x

Perumpamaan Tikus (Musika Sutta)

Dhammapiti sukham seti, vipassanena cetasa,
ariyapavadite dhamme, sada ramati pandito'ti.

Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran tenang.
Orang bijak selalu bergembira dengan ajaran para Ariya.

(Dhammapada 79)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Ajaran Sang Buddha atau biasa kita menyebutnya dengan Dhamma, memiliki keindahan dalam tiga sisi, yaitu permulaan atau awal (adhikalyanam), pertengahan (majjhekalyanam), dan akhir (pariyosanakalyanam).

Tiga Aspek Dhamma

  • Aspek Teori atau Pariyatti Dhamma

Belajar Dhamma secara teori dapat dilakukan dengan cara membaca buku-buku Dhamma, mendengarkan pembabaran Dhamma (Dhammasavana), dan diskusi Dhamma (Dhammasakaccha).
Dewasa ini buku-buku Dhamma sudah banyak beredar, baik dalam bentuk buku Dhamma cetak maupun buku Dhamma elektronik (e-book), baik itu buku Dhamma praktis maupun buku Dhamma yang berisikan sutta-sutta, khotbah Sang Buddha.
Buku Dhamma dalam bentuk cetak bisa kita cari di bursa-bursa vihara, sedangkan buku Dhamma elektronik tinggal kita unduh ke dalam smartphone ataupun laptop kita.
Saat ini masa pandemi, kegiatan puja bakti tatap muka di vihara untuk sementara ditiadakan, ataupun diadakan tetapi dengan pembatasan jumlah kehadiran umat Buddha.
Pengurus vihara berusaha memfasilitasi keadaan ini dengan melakukan siaran langsung kegiatan puja bakti, sehingga bagi umat Buddha yang tidak bisa hadir bisa menyimak kegiatan puja bakti dan dhammadesana melalui siaran langsung aplikasi media sosial yang digunakan. Gunakanlah kesempatan untuk belajar Dhamma ini dengan sebaik-baiknya agar wawasan pengetahuan kita tentang ajaran Sang Buddha semakin bertambah.

  • Aspek Praktik atau Patipatti Dhamma

Setelah kita memahami Dhamma secara teori, pada tahap selanjutnya adalah kita mempraktikkan Dhamma yang telah kita pelajari itu dalam keseharian kita sebagai umat Buddha. Teori tentang dana yang sudah dipahami mari kita praktikkan, lakukan aktivitas bajik berdana secara rutin tidak hanya sewaktu-waktu. Sila yang sudah dipahami dilaksanakan, utamanya bagi perumah tangga, upasaka-upasika adalah pancasila Buddhis, dan atthasila. Bilamana ada waktu luang bisa meningkatkan latihan silanya menjadi dasasila dengan mengikuti pabbajja samanera sementara, dan melatih bhikkhusila dengan mengikuti pabbajja upasampada yang bersifat temporer.
Demikian juga dengan teori meditasi yang sudah dipelajari hendaknya dipraktikkan baik itu meditasi samatha maupun meditasi vipassana.

  • Aspek buah, hasil, pahala atau Pativedha Dhamma

Dari teori dan praktik Dhamma yang dijalani, maka ada muncul buah atau pahala. Upaya sekarang dalam belajar dan praktik Dhamma dapat memancing timbunan potensi parami yang kita miliki, pahala tertinggi dari belajar dan melaksanakan Dhamma adalah terealisasinya tingkat-tingkat kesucian; sotapanna, sakadagami, anagami, dan arahat.
Tetapi jika itu belum tercapai, setidaknya dari belajar dan praktik Dhamma yang kita lakukan dapat membuat batin kita lebih maju, berkembang menuju batin yang dewasa dan bijak dalam menyikapi fenomena kehidupan.
Batin yang bijaksana tidak mudah terpengaruh oleh kondisi dunia. Bila muncul kondisi dunia yang tidak menyenangkan/dukkha, batin yang bijaksana tidak mudah frustasi atau putus asa. Bila muncul kondisi dunia yang menyenangkan/sukha, batin yang bijaksana tidak larut atau terlena. Batin yang bijaksana memahami bahwa apa pun yang muncul, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan punya sifat yang sama, yaitu pasti berlalu.

Perumpamaan Tikus
Dalam Musika Sutta yang terdapat pada Kitab Suci Anguttara Nikaya Kelompok Empat, Sang Buddha mengumpamakan bahwa sikap dan perilaku kita dalam belajar dan praktik Dhamma seperti tikus. Ada empat macam tikus yang dijelaskan dalam sutta ini, yaitu:

  • Tikus menggali lubang, namun tidak tinggal di dalam lubang.
  • Tikus hidup di dalam lubang, tetapi ia tidak menggali lubang tersebut.
  • Tikus tidak menggali lubang dan tidak hidup di dalam lubang.
  • Tikus menggali lubang dan tinggal di dalam lubang.

Apakah maksud dari perumpamaan ini?

  • Ada umat Buddha yang gemar dalam belajar Dhamma, tetapi minim dalam praktik Dhamma, umat ini hanya senang dengan teori-teori Dhamma, tetapi dalam pelaksanaannya dia tidak melakukan apa pun untuk dipraktikkan. Teori dana, sila, bhavana dikuasainya, tetapi terapannya sama sekali tidak ada.
  • Ada umat Buddha minim pengetahuan Dhamma, teori tentang dana, sila, bhavana hanya dia ketahui sedikit, tetapi dalam keseharian dia berusaha dan berjuang dalam menerapkan praktik Dhamma yang meskipun teorinya hanya dia ketahui sedikit.
  • Ada umat Buddha yang tidak mau, malas untuk belajar Dhamma apalagi dalam hal praktik, ia sama sekali tidak melakukan apa pun dalam hidupnya.
  • Ada umat Buddha yang belajar Dhamma sekaligus juga melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan
Memahami betapa besarnya manfaat belajar dan melaksanakan Dhamma, maka marilah kita sebagai umat Buddha segera bergegas melakukannya agar kita tertuntun menuju pada kebahagiaan di kehidupan ini, kehidupan akan datang, dan tertuntun menuju pada kebahagiaan sejati, padamnya dukkha.

Sumber:

  • Kitab Suci Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, Juli 2019
  • Kitab Suci Anguttara Nikaya, Dhammacitta Press, 2015

Dibaca : 828 kali