Dhammacitta Press, 2015.

Dibaca : 8080 kali