x

Menghadapi Perubahan Dunia

"Phutthassa lokadhammehi cittam yassa na kampati
asokam virajam khemam. Etammangalamuttaman'ti."

"Meski disinggung oleh hal-hal duniawi batin tak tergoyahkan, tiada sedih,
tanpa noda, dan penuh damai. Itulah berkah utama."
(Mangala Sutta)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pendahuluan
Makhluk apa pun yang terlahir di dunia pasti akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan apa pun yang muncul pastilah ada sebabnya, apakah sebab yang muncul karena diri sendiri, orang lain, lingkungan, ataupun objek-objek lainnya. Oleh karena itu, kita perlu memahami proses yang saling berhubungan ini dengan benar, agar tidak memunculkan pemikiran untuk menyalahkan orang lain atau pihak lain atas perubahan yang terjadi. Karena kondisi dunia yang tidak pasti ini, apabila kita menginginkan adanya suatu kondisi nyaman yang selalu tetap sama dan tidak mengalami perubahan, maka akan memunculkan permasalahan baru. Dengan sikap mental seperti itu, ketika ada perubahan yang terjadi pada dunia ini, maka akan menjadi masalah bagi mereka yang belum siap untuk menghadapinya.

Lantas bagaimanakah caranya agar seseorang dapat dan siap menghadapi perubahan tersebut? Untuk dapat melihat perubahan dengan cara berpikir yang dewasa dan bijak, merupakan pelatihan mental yang perlu dilatih sejak usia muda secara seksama. Dengan demikian, ketika ada permasalahan yang muncul karena terjadinya suatu perubahan pada diri sendiri maupun dunia, sudah ada persiapan yang matang. Bahkan solusi atau cara yang tepat dan benar dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang akan muncul. Merupakan suatu persiapan yang baik, apabila setiap orang dapat menerima perubahan yang terjadi, dan siap meghadapi dampaknya dengan solusi yang tepat.

Dengan cara mempersiapkan diri untuk menghadapi dan mengatasi masalah yang mungkin muncul, tentu akan mempermudah seseorang untuk tetap bertahan dalam kondisi dan situasi yang selalu berubah. Sebagai contohnya, agar tidak menjadi sakit, maka seseorang perlu menjaga kesehatannya dan menjalani pola hidup sehat. Selain itu, ia juga perlu mempersiapkan biaya untuk kesehatannya, seandainya akan menderita sakit dan perlu perawatan sudah ada biayanya. Dengan demikian, ia perlu menabung untuk membeli obat dan biaya rumah sakit dan lain sebagainya. Walaupun ia tidak sakit dan tetap sehat, maka uang tabungannya dapat ia nikmati untuk keperluan lainnya.

Menghadapi perubahan dan kondisi dunia
Dunia yang menjadi tempat kita menetap untuk menjalani kehidupan ini, tidak selalu dalam kondisi dan situasi yang sama. Ia selalu mengalami perubahan, karena adanya perubahan inilah, maka seseorang dapat mengalami suka maupun duka. Karena manusia adalah bagian dari dunia, maka sudah tentu akan mengalami perubahan. Perubahan dapat terjadi dari keadaan atau peristiwa yang buruk ke keadaan atau peristiwa yang baik, dan kebalikannya ialah dari peristiwa baik menjadi tidak baik/buruk. Apabila perubahan yang terjadi adalah dari keadaan buruk ke baik, maka orang akan merasa ada kemajuan dalam hal yang bermanfaat, ini merupakan harapan yang ideal karena terjadi perubahan yang positif. Tetapi, jika perubahan yang terjadi adalah dari keadaan baik ke buruk, maka orang cenderung untuk menolaknya bahkan tidak ingin hal itu terjadi.

Mungkin kita sudah sering melihat perubahan yang terjadi pada dunia ini, seperti perubahan pada lingkungan, perubahan cuaca, perubahan pola hidup masyarakat dan lain sebagainya. Perubahan tersebut dapat kita amati langsung maupun dari berita di media massa, yang dapat diamati dan dialami langsung ialah pada diri sendiri atau lingkungan sekitar. Karena apa pun yang terlahir tidak luput dari hukum perubahan; manusia, binatang, mulai dari bayi sampai tua, dan pohon-pohon semuanya mengalami perubahan. Seperti yang terdapat dalam Anguttara Nikaya (AN.3.136. Munculnya), “Apakah para Tathagata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini; segala fenomena terkondisi adalah tidak kekal.” Hal yang sama juga terdapat pada Dhammapada (Magga Vagga ayat 277), “Sabbe sankhara anicca ti” (semua yang terkondisi tidak tetap). Jadi dalam kondisi dunia yang tidak menentu ini, kita perlu mempersiapkan diri baik fisik maupun mental dengan tujuan untuk menghadapi dan mengatasi perubahan serta akibatnya dengan bijak.

Adapun kondisi yang sering dialami seseorang di dunia yaitu;

  • Labha (mendapatkan) dan alabha (tidak mendapatkan),
  • Yasa (berkedudukan/berketenaran) dan ayasa (tidak berkedudukan/ tidak berketenaran),
  • Ninda(hujatan/celaan) dan pasamsa(sanjungan/pujian),
  • Sukha (kebahagiaan) dan dukkha (penderitaan).

Keempat kondisi dunia di atas dijelaskan dalam Anguttara Nikaya (AN.8.5 Dunia), bahwa “delapan kondisi dunia ini berputar di sekeliling dunia, dan dunia berputar di sekeliling delapan kondisi dunia ini. Apakah delapan ini? Untung dan rugi, kehinaan dan kemasyhuran, celaan dan pujian, dan kenikmatan dan kesakitan. Delapan kondisi dunia ini berputar di sekeliling dunia, dan dunia berputar di sekeliling delapan kondisi dunia ini. Keuntungan dan kerugian, kehinaan dan kemasyhuran, celaan dan pujian, kenikmatan dan kesakitan: kondisi-kondisi ini yang ditemui oleh orang-orang adalah tidak kekal, sementara, dan tunduk pada perubahan.

Seorang yang bijaksana dan penuh perhatian mengetahui hal-hal ini dan melihat bahwa hal-hal ini tunduk pada perubahan. Kondisi-kondisi yang disenangi tidak menggairahkan pikirannya juga ia tidak mundur oleh kondisi-kondisi yang tidak disenangi. Ia telah menghalau ketertarikan dan penolakan; hal-hal itu telah pergi dan tidak ada lagi. Setelah mengetahui keadaan yang tanpa debu dan tanpa dukacita, ia dengan benar memahami dan telah melampaui penjelmaan.”

Dari kutipan sutta di atas dapat direnungkan bahwa, sebagai manusia bijak tentunya dapat menerima segala perubahan yang dihadapi dengan sikap batin yang dewasa, tidak mudah putus asa dan mengeluh terhadap apa yang terjadi, sehingga tidak mengalami derita yang berkepanjangan dari perubahan yang terjadi pada dunia ini.

Kesimpulan
Dengan melihat kondisi dunia yang pada kenyataannya selalu mengalami perubahan, sedangkan ada orang yang cenderung ingin mengalami perubahan yang cepat pada hal-hal yang tidak baik atau buruk yang derita, dan tidak ingin mengalami perubahan pada hal-hal yang baik dan menyenangkan, bahkan ingin tetap dalam keadaan nyaman. Padahal, apa pun yang menyenangkan dan tidak menyenangkan/derita di dunia ini pasti mengalami perubahan. Apabila setiap orang mampu dan mau menerima perubahan itu dengan bijak, maka ia tidak akan terbenam dalam kesedihan atau derita. Untuk itu, berusahalah menerima perubahan apa pun yang terjadi dan tidak mudah putus asa, melainkan siap menerima perubahan dengan solusi yang terbaik. Karena apa pun yang tunduk pada perubahan kita tidak dapat mencegahnya, tetapi kita dapat mempersiapkan diri dengan sikap batin yang dewasa, penuh semangat, sabar, tenang, tidak berputus asa, melainkan dengan mencari cara yang terbaik untuk mengatasinya. Dengan demikian, kita dapat mengatasi perubahan yang terjadi dan yang akan terjadi di dunia ini dengan baik dan tepat.

Marilah kita mulai melatih diri untuk siap menghadapi dunia yang terus mengalami perubahan dengan perenungan bahwa apa pun yang muncul pasti akan mengalami perubahan. Karena, “segala bentukan tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam, setelah timbul akan lenyap, padamnya bentukan-bentukan adalah kebahagiaan.”“Anicca vata sankhara uppadavayadhammino uppajjitva nirujjhanti tesam vupasamo sukho”(Pamsukula gatha). Semoga dari uraian yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat, pemahaman, wawasan, dan pengetahuan bagi kita semua. Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.


Referensi:

  • Anguttara Nikaya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, Indonesia 2015. Jakarta: Dhammacitta Press.
  • Kitab Suci Agama Buddha Dhammapada Syair Kebenaran, Terjemahan Per Kata Pali-Indonesia Beserta Kisah Latar, Hendra Widjaja (Penerjemah), Indonesia (Cetakan 1, 2013). Jakarta: Ehipassiko Foundation.
  • Paritta Suci Kumpulan Wacana Pali untuk Upacara Puja, Bhikkhu Dhammadh?ro Mahathera (Penyaji), Indonesia (Edisi III Pembaruan 2019). Sangha Theravada Indonesia.

Dibaca : 3100 kali