x

DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA (Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Asalha dalam bahasa Pali atau Asadha dalam bahasa Sansekerta adalah nama bulan yang bersamaan dengan bulan Juli. Bulan purnama dalam bulan Asadha adalah hari yang penting dalam sejarah kehidupan Buddha Gotama.
Pada hari Asadha ini lebih dari 2500 tahun yang lalu, Buddha mengajarkan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, kepada lima orang petapa yang bernama Kondanna, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji. Pengajaran tersebut yang diberi nama Dhammacakkappavattana Sutta, Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma, yang menyebabkan lima petapa mencapai tingkat kesucian Sotapanna; Kondanna yang pertama kali mencapai kesucian disusul dengan yang lainnya. Mereka semuanya mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah mendengar khotbah kedua, yaitu Anattalakkhana Sutta atau Khotbah tentang Tanpa Diri, lima bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Arahat.
Peristiwa penting lain pada hari Asadha yaitu terbentuknya Ariya Sangha yang terdiri dari enam orang suci, yaitu Buddha dan lima bhikkhu. Sejak saat itu lengkaplah sudah Tiratana atau Tiga Permata yang terdiri dari Buddharatana, Dhammaratana, dan Sangharatana. Demikian pula Tisarana atau Tiga Perlindungan sudah lengkap, yaitu Perlindungan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Khotbah dimulai dengan penjelasan tentang dua cara ekstrim yang harus dihindari oleh petapa, yaitu:

  1. mengumbar nafsu indriya (kamasukhallikanuyoga), dan
  2. menyiksa diri (attakilamathanuyoga)

Jalan Tengah yang terhindar dari kedua jalan ekstrim itu, yang telah sempurna diselami oleh Sang Tathagata, membuka mata batin, menimbulkan pengetahuan, membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbana. Jalan Tengah yang dimaksud adalah Jalan Mulia berunsur delapan (Ariya Atthangika Magga), yang terdiri dari:

      1. Pandangan Benar (samma ditthi)
      2. Pikiran Benar (samma sankappa)
      3. Ucapan Benar (samma vaca)
      4. Perbuatan Benar (samma kammanta)
      5. Penghidupan Benar (samma ajiva)
      6. Usaha Benar (samma vayama)
      7. Perhatian Benar (samma sati)
      8. Konsentrasi Benar (samma samadhi)

Kemudian Buddha menjelaskan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, yakni:
I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha.
Kelahiran, usia tua, kematian, ratap tangis, penderitaan jasmani, kepedihan hati, kekecewaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang disenangi, tidak mendapat apa yang diinginkan adalah dukkha.
II. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha.
Kesenangan (tanha), inilah yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek di sana sini, yakni: kamatanha (kesenangan terhadap nafsu inderawi), bhavatanha (kesenangan terhadap kemenjadian), dan vibhavatanha (kesenangan terhadap ketidakmenjadian).

  1. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha.

Musnahnya kesenangan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya kesenangan, terbebas dari kesenangan, tak terikat oleh kesenangan.

  1. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.

Jalan menuju musnahnya dukkha adalah Jalan Mulia berunsur Delapan, yaitu Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar.
Empat Kebenaran Mulia itu dijelaskan oleh Sang Tathagata dalam Tiga Tahap dan Dua Belas Ciri Pandangan. Tiga tahap itu adalah:

  1. pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia (sacca nana),
  2. pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan tentang Empat Kebenaran Mulia (kicca nana), dan
  3. pengetahuan mengenai apa yang telah dilakukan dengan Empat Kebenaran Mulia itu (kata nana).

Dari Tiga Tahap Pengetahuan, maka Empat Kebenaran Mulia dijelaskan dalam Dua Belas Ciri, yaitu:
I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha.

  1. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Dukkha.
  2. Kebenaran Mulia tentang Dukkha patut dipahami (parinneyya).
  3. Kebenaran Mulia tentang Dukkha telah dipahami (parinnata).

II. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha.

    1. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha.
    2. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha patut dihindari (pahatabba).
    3. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha telah dihindari (pahina).
        1. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha.
    4. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha.
    5. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha patut dicapai (sacchikatabba).
    6. Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha telah dicapai (sacchikata).
  1. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.
    1. Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha.
    2. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha patut dikembangkan (bhavetabba).
    3. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha telah dikembangkan (bhavita).

Ketika pemahaman terhadap pengetahuan sebagaimana yang sebenarnya (yathabhuta nanadassana) tentang Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari tiga tahap dan dua belas ciri yang ada pada Sang Tathagata telah sempurna, maka pada saat itu Sang Tathagata menyatakan diri sebagai orang yang mencapai Penerangan Sempurna, nan tiada bandingnya di dunia, di alam dewa, alam mara, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samana, brahmana, dewa, dan manusianya. Timbullah dalam diri Sang Tathagata pengetahuan dan pengertian, ”Tak tergoncangkan kebebasan batin-Ku. Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi.”
Setelah mendengar sabda Sang Bhagava, lima petapa tersebut merasa puas dan bersuka cita atas sabda Sang Bhagava.
Ketika Roda Dhamma (Dhammacakka) diputar oleh Sang Bhagava, di Taman Rusa Isipatana, dekat kota Baranasi, yang tak dapat dihentikan oleh para samana, brahmana, dewa, mara, brahma, atau siapa pun juga di dunia, seketika itu juga kabar gembira ini tersebar ke alam Dewa Catummaharajika, Tavati?sa, Yama, Tusita, Nimmanarati, Paranimittavasavatti, hingga para dewa yang bersemayam di alam brahma.
Demikian pada saat itu juga, suara berkumandang hingga menembus ke alam brahma. Serentak sepuluh ribu tingkat alam berguncang, bergetar, bergoyah, dan sinar gilang-gemilang yang tiada taranya muncul di dunia melebihi kemampuan cahaya kedewaan.

Sumber: Book of the Kindred Sayings (Samyutta Nikaya) jilid 5 halaman 356

Dibaca : 4152 kali