x

MENGHINDARI JALAN BERBAHAYA

Abhittharetha kalyane, papa cittam nivaraye.
Dandhanhi karoto punnam, papasmim ramati mano.

Bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan;
barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan.
(Dhammapada, Papa Vagga IX:116)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Penyesuaian Diri

Kehidupan ini serba tidak pasti sehingga mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menghadapinya dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi apa pun yang terjadi. Jika tidak, maka kita akan menjadi korban dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, apa yang dilakukan saat ini adalah sangatlah bijak yaitu berbuat kebajikan dengan kebijaksanaan. Walaupun dalam kondisi covid seperti ini, kita harus bisa menggunakan kesempatan untuk selalu berbuat kebajikan dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. Sang Buddha mengatakan "Bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan; barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan" (Dhammapada, Papa Vagga IX:116). Hal yang sangat penting, ketika keadaan lingkungan kita tidak sehat, maka mental kita jangan sampai ikut sakit. Kita harus menjaga mental atau pikiran untuk selalu berpikir positif, tetap semangat berbuat kebajikan dan tidak kalah penting harus diiringi dengan kebijaksanaan.

Dua Jenis Penyakit

Dalam Anguttara Nikaya, Dukanipatapali, Sang Buddha menyatakan bahwa ada dua jenis penyakit, yaitu: penyakit jasmani dan penyakit batin. Penyakit jasmani ada banyak macamnya, mulai dari penyakit jasmani yang ringan sampai penyakit jasmani yang berat. Penyakit batin adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Dalam Sutta ini dinyatakan “Dalam keseharian bisa ditemukan beberapa makhluk/orang dapat bebas dari penyakit jasmani selama seminggu, dua minggu,... setahun, dua tahun, bahkan mungkin seratus tahun. Tetapi sulit untuk menemukan makhluk/orang yang terbebas dari penyakit batin walaupun hanya sesaat saja”. Sang Buddha juga mengatakan "arogyaparama labha, kesehatan adalah keuntungan yang paling besar" (Dhammapada, XV:204). Dalam hal ini, kesehatan tidak semata-mata berhubungan dengan fisik saja, namun Sang Buddha juga menekankan pada kesehatan secara mental. Batin yang sehat adalah batin yang kaya akan kualitas mental yang baik. Oleh karena itulah kualitas-kualitas mental yang baik adalah harta yang sejati, harta para mulia.

Kekayaan Ariya

Seringkali seseorang melihat dan menilai orang lain hanya dari segi materi. Ketika seseorang hidupnya serba kekurangan akan dipandang sebelah mata dan tidak begitu dihargai. Sebaliknya, mereka yang hidupnya bergelimang harta justru dipuja-puja seperti dewa. Sang Buddha menyatakan “Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi Brahmana (mulia). Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatan pula orang menjadi Brahmana.” (Vasala-Sutta, Sutta-Nipata). Berkaitan dengan hal ini, dalam Anguttara Nikaya, Cakkanipatapali, terdapat percakapan antara Sang Buddha dan Ugga, seorang perdana menteri yang mengabdi pada Raja Migara Rohaneyya. Sebagai abdi raja, Ugga memuji-muji kekayaan materi yang dimiliki oleh Raja Migara di hadapan Sang Buddha. Kepada Ugga, Sang Buddha menjelaskan bahwa kekayaan materi yang dimiliki oleh Raja Migara bukanlah kekayaan sejati, kekayaan materi itu dapat musnah karena: terbakar, kebanjiran, disita oleh pemerintah, dirampok, direbut musuh, dan dihamburkan oleh ahli waris yang tak dicintai. Sang Buddha menjelaskan bahwa ada tujuh kekayaan sejati yang aman dari segala ancaman dan tidak dapat dimusnahkan, yaitu: keyakinan(saddha), kemoralan (sila), malu berbuat jahat(hiri), takut akan perbuatan jahat (ottappa), giat belajar Dhamma (bahusacca), kemurahan hati (caga/dana), dan kebijaksanaan(panna). Ketujuh jenis harta ini, selalu dimiliki oleh orang mulia, yang dampaknya adalah selain kebahagiaan di kehidupan ini juga akan bahagia di kehidupan-kehidupan mendatang dan menuntun pada pembebasan.

Menghindari Jalan Berbahaya

Sang Buddha mengatakan "Bagaikan seorang saudagar yang dengan sedikit pengawal membawa banyak harta, menghindari jalan yang berbahaya, demikian pula orang yang mencintai hidup, hendaknya menghindari racun dan hal-hal yang jahat" (Dhammapada, Papa Vagga, IX:123). Dalamsyair ini dikatakan, seperti halnya para saudagar yang memiliki harta kekayaan yang banyak tentu akan menghindari jalan-jalan yang berbahaya, menghindari rute-rute yang sekiranya membuatnya bisa dicegat oleh para perampok yang akan merampas harta kekayaannya ketika ia melakukan perjalanan. Perampok adalah perumpamaan untuk segala aspek kotoran batin yang setiap saat dapat muncul dan menguasai pikiran, ucapan, dan tindakan badan jasmani kita. Ini adalah perumpamaan yang diberikan oleh Sang Buddha untuk mengingatkan kita semuanya bahwa kita adalah seperti seorang saudagar yang membawa dan memiliki harta kekayaan. Apakah kekayaan kita? Kekayaan tersebut adalah meliputi kualitas-kualitas batin yang positif. Dengan mengembangkan kualitas batin yang positif secara terus-menerus, maka mengondisikan kita memperoleh kekayaan Ariya.

Dalam syair Dhammapada tersebut Sang Buddha mengingatkan kita dan memberikan gambaran bahwa setiap saat kita dapat dikuasai oleh pikiran-pikiran tidak baik yang dapat menyebabkan penderitaan. Agar kita terhindar dari perilaku yang tidak baik, jalan yang berbahaya, maka kita harus selalu mengembangkan perilaku-perilaku yang baik. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan melalui praktik moralitas yang baik, meditasi yang cukup dan tentu mengembangkan batin dengan kebijaksanaan. Sang Buddha mengatakan “Ia yang memiliki sila yang kuat dan mantap, memiliki kebijaksanaan dan konsentrasi, serta bersemangat dan rajin, akan dapat menyeberangi arus yang sukar diseberangi.” (Samyutta Nikaya i.53). Dengan mempraktikkan ketiga hal tersebut akan mampu menjadi pelindung kita dari kotoran batin yang dapat mengacaukan ketenangan, kedamaian dan kualitas-kualitas batin kita. Kalau tidak mempersiapkan diri, maka kita harus siap untuk menderita. Hanya mereka yang memiliki pertahanan yang kokoh yang kemudian akan selalu sadar dan bisa menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak bermaanfaat.

Penutup

Ajaran Buddha membuka pandangan kita bahwa segala sesuatu terjadi karena berbagai sebab, dan salah satunya adalah dari sikap kita sendiri. Ketika terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, walaupun kondisi di luar telah cukup, namun ketika kita tidak mengondisikan diri kita untuk menolak hal tersebut, maka tidak akan menyebabkan penderitaan dalam kehidupan kita. Kondisi batin yang damai dalam menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan adalah kekayaan yang sangat berharga. Mampu menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan merupakan upaya untuk membangun pondasi batin yang kuat. Pondasi batin yang kuat dapat kita bangun melalui praktik moralitas, samadhi, dan pengembangan kebijaksanaan.

Referensi:

  • Bhikkhu Bodhi. 2015. Anguttara Nikaya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha. Jakarta Barat. DhammaCitta Press.
  • Bhikkhu Bodhi. 2010. Samyutta Nikaya. Jakarta Barat. DhammaCitta Press.
  • Wijano, Win. 2012. Dhammapada. Tanpa Kota. Bahussuta Society.

Dibaca : 4995 kali