x

KEBAHAGIAAN ADALAH REAKSI PIKIRAN

Cittassa damatho sadhu, cittam dantam sukhavaham.

Adalah baik untuk mengendalikan pikiran,
suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.
(Dhammapada III:35)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Mengejar Kebahagiaan
Pengertian tentang apa yang membangun kebahagiaan, dan bagaimana kebahagiaan itu dicapai, masing-masing orang tentunya berbeda. Namun, seperti cara pandang kebanyakan orang, kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat jauh. Seseorang yang berpandangan demikian, kebahagiaan haruslah dicari di luar. Ketika kebahagiaan selalu diidentikkan dengan cara demikian, maka tidak jarang dengan cara yang salah orang-orang kemudian bekerja siang dan malam, demi mendapat kemewahan, kemashyuran, dan bahkan pergi ke tempat-tempat hiburan. Cara seperti ini tidaklah membawa kebahagiaan, melainkan tekanan dan kesengsaraan. Kaya dan miskin sering kali menjadi tolok ukur seseorang hidup bahagia dan menderita. Akan tetapi, kekayaan dan kemiskinan adalah istilah-istilah yang relatif. Hidup dengan materi berlimpah tidak selalu menjadi jaminan seseorang bahagia. Kekayaan dapat menjadi berkah jika dicari dan dipergunakan dengan benar. Tetapi, kekayaan juga dapat mendatangkan musibah jika tidak mampu digunakan dengan benar dan bijaksana. Ketidakmampuan seseorang mengendalikan keinginannya menyebabkan seseorang menjadi sangat melekat pada harta materi. Oleh sebab itu, kebahagiaan tidak mudah diperoleh orang miskin maupun orang kaya. Mengapa bisa demikian?

Penyebab Ketidakbahagiaan
Penyebab ketidakbahagiaan tidak lain adalah kenikmatan indria. Hal inilah yang memunculkan masalah membuat orang-orang menghalalkan segala cara demi memperoleh dan mempertahankan harta materi. Seseorang yang terjebak pada keinginan yang berlebihan akan hakikat kebahagiaan ketika keinginan tidak terpenuhi, mereka hidup dalam kegelisahan. Di dalam Mahadukkhakkhandha Sutta, Majjhima Nikaya, Sang Buddha berkata: "Jika tidak ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, maka ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan, mengeluhkan: ‘Pekerjaanku sia-sia, usahaku tidak membuahkan hasil!’
Lebih lanjut Sang Buddha menyatakan dengan jelas mengapa harta materi yang didasari oleh kenikmatan indria tidak memberikan kebahagiaan, dan justru memunculkan penderitaan. “Jika ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, ia mengalami kesakitan dan kesedihan dalam menjaganya: ‘Bagaimana agar raja atau pencuri tidak merampas hartaku, juga agar api tidak membakarnya, juga agar air tidak menghanyutkannya, juga agar pewaris yang penuh kebencian tidak merampasnya?’ Dan ketika ia menjaga dan melindunginya, raja atau pencuri merampasnya, atau api membakarnya, atau air menghanyutkannya, atau pewaris yang penuh kebencian merampasnya. Dan ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan, mengeluhkan: ‘Apa yang kumiliki sudah tidak ada lagi!’ Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria.
Kenikmatan indria tidak hanya penyebabkan penderitaan di kehidupan sekarang, tetapi juga di kehidupan yang akan datang. "Dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria, orang-orang melakukan perilaku salah dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, saat hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka". (Mahadukkhakkhandha Sutta, Majjhima Nikaya). Kenikmatan indria begitu sangat mengopsesi pikiran manusia. Ketika tidak memperoleh apa yang diinginkan seseorang menjadi menderita. Sebaliknya, jika memperoleh apa yang diinginkan mereka melekatinya. Suatu saat ketika apa yang dilekati itu lenyap dan hilang, seseorang menjadi sangat menderita. Dari ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan ini dapat begitu menyiksa batin kita. Ketika perasaan tidak suka ini berkembang seseorang tidak hanya menyalahkan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Sebagai contoh adalah seperti cerita di bawah ini.

Surga dan Neraka
Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang senang berceramah tentang surga dan neraka. Salah seorang umat yang bosan mendengar ceramahnya yang monoton, suatu hari berdiri dan mengajukan pertanyaan, "katakan padaku di mana letak surga dan neraka itu? Jika Anda tidak dapat menunjukkannya berarti Anda pembohong!". Bhikkhu ini kemudian menjadi takut, bukannya menjawab, beliau duduk dan diam. Sikapnya itu semakin membuat marah umat tadi. Ia berteriak "jawab pertanyaanku atau kupukul!" Bhikkhu ini kemudian cepat-cepat mengumpulkan keberaniannya dan menjawab, "Neraka ada di sekelilingmu sekarang, bersama dengan kemurkaanmu" Menyadari kebenaran ini, orang itu menjadi tenang. Ia kemudian bertanya lagi, "lalu surga itu ada di mana?" Bhikkhu ini menjawab, “Surga itu sekarang ada di sekelilingmu, bersama dengan ketenanganmu". (Sri Dhammananda, 2009:143).
Cerita ini menggambarkan bagaimana kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan menimbulkan penderitaan. Selain itu, pesan yang juga tidak kalah penting bahwa surga dan neraka adalah apa yang kita perbuat pada kehidupan kita. Karena setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan berakibat pada kehidupan yang akan datang. Kita patut merenungkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan tidak harus menunggu setelah kematian. Kehidupan saat ini pun bisa dirasakan bagaimana ciri-ciri dari keadaan di alam tersebut. Tetapi, yang pasti tidak ada satu pun yang mengharapkan penderitaan. Oleh karena itu, setiap saat kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, apa tujuan hidup saya? Banyak orang akan menjawab, tujuannya adalah untuk bahagia di kehidupan sekarang dan akan datang. Dengan bertanya demikian akan menyadarkan kita, bahwa setiap saat saya harus berbuat sesuatu yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain dan makhluk lain.

Resep Kebahagiaan
Resep kebahagiaan adalah pe-ngendalian pikiran. Kebahagiaan tidak lebih dari sekadar keadaan pikiran yang muncul dari dalam, dari kebaikan yang sederhana dan kesadaran yang bersih (Sri Dhammananda, 2009:140). Kebahagiaan adalah reaksi pikiran kita masing-masing. Ketika pikiran kita bisa melihat kenyataan dengan baik dan memberikan reaksi pikiran yang positif, maka yang kita dapat adalah kebahagiaan. Sebaliknya ketika kita melihat kenyataan dengan reaksi pikiran yang negatif, maka penderitaan lah yang akan kita peroleh. Oleh karena itu, ketika telah bekerja sangat keras, dan tidak memberikan hasil yang diinginkan, agar tidak muncul kekecewaan maka pikiran perlu dikendalikan. Mensyukuri hasil yang diperoleh walaupun sedikit tidak akan memunculkan penderitaan. Tetapi, jika memperoleh apa yang telah diinginkan, dan karena ketidakwaspadaannya sendiri menyebabkan apa yang diperoleh dengan kerja keras tersebut hilang, lenyap, dengan pikiran yang bijaksana tidak akan menyebabkan penderitaan. "Tidak penting, para bhikkhu, kehilangan harta kekayaan. Hal yang paling buruk adalah kehilangan kebijaksanaan" (Anguttara Nikaya, I:78). Kita harus melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, melihat kenyataan sebagai kenyataan. Janganlah menolak, tetapi harus diterima dengan apa adanya. Kita tidak bisa mengubah kenyataan, karena kita tidak memiliki kendali. Tetapi kita bisa mengendalikan pikiran agar bisa menerima kenyataan. Dengan demikian kita menjadi bahagia.
Ketika kita memaksakan kenyataan harus sesuai dengan keinginan akan memunculkan penderitaan. Namun, ketika mampu menyesuaikan keinginan dengan kenyataan, kedamaian dan kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya. Kebahagiaan muncul hanya dari dalam diri dengan menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Tidak ada orang yang dapat merasa bahagia sebelum ia merasa puas terhadap dirinya sendiri. Rasa puas inilah yang akan membuat seseorang menjadi lebih kaya dan bahagia, daripada orang kaya yang tidak pernah puas sehingga menjadi menderita. Kebahagiaan bisa diperoleh dengan menerima orang lain seperti apa yang mereka harapkan kepada kita. Ketika memperlakukan orang lain dengan baik seperti apa yang kita harapkan kepada mereka akan muncul kebahagiaan. Oleh sebab itu jika seseorang ingin hidup damai dan bahagia, persilahkan yang lain juga hidup dengan damai dan bahagia.

Penutup
Kebahagiaan adalah keadaan yang bisa dicapai dengan pengembangan mental. Sumber-sumber eksternal seperti kekayaan, nama baik, kedudukan sosial, dan kepopuleran adalah sumber kebahagiaan yang sementara. Mereka bukan sumber kebahagiaan yang sejati. Sumber yang sebenarnya adalah pikiran. Pikiran yang terkendali dan berkembang adalah sumber kebahagiaan sejati.

Referensi:

  • Bhikkhu Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikaya. Jakarta. DhammaCitta Press.
  • Bhikkhu Bodhi. 2015. Anguttara Nikaya Khotbah-Khotbah Numeral Sang Buddha. Jakarta Barat. DhammaCitta Press.
  • Sri Dhammananda. 2009. Hidup Sukses Dan Bahagia Tanpa Takut Dan Cemas. Tanpa Kota. Karania.
  • Wijano, Win. 2012. Dhammapada. Tanpa Kota. Bahussuta Society.

Dibaca : 7348 kali