x

Hal-hal Yang Sulit Dicapai (Dullabha)

Ajjeva kiccamatappam. Ko janna maranam suve.
Na hi no sangarantena, mahasenena maccuna.

"Berusahalah hari ini juga! Siapa tahu kematian ada di esok hari.
Tawar menawar dengan sang raja kematian bersama pasukan besarnya tiada bagi kita".

(Bhaddekaratta Sutta)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Masa pandemi covid-19 yang mewabah di dunia saat ini, berdampak pada banyaknya kesulitan yang dialami oleh umat manusia. Dampak pandemi ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi makhluk lainnya pun juga terkena dampak dari pendemi ini. Maka, baik manusia maupun makhluk lainnya benar-benar merasakan kesulitan di masa pandemi covid-19 ini. Fakta yang mendukung pernyataan ini dibuktikan dengan data di dunia 117 juta terpapar covid-19 dan 2,6 juta meninggal, sementara di Indonesia 1,38 juta terpapar dan 37.266 meninggal.

Tentunya data ini tidak membuktikan semua kesusahan yang dirasakan oleh manusia. Masih ada fakta lain yang dialami misalnya; banyak orang yang kehilangan pekerjaan, tidak boleh berkumpul dalam jumlah banyak atau membuat kerumunan, ke mana-mana harus menggunakan masker. Namun, ada juga dampak baik yang dapat diambil dalam situasi pandemi ini, yakni belajar dan berdiskusi Dhamma melalui daring yang diselenggarakan oleh banyak pihak. Jadi, masa pandemi ini apabila dilihat dengan seksama dapat memberikan dampak kesulitan-kesulitan maupun kemudahan-kemudahan untuk manusia.

Poin yang ingin kita sampaikan dalam kesempatan ini, tentu-nya memiliki hubungan dengan pemaparan di awal walaupun tidak secara keseluruhan. Dalam Dhamma menyebutkan ada lima hal yang sulit dicapai oleh manusia, yakni:

  • Buddha'uppada, munculnya seorang Buddha (Sammasambuddha).
  • Manussattabhava, kelahiran kembali sebagai manusia.
  • Saddhasampattibhava, memiliki keyakinan di dalam tiga permata dan hukum kamma.
  • Pabbajitabhava, menjadi anggota komunitas para bhikkhu.
  • Saddhammasavana, berkesempatan mendengar ajaran Sang Buddha.

Kelima hal ini amatlah sulit untuk dicapai oleh semua makhluk, tidak terkecuali manusia. Bagaimana kelima hal ini dikatakan amat sulit untuk dicapai, maka di sini akan dijelaskan untuk lebih memahami tentang tema kita pada kesempatan ini.

  • Kemunculan seorang Buddha di dunia ini amatlah sulit (buddha’uppada).

Kemunculan seorang Buddha di dunia ini dikatakan amat sulit, hal itu dapat diketahui dari apa yang kita alami sekarang ini. Di mana saat ini kita tidak dapat bertemu dengan Sang Buddha sebab Sang Buddha telah mencapai parinibbana 2564 tahun yang lalu. Selain itu, dapat juga kita ketahui melalui perjuangan seorang Bodhisatta dalam menyempurnakan parami-parami-Nya.

Waktu yang dibutuhkan oleh seorang Bodhisatta untuk menyempurnakan parami-nya paling cepat selama empat asankheyya dan seratus ribu kappa. Waktu yang tertera ini tidak dapat dihitung sesuai dengan hitungan zaman sekarang. Tidak ada perumpamaan atau analogi yang dapat menggambarkan kesempurnaan yang telah dikumpulkan oleh seorang Bodhisatta dalam kurun waktu tersebut. Inilah alasan kemunculan seorang Buddha di dunia ini tidaklah mudah.

  • Lahir sebagai manusia di dunia ini amatlah sulit (manussattabhava).

Terlahir sebagai manusia di dunia ini dalam ajaran Sang Buddha diterangkan tidaklah mudah untuk dicapai atau direalisasi. Walaupun demikian, tidak sedikit juga orang beranggapan bahwa manusia di dunia adalah banyak karena dapat dilihat dari jumlahnya yang mencapai miliaran manusia. Tentunya kalau diketahui jumlah manusia yang mencapai miliaran, maka hal tersebut menandakan jumlah manusia tidaklah sedikit.

Apabila kita melakukan perbandingan dengan makhluk yang terlihat oleh mata selain manusia, tentunya makhluk-makhluk tersebut jauh lebih banyak daripada manusia, misalkan; sapi, kambing, babi, domba, kerbau, anjing, kucing, ular, dan lain-lain. Setelah mengetahui kenyataan ini, hendaknya dipahami bahwa benar adanya menjadi manusia atau terlahir sebagai manusia di dunia ini tidaklah mudah untuk didapatkan. Maka, patut kiranya kita yang saat ini telah lahir sebagai manusia untuk senang dengan perolehan yang dicapai.

  • Memiliki keyakinan dalam tiga permata dan hukum kamma (saddhasampattibhava).

Memiliki keyakinan di dalam tiga permata dan hukum kamma di sini patut dimengerti bahwa keyakinan yang muncul dalam diri seseorang tersebut datang dari hasil pemahaman mendalam secara teori dan praktik. Bukan sekadar cerita dari orang lain yang belum sesuai kenyataan atau kesahihannya. Ia yang memiliki keyakinan yang kokoh kepada tiga permata dan hukum kamma, akan selalu menjaga dirinya untuk tidak melakukan keburukan dalam kesehariannya. Ia akan senantiasa menghormati Buddha, Dhamma, dan Sangha dengan berperilaku benar, baik melalui pikiran, ucapan, maupun badan jasmani.

Selain itu, ia juga akan berhati-hati atau waspada di dalam pergaulan supaya tidak memunculkan masalah baru yang merugikan. Berperilaku benar, memiliki rasa hormat yang tinggi serta hati-hati dalam bertindak. Perihal itu mencerminkan individu itu atau umat Buddha tersebut memiliki keyakinan yang kokoh terhadap tiga permata dan hukum kamma di dalam hidupnya.

  • Menjadi anggota komunitas para bhikkhu amatlah sulit (pabbajitabhava).

Menjadi bagian dari komunitas para bhikkhu tidaklah mudah untuk dicapai, hal tersebut dapat dilihat dari keseharian kita. Bagi beberapa orang berjumpa dengan bhikkhu tidaklah sulit karena ada bhikkhu yang berdomisili di sekitar pemukimannya. Namun, bagi kebanyakan orang untuk bertemu dengan bhikkhu setiap hari tidaklah mudah dikarenakan jumlah bhikkhu yang sedikit. Susahnya untuk menjadi bagian dari komunitas para bhikkhu bukan disebabkan oleh tidak adanya wadah yang mengayomi, melainkan dikarenakan sedikitnya minat seseorang untuk menjalankan kehidupan sebagai bhikkhu. Terkadang ada niat untuk bergabung dalam komunitas, tetapi tidak mendapat dukungan dari keluarga dan kebajikan individu tersebut belum cukup untuk mengarahkannya.

  • Berkesempatan mendengarkan Dhamma adalah sulit (saddhammasavana).

Mendengarkan Dhamma adalah sulit. Hal tersebut dapat dilihat dari data jumlah umat Buddha di dunia yang perkirakan 506 juta dari total jumlah manusia di bumi. Dari jumlah umat Buddha yang ada pun belum tentu semuanya dapat mendengarkan Dhamma yang benar. Anda yang sudah memiliki kesempatan untuk mendengarkan Dhamma, memahami Dhamma secara teoritis maupun praktis, hendaknya menjaga dan merawat kesempatan ini dengan baik agar dapat menuntun ke jalan yang benar, menghasilkan buah kebahagiaan duniawi maupun spiritual. Faktanya, walaupun sekarang untuk mengakses Dhamma tidaklah begitu susah, namun animo umat Buddha untuk mencari tahu Dhamma masih kurang.

Inilah lima hal yang tidak mudah untuk dicapai yang dijelaskan dalam Dhamma. Tidak semua dari kelima hal ini dapat dicapai oleh manusia atau umat Buddha, namun beberapa di antaranya sudah direalisasi. Misalkan poin nomor 2, 3, dan 5, poin ini banyak umat Buddha yang telah mencapainya walaupun dijelaskan tidak mudah untuk mencapainya. Maka, sebagai umat Buddha yang telah mengetahui akan hal ini, hendaknya menggunakan kesempatan sulit yang telah dimiliki secara maksimal demi kebaikan diri sendiri maupun makhluk lain di dunia ini.

Khusus untuk poin nomor 1 hanya dapat dicapai oleh calon Buddha atau Bodhisatta, tentunya poin ini tidak sembarangan manusia yang dapat merealisasinya sebab memerlukan kesempurnaan parami. Sementara poin nomor 4, zaman sekarang ini tidak banyak manusia yang mencapainya, namun, bagi ia yang belum merealisasinya, ada peluang atau kesempatan untuk dapat mencapainya jika mau berusaha dan berjuang.

Setelah mengetahui hal-hal yang sulit untuk dicapai dalam ajaran Sang Buddha ini, sebagai konklusi dalam penyampaian Dhamma pada kesempatan ini, marilah ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudari se-Dhamma, kita menggunakan waktu yang telah dimiliki sebagai manusia untuk berbuat baik, berkeyakinan yang teguh kepada tiga permata (Buddha, Dhamma, dan Sangha), belajar dan praktik Dhamma dalam keseharian agar mendapatkan manfaat dari peluang yang diraih sekarang ini juga. Semoga semua maju dalam Dhamma, semoga semua makhluk berbahagia.

Referensi

  • Dhammadhiro. 2019. Paritta Suci, Kumpulan Wacana Pali untuk Upacara dan P?ja. Tangerang Selatan: Sangha Theravada Indonesia.
  • Sayadaw Mingun, Indra Anggara (penerjemah). 2009. Riwayat Agung Para Buddha. Tanpa kota: Girimangala publications dan ehipassiko foundation.

Dibaca : 2832 kali