x

B E R B A K T I

Puja ca pujaniyanam, Etammangalamuttamam
Menghormat yang patut dihormati, itulah berkah utama.

(Mangala Sutta)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Setiap tanggal 4-5 April, dalam tradisi Tionghoa adalah hari Cheng Beng (Mandarin: Qingming). Saat itu orang akan beramai-ramai pergi ke pemakaman orangtua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara penghormatan dengan berbagai jenis, misalnya; membersihkan kuburan, sembahyang, dan lain sebagainya.

Cheng Beng berarti terang dan cerah, waktu yang cocok untuk berziarah dan membersihkan makam karena cuaca yang cerah, langit terang. Apa lagi pada zaman dahulu lokasi pemakaman cukup jauh dari tempat pemukiman warga. Cheng Beng telah menjadi budaya warga dalam praktik bakti kepada leluhurnya yang telah dilakukan dari masa dinasti kekaisaran sampai dinasti kekaisaran selanjutnya. Walaupun kini dinasti tersebut telah berganti ketatanegaraan lain, namun budaya Cheng Beng masih dipraktikkan oleh warga masyarakat Tionghoa di mana pun mereka berada.

Dalam agama Buddha dijelaskan di dalam Anguttara Nikaya Bab IV : 2 tentang bakti anak kepada orangtua (1)Merawat dan menunjang kehidupan orangtuanya terutama di hari tua mereka. (2) Membantu menyelesaikan urusan-urusan orangtuanya. (3) Menjaga nama baik dan kehormatan keluarga-nya. (4) Mempertahankan kekayaan keluarga, tidak menghambur-hamburkan harta orangtua dengan sia-sia. (5) Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orangtuanya yang telah meninggal dunia.

  • Merawat dan menunjang kehidupan orangtua.

Anak-anak seyogianya merawat dan menunjang kehidupan orang-tuanya yang telah tua dengan hati yang tulus ikhlas. Anak-anak seyogianya menanyakan kesehatan orangtuanya. Jika sakit, anak-anak seyogianya mengajak orangtuanya berobat ke dokter, membantu meminumkan obat, menghiburnya, dan sebagainya. Anak-anak seyogianya membawakan makanan dan minuman yang enak bagi orangtuanya. Anak-anak seyogianya menyempatkan diri untuk menemani orangtuanya pergi ke vihara atau jalan-jalan ke tempat rekreasi.
Anak-anak seyogianya menyediakan tempat tinggal yang layak bagi orangtuanya yang ingin menginap. Anak-anaknya tidak patut menolak kedatangan orangtuanya yang ingin menginap. Anak-anak tidak patut saling melempar tanggung jawab di antara mereka dalam hal merawat dan menampung orangtuanya. Seharusnya anak berbahagia jika orangtuanya memilih tinggal di rumahnya, karena anak tersebut mempunyai kesempatan lebih banyak untuk membalas kebaikan orangtuanya. Anak yang berbakti tidak akan menempatkan orang-tuanya di rumah jompo, walaupun dengan alasan orangtuanya lebih senang karena banyak teman.

  • Membantu menyelesaikan urusan-urusan orangtuanya.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai berbagai masalah, termasuk orangtua kita. Anak-anak seyogianya berusaha membebaskan orangtuanya dari berbagai masalah dan kekhawatiran. Anak-anak seyogianya menanyakan masalah-masalah yang dihadapi oleh orangtuanya dengan lemah lembut. Kemudian, anak-anak berusaha menghibur orangtuanya dengan mengatakan bahwa semua masalah pasti dapat terpecahkan. Tidak ada problem yang tidak terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang tidak ada akhirnya. Selanjutnya, anak-anak berusaha membantu memecahkan masalah-masalah orangtuanya tersebut.

  • Menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

Anak-anak seyogianya bertutur kata sopan dan berkelakuan baik. Anak-anak seyogianya menjalankan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari, yang berarti berusaha menghindari kejahatan. Anak-anak seyogianya berusaha menambah kebaikan dengan berdana dan lain-lain. Anak-anak seyogianya berusaha membersihkan pikirannya dari lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan). Anak-anak seyogianya berusaha mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam batinnya; melatih diri untuk menjadi baik; melatih kesabaran, toleransi, simpati, rendah hati, ramah, jujur, bijaksana, dan memiliki kesederhanaan. Dengan mempraktikkan ajaran-ajaran Sang Buddha dalan kehidupan sehari-hari, anak tersebut telah dapat menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

  • Mempertahankan kekayaan keluarga.

Hasil jerih payah orangtua selama hidup merupakan harta warisan yang perlu dijaga agar dapat membawa manfaat. Anak-anak harus memanfaatkan harta tersebut dangan sebaik-baiknya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

  • Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orangtuanya yang telah meninggal dunia.

Setelah orangtua meninggal dunia, anak-anak patut melakukan pattidana atau berbuat jasa kebaikan yang dilimpahkan kepada orangtuanya yang telah meninggal dunia tersebut. Jasa-jasa kebaikan yang dapat dilakukan oleh anak itu antara lain:

  • Membacakan paritta-paritta suci,
  • Mencetak buku-buku Dhamma,
  • Berdana kepada vihara-vihara yang membutuhkan,
  • Mempersembahkan jubah, makanan, obat-obatan kepada Bhikkhu Sangha,
  • Melepas makhluk hidup, seperti burung, kura-kura, ikan.

Itulah lima kewajiban yang seyogianya dilakukan oleh anak kepada orangtuanya. Anak-anak seyogianya berbakti kepada orangtua ketika masih hidup, karena itu akan lebih besar manfaatnya jika dibandingkan setelah orangtua meninggal dunia. Anak-anak seyogianya berusaha menyempatkan diri di antara kesibukan-kesibukannya untuk mengunjungi dan memperhatikan orangtuanya. Jika anak-anak membutuhkan cinta dan perhatian dari orangtuanya, maka sesungguhnya orangtua juga membutuhkan cinta dan perhatian dari anak-anaknya.

Dalam Anguttara Nikaya Bab IV ayat 2, Sang Buddha juga memberikan petunjuk mengenai cara terbaik untuk membalas budi dan jasa kebaikan orangtuanya, yaitu sebagai berikut:
“Apabila anak dapat mendorong orangtuanya yang belum mempunyai keyakinan terhadap Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), sehingga mempunyai keyakinan kepada Tiratana; apabila anak dapat membuka mata hati orangtua untuk hidup sesuai dengan Dhamma, membimbing mereka untuk memupuk kamma baik, berdana, melaksanakan sila, mendorong mereka mengembangkan kebijaksanaan, maka anak tersebut dapat membalas budi dan jasa-jasa kebaikan orangtuanya.”
Sesungguhnya, dengan berbuat demikian, selain anak tersebut telah membalas jasa-jasa orangtuanya, ia juga telah menumpuk kamma-kamma baik bagi dirinya sendiri.

Dibaca : 2577 kali