x

KEYAKINAN BERBUAT KEBAIKAN

Yathapi puppharasimha, kayira malagule bahu
evam jatena maccena, kattabbam kusalam bahum.

Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat karangan bunga,
demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
(Dhammapada, Puppha-Vagga, 53)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Memiliki bekal kebajikan sangatlah penting dalam kehidupan semua makhluk. Kebajikan mampu mengondisikan kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan bagi siapa pun yang memilikinya. Hal tersebut, terjadi sesuai dengan kerjanya hukum kamma, pelaku kebajikan memperoleh kebahagiaan dan pelaku kejahatan memperoleh ketidakbahagiaan. Pengertian mengenai kamma sudah diketahui oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang mengenal ajaran Sang Buddha.

Kadangkala dalam kehidupan dapat kita temukan seseorang yang memiliki sikap tidak peduli terhadap perbuatan baik, meskipun mengetahui pentingnya kebaikan. Adanya ketidakpedulian dan meremehkan cara berbuat baik, dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi tidak terampil dalam kebaikan, justru terampil dalam keburukan. Umpama seperti sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan (Dhp. 121). Selain itu, ada juga yang bersikap sekadar peduli mengenai kebaikan. Hal demikian, bisa terjadi karena minimnya pemahaman Dhamma, sehingga di kala ada kesempatan berbuat baik, ketika dilakukan selalu timbul keraguan, dan hal tersebut dapat menghambat seseorang mengembangkan kebaikan dalam dirinya.

Bagaimana cara menjadi orang baik? “Berbuat baik adalah cara untuk menjadi orang baik”. Tetapi, kenyataan dalam hidup sebagian besar orang merasa sulit untuk dilakukan. Mengapa sulit berbuat baik? Karena setiap orang memiliki 3 akar kejahatan dalam dirinya yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Hal tersebut merupakan bakat terpendam untuk melakukan hal-hal buruk. Bakat ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan sekadar mendengarkan khotbah tentang kebaikan, bukan juga dengan membaca. Namun dengan mempraktikkan pemahaman yang telah dipahami yang diperoleh dari mendengarkan, membaca, dan diskusi baru bakat tersebut dapat dikurangi dan dihilangkan.

Sekadar berbuat baik tidaklah cukup, melainkan harus diiringi dengan keyakinan. Dalam Bala Sutta (Anguttara Nikaya 4:57) dikatakan bahwa dengan memiliki keyakinan ter-hadap hal yang telah direalisasi oleh Sang Buddha, dan meyakini ajarannya sebagai jalan hidup untuk memperoleh kebahagiaan dan kebebasan merupakan salah satu keyakinan terbaik. Keyakinan yang didasari pengertian dapat menjadi dasar awal untuk memperoleh manfaat yang besar ketika berbuat kebaikan. Bahkan di saat seseorang melakukan kebaikan dengan memberi pun ia haruslah berdana dengan penuh keyakinan (danam dadantu saddhaya).

Seperti salah satu kisah mengenai seorang perumah tangga bernama Sumana yang hidup di masa Buddha Gotama. Sumana adalah seorang penjual bunga di Kerajaan Magadha. Setiap hari ia akan datang ke istana dengan membawa 8 ikat bunga untuk Raja Bimbisara, dan memperoleh 8 keping uang sebagai upah yang diterimanya.

Di satu kesempatan ketika ia sedang dalam perjalanan ke istana untuk melakukan pekerjaannya, ia melihat Sang Buddha sedang melakukan pi??apata, dalam dirinya timbul keyakinan terhadap Beliau dan berharap bisa melakukan kebaikan. Melihat pada dirinya tidak membawa sesuatu yang bisa didanakan, ia pun menjadi bingung. Kemudian memandang bunga yang akan dijual ke raja. Ia berpikir untuk mendanakan bunga tersebut, namun kembali dihadapkan pada pilihan antara Sang Buddha ataukah Raja Bimbisara. Jika tidak dibawa ke istana bisa saja dirinya dan keluarganya akan dihukum oleh raja karena melalaikan tugasnya. Tetapi, karena ia memiliki keyakinan kepada Sang Buddha yang dilandasi pengertian, bahwa kebaikan dengan persembahan kepada Tathagata, ia dapat memetik buah dari kebajikan selama berkappa-kappa. Ketika mendatangi Sang Buddha ia pun dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan mempersembahkan bunganya, tanpa memikirkan mengenai akibat dari melalaikan tugasnya kepada raja. Sedangkan Raja Bimbisara setelah mengetahui kebaikan yang dilakukan Sumana, raja memberikan hadiah berupa banyak kekayaan yang dikenal dengan hadiah sabbatthaka (hadiah yang terdiri dari 8x8 benda). Jadi, melakukan perbuatan baik sangatlah penting, terutama kebaikan yang diiringi keyakinan.

Kemudian, lahir sebagai manusia adalah sebuah keberuntungan, karena sebagai manusia seseorang dapat memiliki kesempatan melakukan hal baik untuk menimbun jasa kebajikan. Berbeda halnya, jika terlahir di salah satu 4 alam rendah (apaya bhumi) sulit untuk memiliki kesempatan berbuat baik, karena selalu mengalami penderitaan akibat perbuatan buruk yang dilakukan. Sedangkan, jika terlahir di alam para dewa dan brahma, karena kehidupannya begitu lama dan hanya menikmati kebahagiaan, memungkinkan bagi mereka untuk lupa melakukan hal baik. Maka, beruntunglah hidup sebagai manusia karena terlahir sebagai manusia sangatlah sulit (kiccho manussapatilabho), termasuk menemukan dan mendengarkan ajaran kebenaran adalah sungguh sulit (kiccham saddhammassavanam) (Dhammapada, 182). Apabila kesempatan ini sudah kita miliki, sudah terlahir sebagai manusia, punya kesempatan untuk mendengarkan dan mempelajari Dhamma janganlah disia-siakan. Tetapi gunakanlah untuk melakukan hal baik dengan penuh keyakinan, sehingga mampu untuk tercapainya kebahagiaan yang diharapkan.

Jadi, memiliki bekal kebajikan adalah penting, namun untuk mengumpulkannya sejauh mana kita telah berusaha untuk meraih hal tersebut, seperti yang disebutkan dalam Dhammapada, Puppha-Vagga. 53 “demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini”. Ada banyak hal baik yang dapat kita lakukan di dunia, dan itu adalah kesempatan yang kita miliki sebagai manusia, maka gunakan sebaik mungkin demi memperoleh kebahagiaan dari perbuatan baik yang dilakukan yang didasari keyakinan.

Dibaca : 1512 kali