x

SIKLUS KEHIDUPAN

Bahusaccanca sippanca, vinayo ca susikkhito,
subhasita ca ya vaca, etammangalamuttamam.

Berpengetahuan luas, berketrampilan, terlatih baik dalam tata susila, bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama.


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Semua insan dunia memiliki siklus kehidupannya, tanpa kecuali, baik yang bersifat batiniah maupun lahiriah, bahkan semua yang ada di semesta raya ini.

Siklus yang merupakan per-putaran waktu, baik yang berdurasi pendek, menengah, panjang, hingga kurun waktu yang tak terhitung lagi. Sehingga suatu kejadian sebuah peristiwa yang muncul serasa datang begitu saja atau seakan sebuah kejadian yang aneh, seperti bencana alam banjir, tanah longsor, badai angin ribut, dan lainnya.

Sebenarnya kita semua telah dengan jelas melihat, mengetahui, bahkan mengalami siklus tersebut, namun saat kita menjumpai sebuah siklus yang biasa-biasa karena dianggap sudah umum, maka dipahami sebagai hal yang lazim, malah juga dianggap tidak ada kejadian itu.

Setiap hari kita mendapat sinar matahari pagi, menjadi siang, sore, malam menjadi pagi lagi. Kondisi dan situasi pagi hari sangatlah berbeda dengan siang dan malam hari. Sudah pasti tiap waktu, baik pagi, siang, dan malam juga tidak selalu sama dengan waktu yang sebelumnya atau yang akan datang, namun memiliki karakteristik yang menyerupai.

Peristiwa yang dewasa ini kita alami bersama yakni Pandemi Corona. Wabah virus sebenarnya juga bukan suatu kejadian yang baru kali ini terjadi, seperti yang tercatat bahwa peristiwa tersebut pernah juga terjadi pada 1 (satu) abad lampau, walau tidak persis tetapi menyerupai. Ini termasuk siklus perputaran waktu yang cukup lama bila dihitung dengan usia manusia, tetapi bila dihitung dengan usia bumi satu abad waktu yang sangat singkat. Bumi yang kita huni ini oleh para pakar astronomi dinyatakan telah berusia 3,5 miliar tahun.

Suatu kejadian yang ada di alam semesta maupun yang ada dalam siklus kehidupan kita sebagai umat manusia akan mengalami perputaran waktu, sebagai makhluk hidup mengalami lahir, menjadi balita, remaja, muda, tua, rapuh dan mati. Sebagian orang hanya mempercayai siklus itu sampai mati saja, namun sesungguhnya semua agama meyakini adanya lanjutan dari mati yaitu lahir lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan semua agama meyakini adanya kehidupan di alam surga. Surga alam bahagia merupakan bentuk kehidupan yang sudah tentu ditandai dengan lahir sebagai makhluk surgawi, dewa atau dewi. Karena kelahirannya bersifat spontan dan tidak melalui kandungan seorang ibu, maka itulah yang dianggap seperti bukan lahir. Makhluk surgawi juga mengalami siklus kehidupannya, mempunyai usia dan suatu waktu bisa mati dan lahir kembali.

Siklus waktu akan terus berproses, tidak ada yang mampu menghentikannya, namun kita bisa mengondisikan untuk keselarasan dan keseimbangan. Sebagai contoh, musim penghujan kita berteduh di rumah, gua atau bawah pohon, dengan payung, jas hujan, dan pada musim dingin kita menggunakan switer atau menggunakan air hangat.

Siklus tetap berproses sesuai hukumnya, kita sebagai insan dunia hanya dapat mempelajari untuk dapat menyelaraskan dan memperoleh manfaat dari kondisi tersebut.

Lima Hukum Alam (Panca Niyama Dhamma) yang merupakan hukum semesta ini bekerja menurut hukumnya yang mengatur segala gejala, proses, aktivitas, sebab akibat batin dan jasmani yang ada di alam semesta ini.

  • 1. UTU NIYAMA (Hukum tertib “Physical Inorganik)

Misalnya: gejala timbulnya angin dan hujan yang mencakup tertib silih bergantinya musim dan perubahan iklim yang disebabkan oleh angin, hujan, sifat panas, benda seperti gas, cair dan padat, kecepatan cahaya, terbentuk dan hancurnya tata surya dan sebagainya. Semua  aspek  fisika  alam  diatur  oleh hukum ini.

  • 2. BIJA NIYAMA (Hukum Tumbuhan)

Adalah hukum tertib yang mengatur tumbuh-tumbuhan dari benih/biji-bijian dan pertumbuhan tanam-tanaman, misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, manisnya gula berasal dari batang tebu atau madu, adanya keistimewaan daripada berbagai jenis buah-buahan, hukum genetika/penurunan sifat dan sebagainya.

  • 3. KAMMA NIYAMA (Hukum Perbuatan)

Adalah hukum tertib yang mengatur sebab akibat dari perbuatan, misalnya: perbuatan baik membuahkan pahala kebahagiaan dan perbuatan buruk berakibat penderitaan.

  • 4. DHAMMA NIYAMA (Fenomena Alam)

Adalah hukum tertib yang me-ngatur sebab-sebab terjadinya keselarasan/persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya: terjadinya keajaiban alam seperti bumi bergetar pada waktu seseorang Bodhisatta hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, atau pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi), daya listrik, gerakan gelombang dan sebagainya, termasuk dalam hukum ini.

  • 5. CITTA NIYAMA (Hukum Psikologis)

Adalah hukum tertib mengenai proses jalannya alam pikiran atau hukum alam batiniah, misalnya: proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat-sifat kesadaran, kekuatan pikiran/batin (abhinna), serta fenomena ekstrasensorik seperti telepati, kemampuan untuk mengingat hal-hal yang telah lampau, kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi dalam jangka pendek atau jauh, kemampuan membaca pikiran orang lain, dan semua gejala batiniah yang kini masih belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan modern termasuk dalam hukum ini.

Sabda Sang Buddha; Berpengetahuan luas, berketrampilan, terlatih baik dalam tata susila, bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama.

Dibaca : 4563 kali