x

Memanfaatkan Kesempatan Dengan Tepat

Anavajjani kammani etammangalamuttamanti

Tidak melakukan pekerjaan tercela, itulah berkah utama.

(Mangala Sutta)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pendahuluan

Kesulitan dalam hidup dapat dialami oleh siapa pun dan di mana pun. Ketika hal itu terjadi, janganlah cepat berputus asa dan menyerah, karena masih ada kesempatan untuk berubah. Sebagai modal awal untuk perubahan, maka seseorang dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dengan tepat. Untuk dapat bertahan dalam kondisi sulit, setiap orang dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Itulah, usaha yang perlu dilakukan untuk mengubah kondisi sulit menjadi lebih baik. Selanjutnya, semangat untuk mengatasi kesulitan yang muncul juga perlu ditingkatkan. Dengan melakukan cara yang tepat dan bijak, maka harapan dan peluang untuk bangkit dari kesulitan pun semakin besar.

Selain itu, dalam menghadapi permasalahan dan kesulitan hidup, seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya, maupun dari pengalaman orang lain. Apabila pernah melakukan kesalahan yang menjadi pengalaman buruk, maka ia dapat menghindarinya. Ketika pengalaman yang baik pernah dialami, maka ia dapat mempertahankannya ataupun dapat mengembangkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, bagi orang yang ingin mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, maka ia dapat berjuang dengan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Dengan bersemangat dan mau berusaha untuk melakukan perbuatan baik yang bermanfaat, maka perkembangan dan kemajuan yang diharapkan dapat tercapai.

Memanfaatkan kesempatan dalam keadaan sulit

Selalu ada harapan untuk bangkit dari kesulitan, ketika kesulitan yang dialami itu tidak dianggap sebagai kegagalan total. Justru pada saat itulah, diperlukan semangat untuk bangkit dan berusaha menghadapi kesulitan dengan tepat. Dengan pola pikir yang baik itulah, maka seseorang dapat mengalami kemajuan dalam hidupnya. Hal penting lainnya yaitu keterampilan dan pengetahuan dalam memanfaatkan peluang dan kesempatan tersebut. Selain itu, kemauan untuk mencoba dan semangat dalam menghadapi situasi yang baru juga patut dilatih. Dengan demikian, kesulitan yang dialami dapat diatasi dengan baik dan tepat.

Namun, tidak semua orang mampu memanfaatkan peluang dan kesempatannya dengan baik. Hal itu dapat disebabkan oleh pola pikir yang pesimis, mudah menyerah, tidak mau berusaha, dan kurangnya pengetahuan. Tentu, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi dan mengatasi kesulitannya, dikarenakan sikap dan cara berpikir yang berbeda pada masing-masing orang. Perbedaan tersebut dijelaskan dalam Anguttara Nikaya, Tamotama Sutta(AN.4:85; kegelapan) mengenai empat jenis orang yang terdapat di dunia sebagai berikut;
“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Seorang yang mengarah dari gelap menuju gelap, seorang yang mengarah dari gelap menuju terang, seorang yang mengarah dari terang menuju gelap, dan seorang yang mengarah dari terang menuju terang”.

  • Gelap menuju gelap (tamo tamaparayano) dan menuju terang (tamo jotiparayano)

“Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang yang mengarah dari gelap menuju gelap? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga rendah, keluarga can?ala, pekerja bambu, pemburu, pembuat kereta, atau pemungut bunga, seorang yang miskin, dengan sedikit makanan dan minuman, yang ber-tahan hidup dengan susah-payah, di mana makanan dan pakaian diperoleh dengan susah-payah; dan ia buruk rupa, berpenampilan buruk, cebol, dan banyak penyakit, buta, pincang, timpang, atau lumpuh. Ia tidak memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan, kalung bunga, wangi-wangian, dan salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan.

  • Ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dalam sepuluh perbuatan buruk yaitu; “membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, hubungan seksual yang salah, berbohong, ucapan memecah belah, ucapan kasar, bergosip, kerinduan, niat buruk, dan pandangan salah.” (AN.10:178). Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari gelap menuju gelap”.
  • Sedangkan, ia yang melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dengan melakukan sepuluh perbuatan baik yaitu: “menghindari membunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, menghindari ucapan memecah-belah, menghindari ucapan kasar, menghindari bergosip, tanpa kerinduan, niat baik, dan pandangan benar.” (AN.10:178). Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari gelap menuju terang”.
  • Terang menuju gelap (joti tamaparayano) dan menuju terang (joti jotiparayano)

“Dan bagaimanakah seorang yang mengarah dari terang menuju gelap? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga tinggi, keluarga khattiya yang makmur, keluarga brahmana yang makmur, atau keluarga perumah tangga yang makmur, seorang yang kaya, dengan harta dan kekayaan besar, dengan emas dan perak berlimpah, dengan pusaka dan kepemilikan berlimpah, dengan kekayaan dan panen berlimpah; dan ia rupawan, menarik, anggun, memiliki kecantikan sempurna. Ia memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan.

  • Ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dalam sepuluh perbuatan buruk yaitu; “membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, hubungan seksual yang salah, berbohong, ucapan memecah belah, ucapan kasar, bergosip, kerinduan, niat buruk, dan pandangan salah.” (AN.10:178). Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari terang menuju gelap”.
  • Sedangkan, ia yang melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dengan melakukan sepuluh perbuatan baik yaitu; “menghindari mem-bunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, menghindari ucapan memecah-belah, menghindari ucapan kasar, menghindari bergosip, tanpa kerinduan, niat baik, dan pandangan benar.” (AN.10:178). Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari terang menuju terang. “Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”

Dari penjelasan sutta di atas, dapat dilihat perbedaan keempat jenis orang dalam memanfaatkan kesempatannya. Ada orang yang melakukan perbuatan buruk yang merugikan, walaupun dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan nyaman yang mengakibatkan penderitaan. Sedangkan orang yang melakukan perbuatan baik dan bermanfaat, walaupun dalam kondisi sulit maupun dalam kondisi nyaman yang mengakibatkan kebahagiaan. Setelah melihat perbandingan itulah, maka seseorang dapat memilih cara yang tepat dan sesuai dalam mengatasi kesulitan hidupnya. Dengan demikian, manfaat besar dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang dapat tercapai.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa seseorang tetap mempunyai kesempatan untuk berkembang dan maju dalam hal-hal yang bermanfaat dan luhur. Walaupun dalam keadaan sulit dalam hidupnya, namun tidak berputus asa dan tidak mudah menyerah. Semangat untuk bangkit dari kesulitan itulah yang dapat mendukung tercapainya perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Dengan semangat dan kemampuan yang dimiliki dalam memanfaatkan peluang yang ada, maka kesempatan untuk perubahan hidup yang lebih baik dapat diperoleh. Oleh karena itu, untuk terbebas dari kesulitan, maka seseorang patut menggunakan cara yang tepat dalam memanfaatkan kesempatannya, sehingga keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup dapat tercapai dengan maksimal.

Janganlah seperti orang yang dari keadaan gelap (dalam keadaan sulit) menuju gelap, atau dari terang (keadaan nyaman) menuju gelap. Tetapi, jadilah orang yang menuju terang walaupun dalam keadaan sulit maupun saat hidup nyaman. Semoga dari apa yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, semoga dapat dipahami dengan baik, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita semakin bijak dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sedang dialami. Dengan demikan, manfaat dan keberhasilan dalam hidup dapat tercapai. Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Referensi:

  • Anguttara Nikaya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, Alih Bahasa: Indra Anggara. (2015). Jakarta Barat: Dhammacitta Press.

- Paritta Suci Kumpulan Wacana Pali untuk Upacara Puja, Bhikkhu Dhammadhiro Mahathera (Penyaji), Indonesia (Edisi III Pembaruan 2019). Sangha Theravada Indonesia.

Dibaca : 2616 kali