x

Menjadi Seorang Pubbakari dan Ber-katannukatavedi di Masa Pandemi

Ovadeyyanusaseyya, asabbha ca nivaraye.
Satanhi so piyo hoti, asatam hoti appiyo.

Biarlah ia memberi nasihat, petunjuk, dan melarang apa yang tidak baik, orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang baik dan dijauhi oleh orang yang jahat.

(Dhammapada, Pandita Vagga:77)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Hari ini Minggu tanggal 4 Juli 2021, artinya satu bulan lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan negara kita tercinta. Kita perlu mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan para pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih, meninggalkan keluarga yang dicintai, melepaskan keegoisan (kesenangan-kesenangan) pribadi, hanya demi satu tujuan dan tekad yang mulia, agar bangsa dan negara tercinta Indonesia bebas dari belenggu penjajahan. Negara kita sudah lama merdeka karena para pahlawan bangsa berhasil melawan para penjajah. Namun, saat ini negara kita dan negara-negara lainnya memiliki masalah yang sama yaitu sedang berjuang melawan virus covid-19 yang saat ini melanda dunia. Virus covid-19 ini sudah hampir dua tahun lamanya telah mengondisikan munculnya berbagai masalah bagi negara di dunia. Banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan dan tidak sedikit orang meninggal dunia oleh virus tersebut. Orang-orang yang menjadi korban juga berasal dari para tenaga kesehatan. Ketika bangsa kita dijajah, para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Saat ini ketika negara terserang virus covid-19, maka kita semua elemen masyarakat harus mendukung pemerintah dan para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan, semua berjuang bersama untuk menyelesaikan masalah ini, dan mereka juga adalah pahlawan.

Orang Yang Sukar Ditemukan
Virus covid-19 saat ini menyebabkan semakin banyak korban. Hal ini juga disebabkan karena masih banyaknya masyarakat yang kurang peduli terhadap protokol kesehatan. Ketika masih banyaknya orang yang lalai terhadap aturan, maka menjadi gambaran bahwa banyak orang yang tidak menghargai jasa dari orang-orang yang berjuang menangani masalah ini. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah yang seharusnya diperbuat? Di alam kehidupan yang nyata ini, kalau kita mau mengakuinya dengan sejujurnya, sebenarnya terdapat dua tipe manusia yang sungguh sukar diketemukan yaitu seseorang yang punya inisiatif melakukan kebaikan (pubbakari) dan seseorang yang tahu rasa terima kasih terhadap kebaikan orang lain (katannukatavedi). Dalam Anguttara Nikaya I:87, Sang Buddha mengatakan "Para bhikkhu, kedua jenis individu ini adalah jarang di dunia ini. Siapakah dua ini? Seseorang yang berinisiatif dalam menolong orang lain dan seorang yang bersyukur dan berterima kasih. Kedua jenis individu ini adalah jarang di dunia ini.”.

Pubbakari
Dalam kehidupan ini harus diakui bahwa tidak banyak orang yang memiliki sifat seorang pubbakari. Umumnya, seseorang baru akan melakukan sesuatu (menolong), terutama sekali kepada saudaranya atau seagama, sesuku dan sealiran dengannya, jika suatu hari kelak memberikan manfaat (imbalan) bagi dirinya. Sulitnya seseorang memiliki sifat pubbakari ini, umumnya dikarenakan kuatnya keegoisan dan kemelekatan yang membelenggu batin seseorang. Sang Buddha menyatakan "Orang yang dicengkram oleh keinginan yang dipenuhi oleh racun keduniawian, kesedihannya akan terus berkembang biak, bagaikan rumput birana yang berkembang subur" (Dhammapada, Tanha Vagga XXIV: 335). Untuk itu, demi kebaikan bersama kita perlu menumbuhkan kesadaran diri atau memiliki inisiatif untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik (pubbakari).
Manusia yang disebut sebagai pubbakari adalah mereka yang memiliki inisiatif untuk berbuat baik dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain tanpa diiringi dengan kemelekatan ataupun imbalan sedikit pun. Dalam kondisi saat ini, memiliki sifat pubbakari adalah sangat penting. Hal ini sebagai cara untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Orang-orang memiliki inisiatif yang baik dalam mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah yang manfaatnya selain menolong diri sendiri juga menolong orang lain. Dampak dari covid-19 tidak hanya berhubungan dengan masalah kesehatan, namun juga ekonomi.
Banyak orang-orang yang harus kehilangan pekerjaan sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-sehari. Oleh karena itu, ini menjadi kesempatan yang baik untuk membantu mereka tanpa mengharap imbalan.

Katannukatavedi
Umumnya orang-orang sulit untuk menghargai dan berterima kasih terhadap kebaikan orang lain. Yang sering menjadi alasan mengapa seseorang bersikap seperti itu karena mereka hanya melihat kejelekan orang lain. Ada peribahasa mengatakan gajah di pelupuk mata tidak tampak, tetapi semut di seberang lautan tampak jelas. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seseorang lebih mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi kesalahan diri sendiri sulit untuk dilihat. Seseorang dapat menunjuk-kan kesalahan-kesalahan orang lain seperti menampi dedak tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik, yang menyembunyikan dadu berangka buruk. Memiliki rasa terima kasih (katannukatavedi) terhadap kebaikan orang lain, walaupun dia pernah melakukan kesalahan adalah sangat penting. Kita perlu merenungkan bahwa saat ini sulit menemukan orang yang sempurna.
Dalam kondisi sekarang ini sebagai manusia, sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada orang-orang yang berjuang dalam menangani masalah di negara kita termasuk covid-19 yang terjadi saat ini. Wujud terima kasih yang sewajarnya dilaksanakan adalah dengan mematuhi anjuran protokol kesehatan dari pemerintah dan ikut serta mendukung negara dan bangsa ini melalui tindakan-tindakan positif lainnya, misalnya; kita jaga perdamaian dan hindari perpecahan serta kreatif di dalam menciptakan ide-ide persatuan. Kita harus berusaha menyokong dan membantu setiap kebijaksanaan dan program pemerintah, agar cita-cita luhur untuk meraih keadilan dan kemakmuran yang merata, bisa terealisasikan. Ini wujud dari ungkapan terima kasih yang seharusnya diterapkan.


Penutup
Sudah tidak dapat dihitung berapa banyak orang yang kita jumpai dan mereka semua memiliki sifat yang beragam. Dari sekian banyak orang yang kita jumpai tidak banyak dari mereka yang memiliki sifat seorang pubbakari dan katannukatavedi. Orang yang memiliki sifat pubbakari dan katannukatavedi adalah orang yang langka yang ada di dunia ini. Oleh karena itu marilah kita melatih diri menjadi bagian dari orang-orang yang sedikit tersebut. Marilah kita berinisiatif dalam melakukan kebajikan dan tahu rasa terima kasih terhadap budi baik orang lain.

Referensi

  • Bhikkhu Bodhi. 2015. Anguttara Nikaya, Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha. Jakarta Barat. DhammaCitta Press.
  • Wijano, Win. 2012. Dhammapada. Tanpa Kota. Bahussuta Society.

Dibaca : 2442 kali