x

MENGATASI KEBENCIAN

Na hi verana verani, sammantidha kudacanam.
Averena ca sammanti, esa dhammo sanantano.

Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi.

(Dhammapada, Yamaka Vagga 5)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Kemarahan menjadi salah satu faktor mental yang mampu merusak dan menghasut siapa saja yang dipengaruhi. Selain itu dapat memicu rasa tegang, wajah memerah, darah seolah mengalir deras, dan sebagainya. Ketika batin seseorang dikuasai kemarahan, sulit baginya untuk melihat masalah yang terjadi. Hal demikian, disebabkan karena pikirannya yang didominasi oleh pikiran yang negatif, sehingga logikanya tidak berfungsi dengan baik. Selain menyebabkan sakit mental, kemarahan yang berlangsung dapat mempengaruhi kondisi jasmani. Dalam sebuah tulisan tentang the healing and disease, marah atau dendam menyebabkan imunitas tubuh mati. Di situlah awal segala penyakit muncul, seperti kolesterol tinggi, darah tinggi, jantung, rematik, arthritis, stroke, dan lainnya. Dosa carita, itulah kata yang cocok dalam bahasa Pali untuk menggambarkan orang yang memiliki sifat pemarah.

Jika seseorang tidak dapat mengendalikan kemarahan, maka dia yang akan dikendalikan oleh kemarahan, seperti sebuah racun yang bersemayam di pikiran dan mempengaruhi jasmani ketika kemarahan muncul.

Penyebab Kemarahan

Kemarahan sekecil apa pun kadarnya muncul karena faktor fisik atau mental. Marah yang dipicu oleh faktor fisik misalnya karena kerja berlebihan, kelelahan, perubahan hormon dalam tubuh seperti wanita yang mengalami menstruasi atau ketika tubuh kekurangan cairan/dehidrasi yang tidak diimbangi dengan meminum air, hal-hal tersebut memungkinkan seseorang untuk lebih cepat marah. Semua itu adalah contoh dari faktor fisik yang dapat menimbulkan kemarahan. Kemudian kemarahan yang dipicu oleh mental; misalnya tersinggung, memiliki konsep diri yang salah seperti rasa minder, atau selalu merasa direndahkan. Sombong dan egois juga menjadi penyebab kemarahan, dan sebagainya.

Kemarahan juga dapat dipicu ketika seseorang memiliki trauma terhadap suatu hal, salah satunya adalah trauma masa kecil. Hal ini tentu dapat disebabkan oleh beberapa hal, baik karena perlakuan kasar dan perangai orangtua yang pemarah, perceraian orangtua, termasuk perlakuan kasar dari orang lain. Pada dasarnya peran orangtua kepada anaknya memiliki peran penting bagi perkembangan emosinya. Jadi untuk memiliki kepribadian yang diinginkan perlu memperhatikan banyak hal, sehingga dapat menumbuhkan mental yang sehat.

Berbicara mengenai kemarahan, seseorang tentunya tidak ingin kehidupannya diracuni oleh kemarahan, terutama bagi seseorang yang sudah tertanam dalam batinnya akan menjadi candu dan akan mudah muncul di permukaan ketika ada pemicunya. Oleh karena itu kita perlu mengatasi kemarahan tersebut. Dalam Aghatapativinaya 1 (AN 5.161), Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu ada 5 cara untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun; (1) ia harus me-ngembangkan cinta kasih terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal, (2) ia harus mengembangkan belas kasihan terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal, (3) ia harus mengembangkan keseimbangan batin terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal, (4) ia harus mengabaikan orang yang kepadanya ia merasa kesal dan tidak memperhatikannya, (5) ia harus menerapkan gagasan kepemilikan kamma pada orang yang kepadanya ia merasa kesal.

Kelima poin yang ada dalam Aghatapativinaya Sutta dapat dijadikan sebagai cara untuk mengurangi kebencian yang menghasilkan kemarahan yang timbul dalam diri. Bagi seseorang yang merasa bahwa kemarahan itu mengganggu kehidupannya, maka dia akan berusaha untuk mengambil salah satu latihan untuk mengatasi kemarahannya. Mengingat kemarahan memiliki dampak besar bagi batin dan jasmani, seyogianya kita harus melepaskan diri dari cengkraman kemarahan. Ingat manifestasi kemarahan adalah alam rendah. Jika seseorang meninggal dalam kondisi batin diliputi kemarahan memungkinkan terlahir di alam yang rendah, salah satunya adalah niraya. Orang yang hidup dalam kemarahan akan dibakar dua kali, saat hidup dibakar api kemarahan, setelah meninggal terlahir di alam yang rendah. Kalaupun seandainya terlahir menjadi manusia, dia akan memiliki paras yang buruk. Seperti cerita dalam Anguttara Nikaya IV, 197, di mana seorang ratu yang bernama Mallika memiliki wajah yang buruk. Hal itu terjadi karena Mallika di kehidupan sebelumnya mudah sekali marah dan tersinggung, akibatnya di kehidupan ini dia menjadi buruk rupa. Tapi karena dia suka berderma, maka dia terlahir menjadi seorang ratu.

Marilah kita atasi kemarahan dengan menerapkan hal yang telah disampaikan oleh Sang Buddha dalam Aghatapativinaya Sutta. Kita dapat memakai salah satu latihan yang sesuai dengan diri sendiri. Dengan berlatih secara konsisten, diharapkan kemarahan dapat diatasi.

Referensi:

  • Kitab Suci Dhammapada. 2013. Bahussuta Society.
  • Nyanaponika & Bodhi. 2003. Petikan Anguttara Nikaya Kitab Suci Agama Buddha. Klaten: Vihara Bodhiva?sa Wisma Dhammaguna.

Dibaca : 3999 kali