x

BERSAHABAT DENGAN KEMATIAN

Jivitameva aniyatam, maranam niyatam, evam maranassatim bhavetha.

Kehidupan itu tidaklah pasti, kematian adalah pasti.
Demikian kesadaran atas kematian harus dikembangkan.
(Dhammapada 3.171)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Kematian (marana) secara konvensional ditandai dengan berhentinya detak jantung dan pernapasan, namun prosedur medis terkini telah merevisi definisi tersebut menjadi tiadanya aktivitas batang otak. Kematian diartikan sebagai detik saat kehidupan berakhir dan tidak dapat dipertahankan kembali. Dalam perspektif Buddhis (M 1.296), kematian terjadi saat tanda vital (ayu), panas (usma), dan kesadaran (vinnana) meninggalkan tubuh dan menjadi tak bernyawa (acetana).

Kematian adalah salah satu peristiwa penting dalam pengalaman hidup manusia. Tidak ada yang lebih pasti dan dapat diprediksi dalam kehidupan ini selain kematian. Ironisnya, kematian merupakan saat yang paling tidak kita persiapkan. Guru Agung Buddha merekomendasikan praktik untuk merefleksikan kenyataan terhadap kematian diri sendiri dan orang yang dicintai. Perenungan terhadap kematian (maranasati) akan mempersiapkan batin untuk menghadapinya dan tentunya menumbuhkan keyakinan untuk semakin menghargai kehidupan ini.

Dalam Abhaya Sutta (A 2.173), Brahmana Janussoni mendekati Buddha dan menyapa Beliau demikian, ”Tuan Gotama, saya mempertahankan dan memegang pandangan bahwa tidak ada orang yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.” ”Brahmana, memang ada orang yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian, tetapi juga ada orang yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.”

Siapakah orang yang takut akan kematian?

  • Orang yang tidak bebas dari nafsu kesenangan indra. Orang inilah yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.
  • Orang yang tidak bebas dari nafsu terhadap tubuh ini. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.
  • Orang yang belum melakukan apa pun yang bajik dan bermanfaat, yang belum membuat perlindungan bagi dirinya sendiri; melainkan telah melakukan apa pun yang jahat, kejam, dan buruk. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.
  • Orang yang memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma sejati dan belum sampai pada kepastian di dalamnya. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

Lantas, siapakah orang yang tidak takut akan kematian?

  • Orang yang bebas dari nafsu kesenangan indra. Orang inilah yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.
  • Orang yang bebas dari nafsu terhadap tubuh ini. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.
  • Orang yang tidak melakukan apa pun yang jahat, kejam, dan buruk; melainkan telah melakukan apa pun yang bajik dan bermanfaat, yang telah membuat perlindungan bagi dirinya sendiri. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.
  • Orang yang tidak memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma sejati dan telah memperoleh kepastian di dalamnya. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

Kehidupan di dunia ini tidak pasti, hanya kematianlah yang pasti. Seperti halnya buah yang masak mungkin akan jatuh di pagi hari, begitu pula suatu makhluk yang lahir dapat mati kapan pun juga. Setiap makhluk yang terlahir pasti akan mengalami kematian. Tidak ada jalan keluar dari kematian. Bagaikan ternak yang dibawa menuju tempat penjagalan, demikian pula satu demi satu makhluk bergerak menuju kematian.

Dhamma memberikan kebijaksanaan untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya. Buddha menasihati umatnya untuk melihat kematian sebagai hal yang wajar. Baik bhikkhu maupun umat awam sering diminta untuk selalu merenungkan bahwa, “Saya wajar mengalami kematian, saya takkan mampu menghindari kematian (maranadhammomhi, maranam anatito).” Dengan demikian, setiap orang akan bijak menyikapi kematian orang-orang yang dicintai, dan juga akan bijak dalam menerima kematian yang bisa menjemput diri sendiri kapan saja dan di mana saja. 

Guru Agung Buddha mengajar Dhamma agar manusia bisa bebas dari penderitaan, bebas dari tumimbal lahir, bebas dari usia tua, sakit maupun kematian. Dengan tercapainya kebebasan batin, manusia tidak lagi berambisi untuk menyakiti makhluk lain. Karena batinnya damai, masyarakat pun memiliki cinta kasih dan kasih sayang kepada sesama. Mereka pun akan berharap agar yang lain, yang hidup dalam penderitaan karena dibelenggu oleh nafsu keserakahan, api kebencian, dan noda kebodohan batin, bisa mendapatkan kebebasan yang sama, bisa mendapatkan kedamaian batin yang sama pula.Semoga semua makhluk bahagia. Semoga demikianlah adanya.

Pustaka Rujukan

  • Anguttara Nikaya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.
  • Dhammapada Atthakatha: Kisah-kisah Dhammapada, Edited by Bhikkhu Jotidhammo, Yogyakarta: Insight Vidyasena Production, 1997.
  • Majjhima Nikaya: The Middle Length Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Nanamoli. Edited and Revised by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 1995.

Dibaca : 7695 kali